Bab 62 Ayahnya Sedang Mengikuti Kencan Buta?

Ayahnya begitu cepat menghilang.

Melihat bayangan ayahnya yang begitu cepat menghilang, Isabel hanya merasa begitu aneh.

Ibu Isabel berkata:"akhir-akhir ini, ayahmu suka berdandan! Dahulu, dia selalu berkata untuk apa menggunakan baju yang bagus, karena tidak akan ada orang yang melihat. Dan beberapa akhir ini tidaktau mengapa, dia membeli tidak sedikit baju baru. Pada saat aku bertanya, berkata neneklah yang memberinya uang!"

"Sejak kapan nenek begitu baik?" Isabel bertanya, wajahnya begitu tidak enak dilihat:"bukankah nenek selalu ingin menggantikan keluarga kita dengan keluarga paman?"

"Benar, sebanrnya sungguh aneh." Mata ibu Isabel berbinar, berkata:"sudahlah, bagaimanapun, nenek baik kepada ayahmu, itu merupakan satu hal yang baik!"

Isabel berfikir, benar memang merupakan hal yang seperti ini.

Sudahlah, lelaki tidak ada yang suka berbelanja.

Diperkirakan ayahnya tidak suka berbelanja, maka dari itu pergi mencari beberapa alasan.

Tidak apa-apa, lagi pula malam ini dia akan membawa ayah dan ibunya kekota.

Dia membeli sendiri terlebih dahulu, jika tidak cocok, maka tinggal menukarkannya!

Isabel menggandeng tangan ibunya dengan gembira pergi bebelanja.

Setiap kali ibu Isabel melihat harga selalu berkata agar tidak usah membelinya, tetapi Isabel tidak pernah mendengarkannya! Hanya dengan ibunya cocok menggunakannya, maka Isabel pasti akan menggesekkan kartu untuk membelinya!

Melindungi ibunya dan membuat ibunya bahagia, adalah keinginan terbesar dari Isabel!

Setelah Isabel memberikan beberap baju dan sepatu untuk ibunya, baru berhenti pada saat ibunya mati-matian meminta dia untuk tidak membayar lagi.

Melihat barang belanjaan ditangannya, benar-benar tidaklah sedikit.

Dengan kedua pengawal yang mengikuti dia belakang, dalam sekejap berubah menjadi orang yang membawa belanjaan mereka.

Isabel berkata kepada mereka:"baiklah, sangat menyusahkan kalian! Bantu aku mengembalikan barang ini ke hotel, aku dan ibuku akan mencari tempat untuk makan, nantinya kami akan pulang!"

Pengawal itu merasa ragu:"tetapi presdir memberi perintah, menyuruh kami mengikuti kalian??."

Sejak peristiwa dirinya yang tertumbur mobil, Ravindra sudah tidak bisa lagi merasa tenang jika Isabel berada sendirian diluar sana.

Isabel meskipun juga merasa tidak berdaya, tetapi, itu semua adalah niat baik dari Ravindra.

Tidak peduli dia melakukannya demi anaknya atau demi apapun, tetapi dianggap penting oleh seseorang selalu terasa memabahagiakan.

Ibu Isabel melihat Ravindra begitu memperdulikan Isabel, didalam matanya penuh dengan tatapan penuh rasa kagum.

"Baiklah, kalian juga carilah tempat untuk beristirahat!" Isabel melihat dirinya yang tidak bisa menang dari lawannya, hanya bisa berbicara seperti ini.

Ibu Isabel juga tidak ingin Isabel merasa begitu kesusahan, terlebih lagi dia sekarang sedang hamil!

Sekarang masih belum terlihat, tetapi sangat mudah merasa kelelahan.

Ibu Isabel mencari alasan berkata jika dirinya lelah, hanya untuk mencari tempat untuk makan dan beristirahat saja.

Isabel duduk bersama dengan ibunya, dan memesan makanan satu meja penuh.

"Untuk apa memesan begitu banyak sungguh membuang-buang uang! Memesang air untuk di minum sudah cukup." Ibu Isabel tidak rela melihat Isabel mengeluarkan begitu banyak uang.

"Ibu, hari ini pada siang hari ibu pasti tidak makan dengan baik." Isabel berkata:"aku juga kebetulan merasa lapar, kita makanlah dulu sedikit, malam hari pada saat pulang ke hotel kita sudah tidak perlu makan lagi! Pada saat ini, nafsu makanku seperti sudah jauh membaik!"

