Bab 9 Emily, Sonia Mengkhawatirkanmu

"Lama tidak berjumpa."?Suara Emily terdengar sedikit aneh, tanpa sadar dia mencubit tangannya sendiri untuk menyadarkan dirinya.

Franklin yang di sampingnya menatap lengannya yang mendadak kosong. Matanya mengerjap dan menarik bibir tipis itu sampai berbentuk satu garis.

Muncul sedikit ekspresi berbahaya di wajahnya, tetapi dengan cepat Franklin menyimpannya kembali hingga tidak ada orang yang menyadarinya.

"Mily, kamu tidak mengenalkan Tuan ini kepadaku?" Franklin dengan santai merangkul bahu Emily, dia juga mengulurkan tangan untuk menyikirkan rambut panjangnya yang berada di dadanya. Mereka terlihat sangat mesra.

Panggilan 'Mily' itu membuat Emily sedikit tertegun. Sejak ayahnya masuk ke dalam penjara, tidak ada orang yang pernah memanggilnya seperti itu lagi.

Emily menoleh sedikit dan melihat wajah Franklin yang tanpa ekspresi. Barulah dia teringat bahwa ini adalah suaminya yang baru diresmikan hari ini.

Jadi sampai kapan pun, hubungan antara Emily dan pria di hadapannya ini sudah jelas tidak akan pernah mungkin...

Berkat kesulitan yang dialaminya selama bertahun-tahun di dalam Keluarga Su, Emily tumbuh dewasa dengan sangat cepat. Pengendalian emosinya juga sangat luar biasa.

Ketika dia menoleh lagi untuk menatap pria di hadapannya ini, tatapannya sudah kembali jernih, "Ini adalah Tuan Muda dari Keluarga Gong, Simon Gong."

Kemudian dia berbalik untuk menatap Franklin, mendekatkan tubuhnya dan masuk ke dalam pelukan Franklin. Dia tersenyum manis dan berkata, "Ini suamiku, Franklin."

Simon menatap Emily dengan wajah terkejut, "Emily, lelucon apalagi yang kamu buat?"

Belakangan ini dia cukup sibuk dan harus melakukan perjalanan bisnis. Ketika mendengar kabar bahwa Emily sudah pulang ke negara ini, dia segera pulang walaupun pekerjaannya belum selesai. Tak disangka, Emily sudah menikah. Dia sama sekali tidak pernah mendengar berita ini dari siapa pun.

"Simon!" Sonia memanggil Simon, berjalan dengan cepat ke arah mereka. Sonia sedikit tidak mempedulikan ketenangan dan martabatnya seperti biasa.

Lagi-lagi bertemu dengan Emily, bahkan sedang belanja pun bisa-bisanya bertemu dengan wanita ini!

"Simon, bukankah kamu masih ingin memilih pakaian? Kenapa kamu pergi ke aula? Sudah lama aku mencarimu." Sonia berjalan ke sisi Simon, mengulurkan tangan untuk menarik ujung pakaian Simon. Wajahnya terlihat tidak puas dan terlihat begitu menyedihkan.

Simon menunduk dan meraih tangannya, satu tangan membelai wajah Sonia dengan lembut, "Maaf, aku hanya sedikit merasa kepanasan, jadi keluar untuk mencari angin."

Sonia bagaikan seorang gadis kecil yang mendapatkan permen, segera tersenyum dan menoleh untuk menatap Emily dengan ekspresi terkejut, "Emily juga sedang di sini? Sedang ingin membeli pakaian kenapa tidak mengatakannya pada kami? Simon baru saja pulang, kita bisa mengajakmu pergi bersama."

Melihat ekspresi Sonia yang seperti ini, rasanya Emily ingin merobek wajahnya. Tetapi, dia masih dapat menahan dirinya.

Pegangan tangan Emily tanpa sadar mengerat pada manset Franklin, tatapan matanya jatuh pada tangan Simon dan Sonia yang saling bergandengan.

Emily segera bereaksi, "Tidak usah, kami masih pasangan pengantin baru, tidak suka ada orang yang mengganggu di samping kami."

Ketika Sonia memperhatikan pria di samping Emily, wajahnya berubah.

Ternyata pria yang tidur dengan Emily kemarin. Sonia yang bahkan sudah berinisiatif untuk memulai pembicaraan dengannya, tapi pria tampan ini sungguh tidak menghargainya.

"Emily, Sonia mengkhawatirkanmu..." Simon tidak terlalu menyukai nada bicara Emily. Selain itu, pernikahan Emily juga menjadi salah satu hal yang begitu sulit dipercaya baginya.

Sonia memang sangat mengkhawatirkan Emily, begitu mengkhawatirkannya sampai tidak ingin Emily mengalami kesulitan.

"Kita pergi yuk." Emily menatap Franklin, matanya terlihat lelah dan ada sedikit ekspresi memohon di sana.

Franklin tidak banyak bicara, hanya mengangguk dan menariknya untuk pergi.

"Simon, lihatlah dia. Sikapnya masih saja seperti itu. Dia sama sekali tidak menghargai dirinya sendiri dan menikah dengan sembarangan pria..."

Saat Sonia mengatakannya, matanya semakin memerah. Seolah-olah dia adalah seorang saudara perempuan tak berdaya yang sedang mengkhawatirkan adiknya yang keras kepala.

Wajah Simon terlihat suram, "Apa yang sebenarnya terjadi?"

Melihat wajahnya yang suram, Sonia menundukkan kepala untuk menutupi rasa dingin di tenggorokannya, bicaranya terbata-bata, "Bukan... bukan apa-apa, hanya saja..."