Bab 10 Diam-Diam Menyukainya

Di dalam toko pakaian.

Emily duduk di atas sofa, memegang majalah di tangannya dan tatapannya tidak fokus.

Selama empat tahun dia berada di luar negeri, dia tidak pernah dengan sengaja mencari tahu kabar tentang Simon, juga tidak pernah bertemu dengannya. Tak disangka, mereka kembali bertemu dalam situasi seperti ini.

Emily tahu bahwa dia dan Sonia sudah bertunangan, jadi Emily cukup tahu diri dan hanya menyukainya secara diam-diam di dalam hati.

Dengar-dengar, mereka akan segera melangsungkan pernikahan.

Seorang pelayan toko datang menghampiri Emily, membungkuk hormat dan berkata, "Nyonya, suamimu sudah mengganti pakaiannya, bagaimana menurutmu?"

Pelayan yang bekerja di toko itu sudah sangat berpengalaman, mereka tahu wanita sangat pemilih. Ketika melihat pasangan suami istri yang berbelanja pakaian, istrinya-lah yang harus dibuat senang dan puas terlebih dahulu. Begitu sang istri puas, pria biasanya sangat menjunjung tinggi harga diri. Berapa mahalnya barang itu pasti akan tetap dibeli.

"Hmm, baik..." Emily tersadar. Saat mendongak dia melihat Franklin sedang berdiri di depan cermin untuk melihat bayangannya sendiri.

Sepertinya dia sangat menyukai warna hitam. Sejak pertama kali bertemu, Franklin selalu memakai kemeja hitam. Kemeja yang dipakai hari ini juga masih berwarna hitam. Bahkan pakaian yang dia pilih ini juga kemeja hitam.

Tubuh Franklin tinggi, sekitar 190 cm. Dia bagaikan manekin berjalan, tidak perlu kesulitan memilih pakaian karena semuanya akan terlihat bagus di tubuhnya.

"Bagaimana?" Franklin yang awalnya berniat untuk masuk ke ruang ganti dan mengganti kembali pakaiannya, bertanya pada Emily ketika melihat wanita itu menatapnya cukup lama.

Emily juga menyadari bahwa dia sudah terlalu lama menatapnya, dia menjawab dengan asal, "Hmm, masih... masih oke, akan jauh lebih baik kalau warnanya bisa diganti."

Dia melihat ke sekeliling dan mengambil kemeja putih, "Bagaimana kalau kamu coba warna putih?"

Franklin sedikit mengernyit, tetapi dia menerima pakaian itu dan membawanya ke dalam ruang ganti.

Pintu ruang ganti tertutup, Emily mendesah dan kembali duduk. Belum dia bernapas lega, tiba-tiba dia sudah diseret keluar oleh Simon yang tiba-tiba masuk.

Simon menariknya ke sebuah tangga yang sepi sebelum melepaskannya. Dia berbicara dengan nada kecewa, "Emily, sejak kapan kamu berubah menjadi seperti ini?"

"Apa yang Sonia katakan padamu?"?

Ketika Emily mendengar kata-kata ini, dia dapat menebak bahwa Sonia telah mengatakan sesuatu kepadanya.

Mengingat hal yang terjadi beberapa hari lalu, wajah Emily berubah.

Terkadang Emily merasa bingung. Di dalam Keluarga Su, Sonia lebih disayang. Di luar juga orang-orang lebih menyukai Sonia, kenapa Sonia harus selalu menentang dirinya?

Simon mengerutkan alisnya dengan tidak puas, "Sonia adalah kakakmu, dia sangat mengkhawatirkanmu, kenapa kamu tidak bisa memahami kesulitannya?"

"Kesulitan?" Emily tidak bisa menahan tawanya, "Dia memang mengalami kesulitan, kesulitan mencari cara untuk menindasku. Ditambah lagi kamu selalu saja mempercayai kata-katanya!"

"Emily!" Simon mulai marah. Ketika masih kecil, Emily selalu berperilaku baik. Kenapa setelah dewasa dia tidak mau mendengarkan nasihat orang?

Emily tiba-tiba merasa sedih, bagaimana bisa dia selama ini begitu menyukai Simon.

"Ketika dia bilang aku mencuri uang di rumahmu, kamu mempercayainya! Dia bilang aku aborsi, kamu juga percaya! Apapun yang dia katakan, kamu pasti percaya. Seandainya kamu sudah memiliki penilaianmu sendiri terhadapku, untuk apa kamu datang mencariku?"

Teringat bagaimana wajah marah Franklin saat menghancurkan kamera reporter dan melihat wajah Simon saat ini, tiba-tiba Emily merasa dirinya sudah tidak terlalu menyukai Simon lagi.

"Kamu..." Simon yang ditanya seperti ini kesulitan untuk menjawab, hanya bisa menjelaskan dengan suara rendah, "Sonia sejak kecil sangat polos dan jujur, dia tidak akan membohongi siapa pun, jadi aku mempercayainya. Kamu bukan belajar dari ayahmu..."

"Diam!" tubuh Emily gemetar karena marah.

Ternyata ini alasan mengapa Simon selalu memilih untuk percaya pada Sonia.

Karena dia memiliki ayah yang berada dalam penjara, jadi tidak peduli bagaimana pun dia dijebak, Simon hanya akan mempercayai kata-kata Sonia. Simon tidak akan pernah memilih untuk percaya padanya.

Ternyata seperti itu.

Simon menyadari bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang tidak dapat ditarik kembali, tetapi dia terbiasa hidup di lingkungan yang membuatnya tidak mudah untuk menunduk dan minta maaf. Jadi, dia hanya bisa terus mengatakan, "Sebenarnya, jika bukan karena ayahmu, dalam hatiku..."

"Tuan Simon Gong."