"Kamu sekarang satu orang makan dan dua orang yang mencerna, tentu saja akan merasa lapar. Kamu makanlah banyak sedikit, ibu sudah cukup dengan minum air." Ibu Isabel dengan lembut berbicara dengan Isabel.

Isabel hanya tersenyum.

Ibunyalah yang paling mencintai dia.

Dengan cepat, makanan yang dipesan oleh Isabel diantar sampai kemeja mereka.

Isabel berkata kepada ibunya:"tolong lihat sebentar barang-barang ini, aku ingin pergi mencuci tangan!"

"Baik." Ibu Isabel tersenyum dan berbicara:"cepat kembali!"

Isabel penuh dengan bahagia pergi ke kamar mandi

Belokan didepan sana sudah adalah kamar mandi.

Pada saat Isabel bersiap untuk masuk kedalam kamar mandi, dia mendengar suara yang familiar tiba-tiba terdengar dari arah yang tidak jauh:"ini adalah keadaanku! Kamu lihat, jika kamu bersedia, maka kita bisa membicarakannya baik-baik."

Tangan Isabel yang ingin mendorong pintu berhenti sejenak.

Ayah?

Mengapa ayah bisa berada disini?

Bukankah ayah berkata ingin melihat barang untuk nenek?

Apakah ayah juga memiliki teman di kota? Dahulu mengapa aku tidak pernah mendengar ayah menyebutkannya?

Isabel memutarkan badan, mendengar suara perempuan:"aku sangat puas dengan kondisimu! Setelah begitu lama, aku juga ingin membina satu keluarga. Karena kamu tidak masalah jika aku membawa seorang anak, aku juga tidak takut berbicara hal yang sesungguhnya kepada dirimu, menunggu hingga kita menikah, aku bisa kembali melahirkan satu anak untukmu!"

Menikah?

Isabel dalam sekejap dibuat termenung

Ayah??..wanita itu??.

Bagaimana bisa seperti ini?

Isabel sudah tidak ingin mencuci tangannya lagi, menyapukan pandangan matanya, dan duduk dibangku yang kosong.

Dari posisi tersebut, dengan baik bisa mendengar pembicaraan meja sebelah dengan sangat jelas.

Pada saat ini ayah Isabel tersenyum dan berkata:"aku seumur hidup ini tidak memiliki anak sendiri, cukup disayangkan. Maka dari itu, aku menginginkan memiliki anak sendiri!"

"Maka mengapa kamu bercerai?" lawannya mengejar pertanyaan:"karena istrimu tidak bisa melahirkan anak?"

"Benar." Ayah Isabel menjawab.

Bercerai?!

Hati Isabel tiba-tiba merasa begitu sakit.

Apa yang dia dengar?

Apakah dia sedang mendengar ayahnya yang sedang melakukan perjodohan?

Dan ayahnya masih berkata kepada wanita itu, jika dia sudah bercerai!

Dia masih berkata, seumur hidup tidak memiliki anak adalah penyesalannya!

Mengapa?

Ayah, mengapa? Mengapa ayah menghianati ibu!

Ibu demi keluarga Khosasie, sudah berkorban begitu banyak, mengapa ayah masih menghianati! Bukankah ayah berkata seumur hidup hanya menginginkan aku sebagai anakmu?

Hati Isabel dalam sekejap merasa begitu sakit, lebih banyak adalah amarah!

Berkhianat, adalah hal yang paling dibenci Isabel!

Dalam waktu dekat, dia 3x bertemu dengan orang yang berkhianat.

Isabel memgang erat kursi, menggunakan seluruh tenaga, agar tidak pergi bertanya kepada ayahnya.

Ayah, ayah seprti ini memperlakukan ibu, apakah adil?

Sudah beberapa tahun, ibu demi keluarga ini berkorban begitu banyak, menahan segala caci maki!

Ibu terhadap orang tua berbakti, terhadap anak menyayangi! Apa yang salah, mengapa bisa menerima hal seperti ini?

Ibu karena mencintai dirimu barulah menahan semua ini!

Tidak bisa melahirkan anak apakah sudah boleh menghukum ibu dengan cara seperti ini?

Jika ayah menyalahkan ibu tidak bisa melahirkan anak, mengapa pada saat itu tidak bercerai?

Mengapa terus menjalani hingga saat ini, hingga ibu sudah tidak dalam masa keemasannya?

Terlebih lagi, didalam ibu yang sama sekali tidak mengetahui keadannya, menyembunyikan keadaan dari pernikahan untuk pergi mencari jodoh!

Ayah, aku sangat kecewa kepada ayah!

Tidak, sungguh kecewa!

