Bab 3 Sekelompok Reporter Yang Datang

Emily tidak berani beradu pandang dengan Franklin. Anggur yang kemarin diberikan oleh Alex sudah jelas bermasalah tetapi, bagaimana mungkin anggur Franklin juga bermasalah?

Apa mereka punya niat buruk terhadap Franklin?

Kemarin malam dia sudah berusaha untuk waspada. Ketika Alex mengerahkan orang untuk mengejarnya, baru berlari tidak jauh saja dia sudah merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi. Kepalanya sakit, tubuhnya pun sakit.

"Kamu yang minum anggur itu sendiri. Kejadian setelahnya, aku tidak ingat jelas." Franklin tampaknya tidak suka berbicara, wajahnya terlihat dingin. Cara bicaranya samar-samar bernada interogasi, seakan dia sedang menyalahkan Emily.

Emily meliriknya, pria ini seperti ingin mengatakan bahwa Emily yang membuatnya minum anggur yang bermasalah itu. Jika memang pria ini begitu pintar, kenapa dia juga bisa jatuh ke dalam perangkap!

"Tok. Tok."

Suara ketukan dari luar pintu menyela pikiran Emily, Franklin pergi membukakan pintu. Dia segera kembali dan melemparkan sebuah kantong kepadanya. Tanpa menunggu Emily bereaksi, Franklin sudah melepaskan handuknya dan mulai berganti pakaian.

"Ah! Franklin, kamu tidak tahu malu!" Emily menarik selimut untuk menutupi kepalanya. Dia pasti tidak akan pernah mengaku bahwa tadi dia sudah melihatnya... besar sekali.

Franklin berbalik dan meliriknya. Kemarin tatapan wanita ini begitu mempesona dan gayanya sangat pemberani, ternyata aslinya pemalu dan polos.

"Kalau kamu tidak segera berpakaian, kamu yang akan malu sendiri."

Begitu kalimat itu terucapkan, terdengar suara 'peng'. Pintu kamar terbuka dan sekelompok reporter masuk ke dalam.

Lampu sorot kamera menyinari wajah Emily yang pucat. Reporter itu segera mengatakan, "Nona Emily dan Tuan Alex..."

Ketika para reporter menemukan bahwa yang di dalam ruangan itu bukan Alex, mereka tertegun.

Bukankah informasi mengatakan bahwa nona kedua dari Keluarga Su dan Tuan Alex sedang menghabiskan malam di Emperor Clubhouse? Ada apa ini sebenarnya?

Pria ini jelas-jelas tidak terlihat seperti pria yang lahir dari keluarga kaya dan terpandang, meskipun wajahnya memang tampan. Berdasarkan reputasi nona kedua dari Keluarga Su, ini juga termasuk sebuah berita besar.

"Nona Emily Su, apakah ini teman tidurmu yang baru?"

"Tuan, dengan statusmu ini, berapa harga yang dibuka oleh Nona Emily Su untukmu?"

"......"

Para Reporter mengelilingi ranjang, kamera sudah hampir berada di depan wajah Emily. Pertanyaan mereka semakin lama semakin tidak menyenangkan. Emily duduk telanjang di atas ranjang, seluruh tubuhnya terasa dipermalukan. Sonia pasti berniat untuk menghancurkannya, membuatnya kehilangan reputasi dan diusir dari Keluarga Su.

"Nona Emily Su, apakah karena ayahmu berada di dalam penjara, jadi Anda..."

Mata Emily melebar, matanya memerah namun air matanya tidak mengalir.

Franklin yang berdiri di luar kerumunan reporter, matanya berubah serius dan berjalan menghampiri Emily dengan langkah besar.

Dia merebut kamera dari salah seorang wartawan dan membantingnya dengan keras di tengah kerumunan itu. Wajahnya terlihat berbahaya seperti sedang melihat manusia terkutuk, "Semuanya keluar!"

Reporter yang kameranya hancur itu terkejut dengan reaksi Franklin yang meledak-ledak, mata pria itu sangat menakutkan. Seakan jika mereka tidak keluar dari kamar itu dalam sepuluh detik, mereka akan segera terbunuh.

Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, seluruh reporter yang berada di dalam kamar itu keluar.

Meskipun wajah Emily masih pucat pasi, tetapi dia sudah tersadar. Dia meraih kantong berisi pakaian yang dilemparkan oleh Franklin tadi dan segera berganti pakaian di hadapannya.

Setelah berganti pakaian, dia berbalik dan turun dari ranjang. Melihat kaki Emily yang lemas dan hampir terjatuh ke lantai, Franklin segera mengulurkan tangan untuk menahan tubuhnya.

Emily mendongak dan menatap ke arahnya. Wajah itu begitu tampan, garis wajahnya sempurna. Pria ini jauh lebih tampan dari semua pria yang pernah dia temui di Kota Arola.

Terlebih lagi matanya itu, begitu dalam bagaikan jurang tak berujung, namun juga sedikit misterius dan berbahaya...

Emily mendapatkan kesadarannya, dia hampir saja jatuh dalam pesona mata itu. Dia sibuk mendorong pria itu menjauh, "Makasih."

Agak bodoh sebenarnya, untuk apa dia berterima kasih pada pria yang telah merenggut keperawanannya.

Setelah mengatakannya, dia membawa tasnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia merapikan dirinya dengan cepat dan menyapukan riasan ringan. Ketika dia keluar, dia melihat Franklin belum pergi.

Emily menoleh kepadanya setelah mencapai pintu kamar, "Setelah keluar dari pintu ini, walaupun mungkin nanti kita akan bertemu lagi, lebih baik kita berpura-pura tidak saling kenal."