Bab 8 Siluman Rubah Yang Mempesona

Memikirkan asal-usul sandal itu, Emily tertegun cukup lama sebelum memutuskan untuk membuangnya ke tempat sampah. Kemudian dia menuang segelas air untuk Franklin, "Itu..."

"Keluar untuk beli beberapa barang." Franklin menyela kata-katanya, setengahnya seakan tidak ingin mendengar penjelasannya.

Emily meletakkan gelas di tangannya dengan kuat sampai menimbulkan suara. Tidak mau dengar? Dia juga tidak mau menjelaskannya!

Suara ini membuat Franklin menatap ke arahnya, tidak ada emosi di dalam matanya. Bahkan mengedipkan mata pun tidak. Lain halnya bagi Emily, tatapan seperti itu bagaikan sebuah penindasan yang tak dapat dijelaskan.

Perasaan semacam ini hanya ada ketika dia sedang berhadapan dengan kakeknya.

Emily merasakan sesuatu yang aneh di hatinya, dia selalu merasa bahwa Franklin bukanlah orang biasa. Mendapatkan orang seperti ini sebagai suami, entah sebuah berkah atau kutukan.

Tetapi untuk saat ini, menikah dengannya adalah pilihan yang terbaik. Mungkin karena mereka berdua telah melewati satu malam bersama, jadi mereka sudah sedikit lebih akrab... namun, masih ada perasaan malu dan canggung dalam diri Emily.

Dibandingkan dengan Sonia, sudah jelas Franklin jauh lebih baik. Tadi pagi, dia masih membantunya mengusir reporter.

Ketika Emily masih sibuk dengan pikirannya, Franklin telah berada di depan pintu dan memakai kembali sepatunya. Tatapan mata itu menatap lurus ke arahnya dan suaranya terdengar tidak sabar, "Emily."

Emily tersadar, segera mengambil tas dan menyusulnya.

......

Franklin mendorong keranjang belanja dan berjalan di sampingnya, mereka berjalan dengan teratur dan menuju ke area barang-barang yang mereka butuhkan. Tak lama, barang-barang yang mereka butuhkan sudah terkumpul...

Gelas, sikat gigi, sandal...

Setelah selesai memilih barang, mereka menuju ke konter pembayaran.

"Pembayaran dengan kartu."

Petugas kasir menatap dua buah kartu di hadapannya, wajahnya terlihat ragu-ragu. Pada akhirnya, dia mengambil kartu di tangan Franklin dengan wajah memerah.

Bukankah pria ini tidak punya uang? Sudahlah, harga diri pria memang tinggi.

Emily meliriknya sekilas dan menyimpan kembali kartunya.

Begitu mereka kembali ke dalam mobil, Emily bertanya padanya, "Sebelumnya kamu tinggal di mana? Perlu ke sana untuk mengambil pakaianmu?"

"Tidak usah." jawab Franklin sambil menyalakan mesin mobil.

Setelah beberapa saat, mereka berhenti di depan pintu masuk Mall.

Emily mendongak dan melihat bahwa Mall itu menjual pakaian kelas atas dan merek-merek ternama dari luar negeri. Sembarangan memilih satu potong pakaian saja harganya sudah 5 digit, pakaian yang paling murah mungkin harganya sekitar ribuan dolar.

Menyentuh dompetnya, Emily sedikit khawatir. Dia baru kembali ke negara ini, apartemen itu dia beli dengan uang sakunya.

Sebenarnya ketika pertama kali dia memasuki rumah Keluarga Su, perlakuan Thomas terhadapnya cukup baik. Dia tidak pernah kekurangan makanan dan pakaian. Tetapi, semenjak Sonia sering menuduhnya macam-macam, Thomas semakin lama semakin membencinya.

Uang sakunya selalu lebih sedikit dari Sonia. Pakaian terbaru setiap musimnya akan dikirimkan untuk dipilih oleh Sonia terlebih dahulu, baru sisanya untuk Emily.

Bagi rakyat biasa, biaya hidup puluhan ribu dolar selama sebulan itu memang tidak sedikit. Tetapi, bagi Keluarga Su yang sangat menonjol di Kota Arola, itu sangatlah miskin.

Mereka berdua memasuki Shopping Mall. Karena penampilan mereka yang luar biasa, mereka berdua cukup menarik perhatian.

Beberapa wanita kaya dan gadis-gadis mulai saling berbisik.

"Pria itu dari keluarga mana? Aku belum pernah melihatnya."

"Aku juga tidak tahu, tampan sekali..."

"Lihat tidak wanita di sampingnya itu! Wajahnya terlihat seperti siluman rubah, tak disangka pria itu menyukai tipe wanita yang seperti itu!"

Siluman Rubah?

Emily menyentuh wajahnya sendiri, apakah menjadi cantik itu juga kesalahannya?

Orang-orang itu seakan tidak mampu makan anggur tapi mengatakan anggur itu rasanya asam.

Dia mendekati Franklin, tangannya melingkari lengannya dengan mesra. Suaranya begitu lembut bagaikan air, "Suamiku, aku sedikit lelah, istirahat sebentar ya."

"Kalau begitu, kamu istirahat di sini saja. Aku akan pergi sendiri." Franklin menjawabnya dengan sungguh-sungguh, rasa bahagia terlintas dalam matanya.

"......" Pria macam apa ini! Sungguh tidak bisa mengerti keinginannya?

Emily menegakkan tubuhnya, senyum di wajahnya menghilang tetapi dia tidak melepaskan lengan Franklin, "Meskipun aku lelah, tetapi aku harus tetap menemani suamiku berbelanja pakaian."

Meskipun hanya di atas buku nikah, tetapi dia tetap suami resmi Emily.

"Emily?" Suara bernada terkejut yang menyenangkan terdengar.

Begitu Emily mendongak dan melihat sosok yang dia kenal, dia segera melepaskan lengan Franklin.