Bab 6 Kamu Mau Menikah Denganku?

Thomas menatapnya. Meskipun dia enggan untuk memberikan saham bagiannya, tetapi dia telah mengucapkannya. Jadi, kata-kata itu sudah tidak mungkin ditarik kembali.

"Tentu saja, asalkan kamu dapat menemukan seseorang yang rela menikahimu! Sahammu, bisa kamu bawa pergi."

"Terima kasih, Kakek." Emily menarik bibirnya dan tersenyum. Meskipun semua orang ingin menjatuhkannya, tetapi dia tidak boleh lemah. Setelah itu, dia membungkuk hormat kepada Thomas dan angkat kaki dari sana.

Begitu masuk ke dalam mobil, Emily mulai frustasi.

Reputasinya begitu buruk di kalangan masyarakat kelas atas. Ketika masih SMA, dia sempat dituduh melakukan aborsi oleh Sonia. Semua orang ramai membicarakan hal itu, bahkan sampai sekarang.

Arola yang sebesar ini, belum tentu ada satu pun orang yang ingin menikahinya.

......

Karena Emily sedang frustasi, dia tidak terlalu fokus saat mengemudi.

Sampai sebuah suara 'peng' antara mobilnya dengan mobil di sebelahnya, barulah dia tersadar. Habislah, lagi-lagi harus kehilangan uang.

Emily turun dari mobil untuk melihat keadaan, dia mengerutkan keningnya.

Rolls-Royce Phantom? Bukankah mobil ini penjualan di mukanya sangat terbatas di dunia? Phantom Edisi Kolektor!

Nilai pasar mobil ini kurang lebih 14 juta dolar!

Tanpa menunggu Emily yang sedang memperbaiki suasana hatinya untuk meminta maaf, pintu mobil sudah terbuka.

Emily mendongak untuk menatap pemilik mobilnya. Pada pandangan pertama, dia terkejut dengan mata hitam yang misterius dan tenang itu, wajah yang tidak asing untuknya. Emily tertegun dan menyebutkan namanya dengan akurat, "Franklin?"

Siapa dia sebenarnya, bagaimana mungkin bisa membeli mobil ini? Meskipun dia punya uang untuk membelinya, tetapi untuk mendapatkan mobil ini haruslah memiliki kemampuan.

Franklin tidak menjawabnya, hanya melihat keadaan mobilnya. Ada goresan halus yang terlihat sangat jelas pada badan mobil yang mulus itu. Emily tidak berani berbicara atau pun bergerak, merasa canggung.

Dia yang sebelumnya mengatakan jika mereka sampai bertemu lagi, sebaiknya pura-pura tidak kenal. Sekarang dia sendiri juga yang menggores mobil orang, mobil mewah pula. Tidak tahu apakah mobil itu masih bisa diperbaiki atau tidak.

"Mematuhi aturan lalu lintas adalah hal yang seharusnya dilakukan oleh setiap pengemudi." Nada bicara Franklin begitu tenang, tetapi dari alisnya yang terangkat itu sangat menunjukkan ketidakpuasannya.

"Maafkan aku."

Ini memang salahnya, jadi Emily meminta maaf dengan patuh. Tetapi, dalam hatinya dia merasa sangat tertekan. Dia khawatir bagaimana cara memperbaiki mobil ini karena dia bahkan ikut sakit hati melihat goresan di mobil itu.

Ada tatapan aneh yang sekilas muncul dari mata itu, Franklin tidak dapat menahan dirinya untuk memperhatikan Emily sejenak.

Saat melihat wajah Emily yang merah dan sedikit bengkak, dia mengerutkan keningnya.

Mata Emily sangatlah indah, cerah bagaikan bunga persik. Ketika wanita ini memperhatikan seseorang dengan seksama, tatapannya seakan dia sedang sengaja merayu orang itu.

Bulu matanya panjang dan lentik, hidungnya mancung, bibirnya merah. Ketika sudut bibirnya sedikit terangkat, sangatlah menawan. Walaupun saat ini wajahnya sedang merah dan bengkak, tetapi wanita ini tetaplah sangat cantik.

Franklin memang sudah bertemu dengan banyak wanita yang cantik dan memikat, tetapi dia masih jatuh dalam pesona Emily. Pada pandangan pertama, Emily terlihat bagaikan siluman rubah yang mempesona, tetapi kepribadian wanita ini sebenarnya sangatlah lembut.

Tanpa sadar Franklin memutar jarinya, seolah-olah sentuhan tadi malam pada kulit wanita ini yang lembut masih berada di antara jari-jarinya. Jauh di dalam hatinya, di suatu sudut terlarang yang sudah lama tidak pernah dijamah, muncul sebuah perasaan yang bergejolak.

Seakan merasakan tatapan Franklin, Emily memiringkankan tubuhnya untuk menutup sisi lain wajahnya.

Tetapi Franklin tidak banyak bertanya, hanya berkata, "Ini mobil temanku."

"Ah?" Emily tertegun sebelum akhirnya bereaksi, mobil temannya?

"Kalau begitu, mobil ini..."

Franklin menyela kata-katanya, mengangkat alis dan menatapnya, "Aku bisa mengatakan pada temanku kalau aku yang tidak sengaja menggoresnya, bagaimana caramu berterima kasih padaku?"

Emily tertegun dengan tatapan matanya yang bercahaya, dalam benaknya terlintas kata-kata Thomas. Dengan tidak dapat dijelaskan dia berkata, "Aku bisa menikah denganmu."

"Pritt!!"

Begitu mendengar suara peluit berulang-ulang, Emily tiba-tiba tersadar. Franklin pasti mengiranya orang gila.

"Itu..."

"Ayo jalan."

Sambil berbicara, Franklin sudah berjalan ke depan pintu mobil Emily. Dia membukanya dan duduk di dalam kursi pengemudi. Tak lama, dia menjulurkan kepalanya dan memberi perintah, "Naik."

Emily secara refleks menuruti perintahnya, naik ke atas mobil dan dengan patuh mengenakan sabuk pengaman, "Mau kemana?"

"Bukankah kamu mau menikah denganku?"

"Ah? Jadi kita pergi kemana?"

Franklin mengangkat alisnya, matanya bercahaya, "Biro Catatan Sipil."