Bab 11 Besok Kita Urus Perceraian

Emily mengikuti arah tatapan Simon, dia melihat Franklin sedang berdiri tak jauh dari mereka sambil membawa dua buah kantong kertas bermerek LOGO di tangannya.

Franklin berjalan dengan langkahnya yang panjang ke sisi Emily. Tatapan itu tertuju pada Simon, "Tuan Simon, apakah Anda tidak mendengar bahwa istriku memintamu untuk diam?"

Simon merasa dipermalukan, dia menatap dingin pada Franklin, "Aku sedang berbicara dengan Emily, kamu tidak perlu ikut campur."

Franklin memindahkan kantong belanjaannya ke satu tangan dan menggunakan tangannya yang bebas untuk menarik lengan Emily. Wajahnya terlihat tenang, walau tatapan matanya sedikit menakutkan.

"Tuan Simon sangat tahu diri, dia adalah istriku. Jadi, orang luar tidak perlu ikut campur dalam urusan kami."

Emily menatap Franklin, kemudian melihat Simon yang begitu marah sampai tidak mampu mengucapkan apa pun. Bagaimana semuanya bisa jadi seperti ini?

Bukankah awalnya dia yang sedang bertengkar dengan Simon? Kenapa tiba-tiba Franklin jadi ikut berkonfrontasi dengan Simon?

Hmm, Franklin adalah suaminya yang baru hari ini diresmikan dan Simon adalah orang yang dia sukai...

Emily selama ini tidak paham akan hubungannya dengan Simon, tetapi hari ini dia sudah mengerti segalanya. Simon sama seperti yang lainnya. Karena ayahnya berada di dalam penjara, ternyata Simon memiliki prasangka buruk padanya.

Emily teringat seorang kakak laki-laki yang dulu sering membawakan permen untuknya dalam sekejap menjadi begitu jauh.

Simon sangat menjunjung tinggi harga diri, dia tidak akan bertengkar dengan Franklin di depan umum.

Simon mendengus kesal dan berniat untuk pergi. Sebelum pergi, dia seakan ingin mengatakan sesuatu pada Emily. Mungkin karena melihat Franklin yang berada di sisi Emily, hingga dia memutuskan untuk berlalu sambil menghela napas.

Sesampainya di apartemen, Emily masih terus sibuk dengan pikirannya sendiri. Apakah Franklin telah membuat Simon tersinggung?

Akankah Simon melupakan masalah ini begitu saja?

"Kamu tahu Simon itu orang yang seperti apa?" Emily berusaha meyakinkan dirinya dan memberikan sedikit peringatan kepada Franklin dengan statusnya sebagai seorang istri.

Franklin yang sedang membereskan barang belanjaan terdiam sebentar, suaranya terdengar bosan, "Aku pernah dengar tentangnya."

"Lalu kenapa kamu berbicara seperti itu kepadanya?"

"Kenapa? Kamu sakit hati?" Franklin meletakkan barang-barang dari tangannya, menegakkan tubuhnya untuk menatap Emily, tatapannya sedikit suram.

Tubuh Emily menegang, segera membalikkan badannya, "Aku tidak tahu apa yang sedang kamu katakan, aku hanya ingin memperingatkanmu. Keluarga Gong sangat terkenal di Arola, sangat mudah bagi mereka untuk menghancurkanmu."

"Benarkah? Aku akan menunggu dan melihatnya." Franklin melipat tangannya di dada dengan santai, sepertinya tidak menaruh kata-kata Emily dalam hatinya.

Emily terkejut dengan nada bicaranya yang tidak mengandung rasa takut sama sekali, menatapnya aneh, "Kamu tidak takut mereka akan menyulitkanmu?"

"Aku bisa saja mengira kamu sedang mengkhawatirkan aku saat ini." Franklin mengangkat alisnya dan tersenyum, memunculkan senyum dingin yang indah.

Emily tercengang dan suaranya menjadi dingin, "Anggap saja aku terlalu mencampuri urusan orang." Kemudian dia berbalik untuk membereskan beberapa barang.

Emily meletakkan sandal pria yang baru saja mereka beli di dekat pintu, kemudian pergi membantu Franklin untuk membereskan barang lainnya.

Selain kebutuhan sehari-hari dan bahan makanan, sisanya adalah keperluan Franklin. Sepatu, klip dasi, dan... kemeja putih!

Mata Emily berbinar, "Kamu membeli dua buah kemeja putih?"

"Hmm." Franklin mengiyakan dan kembali sibuk dengan aktivitasnya.

Sejak awal, niat Emily untuk menikah dengan Franklin hanyalah untuk memenuhi syarat dari kakeknya. Dia menginginkan sebuah buku nikah yang bersih dan sederhana tanpa terlalu banyak terlibat hubungan emosional dengan suaminya.

Namun saat ini, dia tidak ingin Franklin dipersulit oleh Simon hanya karenanya. Hal seperti itu akan membuat Emily merasa berutang budi.

Setelah berpikir sejenak, Emily berkata padanya, "Besok kita pergi mengurus perceraian, meskipun aku adalah cucu dari Keluarga Su, tetapi aku tidak memiliki apa pun. Kamu telah menyinggung Simon karena aku. Setelah kita bercerai, lebih baik kamu segera tinggalkan Arola. Selama kamu tidak berada di Arola, Simon tidak akan mudah untuk membuatmu berada dalam kesulitan."

Ruangan itu berubah menjadi sunyi seakan pergerakan udara saja dapat dirasakan dengan jelas.

Sejak Emily bertemu dengan Franklin, untuk pertama kalinya dia dapat merasakan emosi dalam diri Franklin -- kemarahan.