Bab 7 Suamiku Seorang Pengangguran

Setelah mengatakannya, tangan yang besar dan kuat itu memutar setir dan menjalankan mobil itu. Emily menatap wajahnya yang tampan dari samping untuk sekian lama sebelum kembali bereaksi, "Mobil itu..."

"Nanti akan ada orang yang datang untuk mengurusnya."

......

Biro Catatan Sipil

"Isi formulir dulu, kemudian pergi ke sana untuk berfoto..."

"Senyum, mendekatlah sedikit..."

"......"

Ketika Emily keluar dari Biro Catatan Sipil dengan membawa buku merah, dia baru menoleh untuk melihat Franklin yang begitu misterius tapi mempesona.

"Kamu sungguh rela menikah denganku?"

Franklin menatapnya dan bertanya dengan penuh minat, "Memangnya kamu bisa memaksaku?"

Di wajah Emily terlintas sebuah keraguan, suaranya agak dingin, "Apa kamu tahu orang seperti apa aku ini? Kemarin yang mereka katakan di Emperor Clubhouse itu adalah benar. Ibuku meninggal ketika melahirkanku, ayahku di penjara. Saat SMA aku pernah melakukan aborsi."

Emily mengatakan hal ini dengan sinis, dia ingin melihat reaksi Franklin. Dia ingin melihat perubahan ekspresi apa yang akan terjadi di wajahnya.

Franklin hanya tersenyum dan menatap Emily dengan mata hitamnya, "Aku memang tidak tahu tentang masalah yang lain. Tetapi tentang kamu pernah aborsi atau tidak, rasanya aku lebih tahu dengan jelas dibanding mereka." Setelah mengatakannya, senyum di bibirnya mengembang.

"Kamu..." Emily sepertinya sudah mengerti sesuatu, wajahnya mulai memerah.

Franklin tampak puas melihat Emily tak lagi bisa menjawabnya. Dengan tangan panjangnya yang terulur, dia merengkuh pundak Emily, "Ayo, Nyonya Franklin Qin, sudah waktunya kita pulang."

Emily melirik tangan yang berada di bahunya, wajahnya terlihat kesal, "Lepaskan tanganmu!"

Dia tidak terbiasa dengan sentuhan dari lawan jenis, apalagi lawan jenis yang tidak dia kenal.

Franklin tidak melepaskan rangkulannya, menarik Emily secara paksa dan ikut masuk ke dalam mobil Emily.

"Untuk apa kamu ikut naik?" Emily menatap pria yang ikut duduk di atas mobilnya. Alisnya yang indah itu berkerut.

Franklin mengangkat buku nikah di tangannya, "Tentu saja ke rumahmu."

Melihat Emily tidak berbicara, Franklin membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Emily, tatapan mata itu seolah tahu tentang segalanya, "Memangnya kamu kira aku setuju menikah denganmu hanya demi mendapatkan buku nikah ini?"

Emily memundurkan tubuhnya dengan perasaan bersalah, punggungnya bersandar pada jendela. Karena pakaiannya sedikit tipis, dia mulai merasa kedinginan.

Dia memang tidak mengerti mengapa Franklin setuju untuk menikah dengannya. Yang pasti, dia hanya menginginkan buku nikah ini. Emily bukan benar-benar ingin menjadi pasangan suami-istri dengan pria itu.

Menatap mata Franklin yang seakan tahu segalanya, Emily hanya bisa berbohong, "Tentu saja tidak."

"Bagus kalau begitu."

Ketika Franklin mengatakannya, dia mengangkat tangannya dan ingin membelai wajah Emily. Tetapi, Emily dengan cepat memutar tubuhnya sehingga tangan Franklin hanya menyentuh udara kosong.

Franklin menarik tangannya kembali dengan sedikit kecewa.

Sudut bibir Emily sedikit naik, rasanya seperti sedang melampiaskan kebenciannya.

Setelah berpikir sejenak dia berkata, "Setelah menikah bukankah seharusnya kita tinggal di rumahmu?"

"Aku tidak punya rumah di Arola."

Franklin memejamkan matanya, seluruh tubuhnya bersandar pada jok mobil. Dari suaranya, tidak bisa terdengar emosi apa yang dia rasakan sekarang.

Tidak punya rumah, mobil juga pinjam?

Emily menoleh untuk menatap Franklin dengan hati-hati. Dia tidak bisa melihat merek dari pakaian di tubuh pria ini, tetapi bahannya sangat bagus dan tidak terlihat seperti barang murah. Selain itu, auranya yang luar biasa...

Dilihat dari sisi mana pun, Franklin tidak terlihat seperti orang yang tidak mampu!

Tetapi, dia juga tidak terlihat seperti sedang berbohong.

Jadi, suami hasil dari pernikahan kilatnya ini adalah pria pengangguran yang tidak punya uang, mobil dan rumah?

Emily menggertakkan giginya. Sudahlah, tidak usah dipedulikan. Urus saja pria ini untuk selama beberapa waktu sampai saham itu menjadi miliknya. Setelah itu, tinggal minta cerai.

Jadi, Emily kembali ke apartemennya bersama dengan Franklin.

Apartemen dengan dua kamar dan satu ruang tamu itu tidak besar. Cukup untuk ditinggali sendiri, tetapi akan terasa sempit jika ditinggali berdua.

Emily membuka pintu dan masuk terlebih dahulu, meraba-raba sebentar sebelum akhirnya menemukan sepasang sandal pria. Dia meletakkan sandal itu dengan rapi di hadapan Franklin, "Pakailah!"

Franklin menunduk untuk menatap sandal pria di hadapannya, tidak berbicara apa pun. Dia hanya menurunkan kelopak matanya, melepaskan sepatunya dan masuk ke dalam.

Emily menatap punggung Franklin dengan bingung, menunduk lagi untuk melihat sandal itu, secara perlahan dia mulai mengerti. Dia adalah seorang wanita lajang, bagaimana bisa dia memiliki sepasang sandal pria.