Bab 12 Meniduri Tanpa Tanggung Jawab?

Franklin meletakkan barang-barang di tangannya, menegakkan tubuhnya dan menatap Emily lekat dengan matanya yang dalam, "Emily, berapa usiamu?"

Emily yang ditatap seperti itu tanpa sadar menjadi patuh. Berdiri tegak dan menjawab, "22 tahun."

Tatapan Franklin terlihat puas, suaranya yang sangat indah namun terdengar serius, "Sebagai orang dewasa, kamu harus bertanggung jawab atas semua tindakanmu. Emily, kamu sudah meniduri seseorang masa kamu tidak mau bertanggung jawab?"

"Kamu, apa yang kamu katakan?" Emily terkejut dengan cara bicaranya yang lugas.

Namun kelihatannya Franklin memang tidak berniat untuk meladeninya, dia berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi.

......

Emily keluar dari kamar tidur setelah menggantung pakaiannya.

Dia berjalan dengan langkah ringan ke ruang tamu.

Dia mengira bahwa dia tidak mengganggu kegiatan pria yang sedang berada di dapur. Sayangnya, Franklin tiba-tiba berbalik untuk menatap Emily dan berkata dengan serius, "Aku tidak pandai memasak makanan Asia, malam ini kita makan makanan Western."

Pria ini bahkan memiliki mata di punggungnya!

"Apa saja boleh." Emily mengangguk sampai pegal, orang yang tidak bisa memasak tidak punya hak untuk memilih-milih makanan!

Franklin mengangguk dengan puas.

Emily berdiri di depan pintu dapur dan menatap ke dalam.

Setelah seharian bersama dengannya, Emily merasa ada yang aneh dengan Franklin.

Ketika dia sedang menggantung pakaian, dia berusaha memperhatikan dengan seksama. Walaupun label harganya telah dilepas, tetapi merk pakaiannya masih dapat terlihat. Barang-barang yang dia beli itu, total harganya lebih dari 100.000 dolar jika dikumpulkan jadi satu.

Emily sempat mengira Franklin tidak punya uang, tetapi kelihatannya dia juga bukan orang yang pelit.

Mungkin Franklin memang bukan berasal dari keluarga kaya, tetapi penampilannya terlihat begitu elegan dan auranya sangat kuat. Sedikit pun tidak mencerminkan bahwa dia adalah orang yang bisa memasak.

Namun setelah melihat gerakannya saat memasak yang begitu terampil, kelihatannya dia sudah sering melakukan hal ini.

Tidak satu pun dari anak-anak dari keluarga kaya yang dikenal Emily yang bisa memasak di dapur.

Setelah mempertimbangkannya, Emily menebak bahwa Franklin ini kemungkinan adalah seorang pebisnis.

Keterampilan memasak Franklin ternyata sangat baik, Emily makan dengan lahap. Setelah selesai makan, dia segera membawa piring-piring kotor ke dalam dapur dan berniat untuk mencucinya.

Franklin mendengarkan suara dentingan piring dari dalam dapur, mengerutkan keningnya sambil berjalan ke pintu dapur, "Kamu bisa?"

Emily yang keras kepala itu menjawab tanpa menoleh padanya, "Memangnya kamu kira cuma kamu yang bisa? Cuma cuci piring kan!"

Setelah mengatakannya, Emily menjadi sedikit kurang percaya diri. Meski hubungannya dengan Keluarga Su tidak terlalu harmonis, tetapi dia tidak perlu sampai mencuci piring. Beberapa tahun tinggal di luar negeri, dia belum belajar masak sama sekali karena terlalu sibuk dengan sekolahnya.

Alis Franklin yang indah itu perlahan merenggang dan terlihat lebih santai, dia mengangguk, "Hmm, terima kasih atas pengertian Nona Emily."

Setelah itu, dia berbalik dan pergi.

Pengertian? Pengertian dari mananya?

Setelah Emily selesai mencuci piring, dia membereskan dapur dengan hati-hati.

Hari ini Franklin sempat terganggu ketika Emily menyebutkan tentang perceraian dan membuat Emily tidak berani untuk membahasnya lagi. Dia tidak ingin terlihat begitu tidak tahu malu.

Tanggung jawab setelah meniduri? Memangnya siapa yang lebih dirugikan pada akhirnya!

Kemarin malam, memang dia dan Franklin secara tidak sadar telah melakukan hal yang seharusnya tidak pernah terjadi. Namun pagi ini, mereka berdua pergi dalam keadaan sadar untuk meregistrasikan pernikahan mereka..

Setelah menimbang-nimbang, Emily berpikir untuk tidur di ruang tamu saja. Mata Emily menyapu ke arah sofa dan dengan enggan berjalan mengendap-endap bagai pencuri ke arah pintu kamar.

Dia mendorong pintu kamar dengan lembut dan perlahan sampai terbuka.

Di dalam kamar hanya lampu samping tempat tidur yang menyala, Franklin yang memakai jubah mandi longgar sedang duduk di atas sofa tunggal sambil berbicara di telepon. Tubuhnya yang disinari oleh cahaya lampu, membuatnya terlihat begitu lembut. Aura dingin dari tubuhnya untuk sementara waktu seakan menghilang.

Melihat Emily berdiri di pintu, Franklin membawa ponselnya dan berjalan ke hadapannya. Tidak terlihat emosi apa pun di wajah itu, bahkan seperti tidak menyadari kegelisahan dalam diri Emily.

Suaranya masih begitu jelas dan enak didengar, "Aku perlu mengangkat telepon. Setelah selesai mandi, kamu tidur duluan saja."