Bab 1 Dilahirkan Tanpa Ada Yang Mengasuh

Kota Arola, tempat pertemuan bagi masyarakat kalangan atas, Emperor Clubhouse.

Emily Su merapikan gaun merahnya yang sepaha dan rambut keritingnya yang panjang. Setelah memastikan tidak ada yang berantakan, dia melangkah masuk ke dalam dengan kakinya yang ramping.

Sesampainya di depan pintu sebuah ruangan, pelayan membukakan pintu dan memberikan isyarat hormat untuk mempersilakannya masuk. Emily menoleh dan berbicara dengan bibir merahnya yang menarik, "Terima kasih."

Setelah puas melihat wajah pelayan itu memerah, Emily berbalik dan memasuki ruangan.

Mata yang acuh tak acuh itu menyapu ke sekeliling ruangan dan akhirnya jatuh pada sosok kakak sepupunya yang duduk di tengah, Sonia Su, yang saat itu mengenakan gaun berwarna putih. Rambutnya panjang dan hitam, dia memiringkan kepalanya seakan sedang berbicara dengan seseorang, terlihat begitu lembut dan mempesona. Tentu saja, itu adalah bagaimana orang lain menilainya.

Sudah empat tahun tidak bertemu, wanita masih saja memasang wajah bagaikan bunga lotus yang baru mekar. Padahal, dia lebih pantas disebut sebagai bunga lotus yang sudah hampir layu.

Orang di sampingnya itu menyentuh lengannya sebentar dan kali ini Sonia menatap ke arah pintu masuk.

"Emily, akhirnya kamu datang. Kita sudah sepakat untuk membuatkan acara penyambutan untukmu. Kakak kira kamu tidak akan datang..." Sonia berlagak akrab dengannya. Dia berjalan menghampiri Emily, memasang wajah terkejut sambil memegang tangan Emily , "Hei, kenapa kamu berpakaian seperti ini!"

Emily mengibaskan rambut panjangnya, tatapan matanya sedikit dingin. Meski begitu, sebuah senyum tetap merekah di wajahnya, "Kakak tidak suka aku berpakaian seperti ini? Benar juga, kakak kan setiap hari berada di perusahaan kakek dan yang dipakai hanyalah pakaian formal, mana pernah melihat yang seperti ini."

Sonia terlihat canggung. Selama ini demi menjaga citranya sebagai seorang dewi, dia selalu berpakaian sopan dan terpelajar. Emily melihatnya bergeming, mengangkat dagunya, berbalik dan berjalan ke sudut ruangan.

Emily meraih segelas jus buah dan mulai menyesapnya dengan tatapan yang acuh tak acuh. Sekembalinya dia ke negara ini, Sonia bersandiwara di hadapan Kakek mereka dan membuat janji pertemuan dengan Emily. Tidak diragukan lagi, Sonia pasti punya niat buruk.

Siapa sangka, baru saja Emily duduk, sebuah tangan gemuk sudah melingkari pinggangnya. Emily tertegun, segera bangkit berdiri dan menyiramkan jus buah ke tubuh pria yang menyentuhnya.

Ada seseorang yang memperhatikan gerakan itu dan berteriak, "Oh Tuhan, Tuan Alex!"

"Apa yang kamu lakukan, segera minta maaf pada Tuan Alex!"

Sonia datang menghampiri setelah mendengar keributan, "Emily, kamu yang melakukan ini? Cepat minta maaf pada Tuan Alex."

Emily meliriknya dan sembarangan meletakkan gelas kosong di tangannya, berbalik dan berniat untuk berjalan keluar dari ruangan.

Tanpa menunggu Sonia berbicara, semua wanita di sana sudah mulai heboh, "Sonia, sikap macam apa yang ditunjukkan oleh adik sepupumu itu, tidak berpendidikan sama sekali!"

Ada orang lain yang ikut menambahkan, "Sejak kecil ibunya sudah meninggal, ayahnya masuk penjara. Dia dilahirkan tanpa ada orang yang mengasuhnya. Tidak berpendidikan sudah hal yang wajar."

Sonia mengerutkan alis, berkata dengan tak berdaya, "Kalian jangan berkata seperti itu tentang Emily. Walau sikapnya seperti itu, tapi dia bukan orang jahat..."

"Sonia, kamu terlalu bertoleransi terhadapnya. Kita semua tahu orang seperti apa Emily itu..."

"Benar, gadis baik macam apa yang sudah melakukan aborsi sejak SMA!"

"......"

Adegan yang begitu akrab, empat tahun yang lalu juga seperti ini. Emily selalu dibicarakan oleh sekelompok orang di luar gerbang sekolah, seakan semua hal buruk yang tidak pernah dia lakukan itu sudah seharusnya dilimpahkan padanya. Semua orang menjadikannya sebagai pelaku utama dalam setiap masalah.

Emily mengepalkan tangannya, wajahnya dingin, tetapi tidak mengatakan apa pun.

Tuan Alex menyingkirkan tangan gadis-gadis yang berusaha membersihkan wajahnya, mengambil segelas anggur dari tangan orang di sebelahnya. Dia menatap Emily dengan tatapan marah sambil menarik tangannya, "Temani aku minum, setelah itu aku tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi!"

Emily berusaha melepaskan tangannya, tetapi belum sempat dilepaskan, Tuan Alex sudah meletakkan gelas anggur itu di tangannya. Ketika Emily berniat untuk melemparkan gelas anggur itu, tak sengaja kepalanya menoleh dan melihat seorang pria yang sedang memandangnya dengan tatapan dingin.

Pria itu tinggi dan memakai pakaian berwarna hitam, postur tubuhnya kekar. Saat dia sedikit menurunkan wajahnya, fitur wajahnya terlihat begitu dalam. Mata yang gelap dan wajah yang tampan itu terlihat sangat menarik dengan sedikit kesan misterius dan sombong.

Ada seseorang yang berbisik, "Siapa orang itu?"

"Aku tidak tahu dia datang dengan siapa, dia sangat tampan!"