Bab 2 Bukankah Hanya Minum Segelas Anggur!

Karena itulah, kehadiran pria ini tidak terlalu berkesan bagi semua orang di sana.

Seakan menyadari bahwa Emily sedang mengawasinya, dia mendongakkan kepalanya. Tatapan itu begitu dalam, misterius dan berbahaya, fitur wajahnya juga terlihat tiga dimensi. Ketampanan yang tidak biasa dan membawa hawa dingin. Emily menahan napas, aura di tubuh orang ini begitu kuat.

Pria itu menundukkan kepalanya dan menatap anggur merah di tangan kirinya. Ada kilatan cahaya yang lewat dari matanya.

Tangan Emily yang memegang gelas sedikit gemetar.

Dia dengan jijik berusaha melepaskan tangan Tuan Alex, berjalan ke sana untuk mengambil anggur di tangan pria itu dan membawanya ke hadapan Tuan Alex. Bibirnya menyunggingkan senyum dingin, "Bukankah hanya minum segelas anggur! Tuan Alex harus menepati ucapannya."

Setelah mengatakannya, dia mengangkat kepalanya dan menghabiskan anggur itu dalam sekali teguk. Dia meletakkan gelas itu dan tatapan matanya menyapu Sonia sekilas sebelum dia berbalik dan keluar dari ruangan.

Pria berpakaian hitam menatap sosok yang menghilang di balik pintu. Sebuah senyuman penuh makna muncul di wajahnya.

......

Setelah keluar dari ruangan itu, Emily segera menuju ke kamar mandi. Perasaannya sedikit tidak nyaman.

Sekeluarnya dari kamar mandi, dia melihat Alex Mu membawa sekelompok orang keluar dari ruangan. Emily berbalik dan ingin melarikan diri. Belum jauh dia berlari, seluruh tubuhnya terasa lemas dan mati rasa.

Ketakutan mulai memenuhi dirinya, Emily bergumam, "Bagaimana bisa..."

"Orang yang terlalu pintar bisa saja menjadi korban dari kecerdikannya sendiri."

Ada sebuah suara yang jernih di belakangnya, begitu jernih bagaikan air mengalir. Emily yang mendengarnya seakan mati rasa. Detik berikutnya, seluruh tubuhnya sudah jatuh di dalam pelukan dingin itu.

Emily merasakan aroma yang aneh dan dingin di sekelilingnya, garis pandangnya perlahan mulai kabur dan tubuhnya melembut bagaikan air. Namun, dia masih berusaha untuk melepaskan diri dan berkata dengan suara lembut yang agak terdengar menggoda, "Kamu... lepaskan aku."

Dia tidak ingin jatuh dalam perangkap Sonia, juga tidak ingin hidupnya dikacaukan oleh Tuan Alex.

"Memangnya kamu ingin ditangkap oleh Alex?" Suara pria itu jernih dan merdu, Emily mulai menyadari bahwa orang di hadapannya ini bukanlah si sampah Alex.

Pria itu menundukkan kepala, melihat wajah Emily yang memerah dan terlihat sedikit ketakutan. Mata pria itu semakin pekat dan suram.

Emily yang sudah mulai kehilangan akal sehat, tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk memeluk leher pria itu dan menumpukan seluruh tubuhnya pada pria itu.

Pria itu menunduk untuk menatapnya dan membungkukkan tubuhnya untuk menggendong gadis itu dalam pelukannya. Dia menoleh sedikit untuk berkata pada bawahannya, "Tidak usah mengikuti aku."

......

Keesokan harinya.

*suara gemercik air*

Sebelum membuka matanya, suara gemercik air adalah hal pertama yang didengar oleh Emily.

Karena merasa terganggu, Emily berguling dan berusaha mendudukkan dirinya di atas ranjang. Tak diduga, begitu dia bergerak, rasa sakit mulai menyerang seluruh anggota tubuhnya.

"Clek."

Pada saat ini, suara air berhenti dan pintu kamar mandi terbuka.

Emily segera bangun dan duduk, tatapan matanya bertabrakan dengan sosok pria yang baru saja keluar dari kamar mandi.

Pria yang tinggi besar itu hanya tertutupi oleh handuk di bagian bawah tubuhnya. Sosok pria di hadapannya ini jauh lebih tampan daripada artis-artis Korea yang selalu menjadi obsesinya. Dia tidak bisa menahan diri untuk menghitungnya, satu, dua... ah delapan buah otot abs!

"Sudan bangun."

Suara yang indah itu membuat kulit kepala Emily serasa mati rasa, suara itu begitu sepadan dengan tubuhnya yang indah.

Emily mengangkat kepalanya dengan bingung, melihat wajah yang asing tapi familier ini. Dia berusaha mengingat dan akhirnya ingat bahwa pria ini adalah yang gelas anggurnya dia rebut di dalam ruangan klub tadi malam.

"Kenapa bisa begini?"

Dalam keadaan seperti ini, tanpa susah payah dijelaskan saja sudah tahu apa yang telah terjadi di antara mereka.

Pria itu berjalan ke arahnya, tatapannya tertuju ke wajahnya dan berbicara dengan nada yang acuh, "Franklin Qin."

Dia sedang menyebutkan namanya.

Hawa panas yang sedikit lembap dari tubuhnya menunjukkan bahwa dia baru selesai mandi air panas. Ketika dia mendekat, Emily dapat merasakan napasnya yang dingin, membuat tubuh Emily sedikit bergetar.

Ketika dia mendekat, Emily juga melihat tanda merah yang mencurigakan di bagian atas tubuhnya yang telanjang. Tanpa sadar dia menunduk untuk melihat keadaan dirinya sendiri, lalu dia berteriak dan sibuk menarik selimut untuk menutupi dirinya sendiri.

"Anggur yang tadi malam itu..."