Bab 4 Sebaiknya Kamu Berhasil Membunuhku

Di luar pintu.

Para Reporter itu ternyata belum pergi. Dengan bertambahnya salah satu anggota dari Keluarga Su, Sonia, yang bergaun putih dan berdiri di tengah kerumunan wartawan itu sangatlah terlihat mencolok.

Emily mengangkat dagunya dan berjalan ke arahnya. Sebelum dia sempat membuka mulutnya, Sonia sudah berkata dengan penuh rasa cemas, "Emily, kenapa sikapmu masih seperti ini. Kamu bahkan sudah pernah aborsi saat SMA..."

"Plak!"

Emily mengangkat tangannya dan menampar Sonia dengan marah.

Sonia adalah bunga kecil yang manis, dikagumi oleh semua pria bangsawan yang tak terhitung jumlahnya di Kota ini. Hal itu membuatnya harus selalu menjaga reputasinya. Orang yang selalu memiliki reputasi buruk adalah nona kedua dari Keluarga Su, selalu dianggap sebagai wanita yang kasar dan tidak rasional.

Jadi, meski Emily menampar Sonia di depan umum, Sonia pasti tidak akan membalas.

Reporter masih sibuk mengambil foto, Sonia memegang pipinya. Tatapan matanya menyapu sosok Franklin yang berada di belakang Emily. Pandangan mata Sonia berubah dingin dan penuh kebencian, sialan pria itu ternyata bukanlah Alex.

Tetapi selama tujuannya tercapai, itu sudah termasuk hal yang bagus.

"Emily, jangan terus bersikeras untuk melakukan hal yang salah. Nanti saat kakek pulang, sebaiknya kamu mengakui kesalahanmu di depannya."

Sonia memegang wajahnya dan air mata muncul di pelupuk matanya.

Emily berjalan maju satu langkah dan meraih bagian depan pakaian Sonia. Mendekatkan kepalanya di samping telinga Sonia dan berkata, "Sonia, sebaiknya kamu berhasil membunuhku kali ini. Jika tidak, selama aku masih hidup, aku akan membuatmu membayar semua hal yang telah kamu lakukan padaku!"

Setelah mengatakannya, dia mendorong Sonia dengan keras. Mendorongnya di tengah kerumunan orang banyak dan melangkah pergi.

Para Reporter melihat Franklin berjalan keluar, tidak berani menghentikan Emily.

Semua Reporter ini dipanggil kemari oleh Sonia, begitu Emily pergi, tentu saja mereka juga pergi.

Franklin masih berdiri di posisinya, terlihat begitu tenang.

Aborsi saat SMA? Jelas-jelas kemarin malam wanita itu masih perawan.

Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.

Ketika Franklin mendongak, dia melihat Sonia dengan wajahnya yang merah dan bengkak sedang berdiri di hadapannya. Franklin menatapnya tanpa ekspresi, berbalik dan berniat untuk pergi.

Sonia berkata dengan lembut, "Tuan, Anda terlihat seperti orang baik, aku mewakili Emily untuk meminta maaf padamu. Aku akan meminta para reporter untuk tidak mempublikasikan fotomu, dengan begitu reputasimu tidak akan ikut rusak."

Pria ini sungguh sangat menawan, bahkan Sonia sengaja menyuruh orang untuk memeriksa latar belakang pria ini. Pria ini bukan orang yang berpengaruh, jika tidak, Sonia juga ingin dicintai oleh pria seperti ini.

Jika pria lain melihat Sonia dalam keadaan seperti ini, mungkin saja mereka akan segera menyerahkan hati mereka kepadanya. Berbeda dengan Franklin yang hanya meliriknya dengan dingin, seakan tidak mendengar ucapannya, kemudian berbalik dan pergi.

Sonia berdiri di kejauhan dengan tatapan penuh kebencian karena penghinaan ini, berapa banyak pria yang mengejarnya di Arola dan tidak digubris olehnya. Sekarang dia bahkan secara pribadi memberikan kesempatan pada pria ini, dan dia tidak menghargainya!

......

Emily kembali ke apartemennya, membenamkan dirinya di dalam selimut dan tidur dalam gelap.

Dia tahu dalam waktu kurang dari dua jam, pemberitaan di seluruh media Arola ini pasti akan membahas tentang dirinya dan Franklin.

Dia tidur sampai langit berubah menjadi gelap, kemudian masak mi untuk makan malam dan duduk di depan komputer sambil membaca situs web berita.

Tidak ada, satu pun tidak ada berita tentangnya.

Ini tidak seperti sikap Sonia yang biasanya.

Emily meletakkan sumpitnya dan menyalakan TV, dia mengganti beberapa saluran berita dan tidak menemukannya berita tentangnya, sampailah pada sebuah berita.

"Presiden Direktur dari Perusahaan Keuangan Eropa, Group L.K, telah kembali ke China. Namun Beliau belum menunjukkan dirinya ke hadapan publik..."

Emily berpikir sebentar, Presiden Direktur dari Grup L.K ini memang terkenal sangat misterius.

Tidak ada orang yang tahu, apakah dia masih muda atau sudah tua, bahkan siapa namanya. Yang diketahui hanyalah dia berasal dari Kota Arola dan seorang legenda bisnis. Semua pebisnis di Arola ini jika dibandingkan dengan dia, tidak ada apa-apanya.

Namun, semua hal tentang Presiden Direktur Group L.K ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Emily.

Emily mematikan TV ketika tidak melihat pemberitaan tentang dirinya, dia bertanya-tanya dalam hati. Tak lama, ponselnya berdering. Ketika dia akan mengangkatnya, telepon itu ternyata berasal dari Thomas Su.

Emily mempersiapkan mentalnya sebelum mengangkat telepon dan segera melambatkan cara bicaranya, "Kakek."

Di ujung telepon sana terdengar sebuah suara yang menderu, "Masih tidak segera pulang!"