Bab 5 Siapa Yang Berani Menikahimu?

Pintu utama, Rumah Keluarga Su.

Emily keluar dari dalam mobil, wajahnya terlihat acuh.

Karena dia datang untuk bertemu dengan Thomas, dia tidak merias wajahnya. Pakaiannya juga sangat sederhana, bukan warna yang mencolok. Berharap dengan sedikit perubahan ini dapat meredakan amarah kakeknya. Hari ini dia datang untuk dimarahi karena dia punya tujuannya sendiri.

Setelah mengambil napas dalam-dalam, Emily berjalan dengan langkah besar ke dalam rumah.

Sesampainya di aula, dia melihat anggota Keluarga Su sedang duduk melingkar di sana. Thomas Su duduk di tengah dan cucu teladan Sonia duduk di sampingnya. Mereka berdua sedang berbincang sambil tertawa.

"Kakek, aku pulang."

Senyum di wajah Thomas menghilang seketika, mengerutkan kening seakan sedang melihat sesuatu yang menjijikkan. "Bocah sialan! Masih tahu jalan pulang! Aku baru tidak di rumah satu hari saja, apa yang sudah kamu lakukan!"

Sambil berbicara, dia melemparkan setumpuk foto kepada Emily. Itu adalah fotonya tadi pagi saat sedang duduk tanpa busana di atas ranjang. Meskipun belum dipublikasikan, tapi sebenarnya foto-foto itu ada.

Di lingkaran masyarakat kelas atas, reputasi Emily memang sudah buruk.

"Kakek, aku bisa menjelaskan tentang foto-foto ini." Emily secara tidak sengaja melirik Sonia.

Semua foto ini memang benar adanya, tetapi ini semua telah direncanakan oleh Sonia. Sekalipun Emily mengatakan hal ini, Thomas pasti tidak akan mempercayainya.

"Menjelaskan? Begitu banyak kesalahan yang telah kamu perbuat sejak kecil, apa pernah kamu mengakui kesalahanmu? Jelas-jelas fotonya ada di sini, mana mungkin palsu!" Thomas begitu marah sampai bangkit berdiri, dan jarinya menunjuk ke wajah Emily.

Ternyata, kakek masih seperti dulu. Dia masih begitu mempercayai Sonia. Emily menatap Thomas dengan wajah mengejek, "Aku tidak melakukan kesalahan untuk apa aku harus mengakuinya?"

"Plak!"

Thomas yang sudah merasa tidak sabar melayangkan sebuah tamparan ke wajah Emily, "Sudah sampai seperti ini, masih tidak mau bertobat! Apakah mengakui kesalahan sendiri begitu sulit? Kamu itu sama dengan ayahmu, dibunuh sampai mati pun tidak akan pernah mau mengaku!"

Thomas menamparnya dengan segenap kekuatannya, Emily yang ditampar olehnya sedikit gemetaran. Dia bertumpu pada sofa di sampingnya untuk dapat berdiri dengan stabil, telinganya berdengung.

Emily menatap Thomas dengan tidak percaya, suaranya berubah karena tenggorokannya terasa kering, "Kakek, ayahku itu anakmu atau bukan? Orang lain tidak percaya padanya, kenapa kamu juga ikut tidak percaya?"

"Jangan bahas tentang sampah itu. Seorang sampah sepertinya hanya bisa melahirkan orang sepertimu! Reputasi Keluarga Su telah tercoreng karena kalian berdua!"

Jika Sonia yang mengatakan hal ini, Emily pasti akan segera melompat dan merobek mulutnya. Tetapi yang mengatakan hal ini adalah Thomas, orang paling berkuasa di Keluarga Su, dan juga orang tua yang paling Emily hormati.

Sonia berdiri di samping Thomas dan berusaha menghiburnya, "Kakek, jangan terlalu marah. Emily selalu seperti ini karena dia masih kecil, terkadang bisa salah jalan."

"Justru karena dia selalu seperti ini maka dia harus mengubah sikapnya. Jika kita terus-menerus memaafkannya, dia tidak akan pernah berubah!"

Memaafkan? Emily sama sekali tidak butuh!

Pipi Emily terasa sangat sakit, tetapi hatinya jauh lebih sakit.

Awalnya Emily mengira, asalkan dia bekerja keras suatu hari sikap Thomas terhadapnya akan berubah. Tetapi, sejak ada Sonia dan semua trik licik yang dia lakukan untuk menjebak Emily, membuat Thomas semakin mempercayai Sonia.

Rumah ini sejak awal memang bukanlah rumahnya.

"Aku tidak akan pernah mengakui hal yang tidak pernah aku lakukan. Aku juga tidak akan keluar dari Keluarga Su. Ayahku meninggalkan saham untukku dan usiaku juga sudah 22 tahun. Aku sudah cukup dewasa untuk mengambil alih sahamnya!"

"Kamu!" Thomas tidak menyangka Emily akan melawannya seperti ini, saking marahnya dia berjalan mendekati Emily dan berteriak padanya, "Menginginkan saham? Pikirkan terlebih dahulu, siapa yang berani menikahimu di Kota Arola ini. Jika kamu ingin mengambil sahammu, pikirkan cara untuk membuat dirimu dapat dinikahi oleh seseorang, baru kita bahas lagi tentang itu!"

"Itu adalah hak yang seharusnya aku dapatkan!" Emily tidak berani mempercayainya, ternyata Thomas begitu terang-terangan ingin menarik kembali saham yang ditinggalkan oleh ayahnya.

"Hal-hal milik cucu Keluarga Su, belum tentu layak untukmu!" Thomas menatap Emily dengan wajah suram, cucu perempuan ini semakin lama semakin mengecewakan.

Bahkan jika harus sampai mengeluarkan anak ini dari Keluarga Su, setengah dari saham itu pun tidak akan pernah jadi miliknya!

Jelas-jelas sedang musim panas, tetapi Emily merasa kepalanya seakan disiram oleh seember air es, tubuhnya menggigil. Dia tidak berani berbicara banyak lagi, saat ini Thomas sudah menatapnya seperti sedang menatap seorang musuh.

Jika Emily terus mengatakan hal-hal yang membuatnya marah, kemungkinan Thomas akan segera mengusirnya keluar dari rumah ini tanpa uang sepeser pun.

Dia tidak peduli apakah dia akan menjadi nona kedua dari Keluarga Su atau tidak, yang dia pedulikan adalah nasib ayahnya yang masih berada di dalam penjara.

"Kakek akan selalu memegang ucapannya kan? Jika aku bisa segera menikah, maka kakek harus memberikan saham itu padaku."