Pada saat nenek membully ibu, ayah sama sekali tidak pernah keluar untuk membelanya, aku hanya merasa sangat kecewa, dan sekarang??..aku tidak akan lagi mengakui jika aku bermarga Khosasie!

Isabel membesarkan matanya, air matanya sudah mengalir.

Bagaimana dia harus mengatakan hal ini kepada ibunya?

Apakah ibunya bisa menerima semua hal ini?

Mereka berdua semakin mengobrol semakin merasa suka.

Mendengar apa yang dikatakan ayahnya, ayahnya ternyata bisa mengatakan kata-kata romantis, dia benar-benar merasa begitu sakit.

Handphonenya tiba-tibe berbunyi, Isabel dengan segera mematikan suara handphonenya, melihat nama di layar tersebut, air mata Isabel tidak dapat lagi ditahannya.

Pada saat dirinya merasa tidak berdaya, ternyata orang yang paling ingin dia temui adalah dirinya!

Isabel dengan segera meninggalkan tempat tersebut dan mengangkat telepon, didalam telepon terdengar suara penuh kekhawatiran:"mengapa begitu lama baru mengangkat telepon?"

"Ravindra??.aku harus bagaimana??." Memutarkan badannya berjalan keluar restoran, tidak bisa menahan kesedihannya:"aku melihat ayah! Ayah berkata kepada kami, jika dia ingin membeli berang untuk nenek, tetapi dia berada di rumah makan yang sama dengan kami, dan dia sedang melakukan perjodohan!"

Ravindra memegang handphonenya, alis matanya berkedut, matanya merasa tidak berdaya.

Dia akhirnya mengetahuinya??..

Jika dia tau, ayahnya bukan hanya hari ini saja melainkan perjodohan, tetapi sudah memulainya dari seminggu yang lalu??.apakah dia akan semakin bersedih?

"Jangan menangis, kamu dimana? Aku akan segera sampai!" Ravindra dengan segera menjawab:"jika kamu tidak ingin merobek kamuflase keluarga bahagia mu, maka aku bisa membawa kalian pergi!"

"Aku tidak tau harus bagaimana! Ravindra, apakah aku harus memberitau ibu? Tetapi, tidak memberitau kepada ibu aku akan merasa begitu bersalah." Isabel memeluk handphone berkata:"tetapi jika memberitau ibu, aku takut ibu tidak akan bisa menerimanya??."

"Maka pulanglah terlebih dahulu, tenangkan dulu pikiranmu barulah nanti kita akan membicarakannya. Aku sebentar lagi sudah akan sampai! Tunggu aku!" Ravindra membuang pena ditangannya, menutup telepon dan berkata kepada Nando:"segera tanyakan dengan jelas dimana posisi mereka saat ini."

"Baik, presdir." Nando dengan segera menelepon pengawal Isabel, setelah memastikan lokasinya dia dengan segera pergi bersama dengan Ravindra.

Ibu Isabel merasa curiga, Isabel berkata hanya pergi kekamar mandi, tetapi mengapa dia pergi begitu lama.

Ibu Isabel baru saja ingin mencari putrinya, tetapi tidak menunggu dia hingga berdiri melihat Isabel dengan mata memerah berjalan masuk dari pintu luar.

Ah? Dia tadi pergi keluar?

Dan menangis?

Dia ini kenapa?

Ibu Isabel menatap Isabel dengan penuh kekhawatiran:"Isabel, kamu kenapa?"

"Tidak apa-apa, ibu! Aku baru saja pergi kekamar mandi untuk memperbaiki makeup ku, dan tidak berhati-hati memasukkannya kedalam mataku." Isabel berbohong dengan tidak melihat kondisi, semenjak dia hamil dia sudah tidak lagi bermake up, kecuali dalam kondisi yang benar-benar mengharuskan!

Karena putrinya tidak ingin berbicara, maka sebagai ibunya dia juga tidak lagi bertanya lebih banyak.

Ibu Isabel menunjuk makanan di atas meja:"kamu cepatlah makan, sudah memesan begitu banyak! Jangan menyia-nyiakannya! Sayur disini sungguh mahal!"

Isabel sekarang sama sekali tidak memiliki niat untuk memakan sesuatu, didalam hatinya terus dilanda keraguan, apakah dia harus memberitau ibunya?

Melihat Isabel yang seperti ini, ibu Isabel merasa begitu panic.

"Isabel, apakah terjadi sesuatu denganmu? Jangan takut, ada ibu disini! Ibu sekarang sudah melunasi hutang pamanmu, sekarang ibu bisa pergi bekerja mencari uang!" ibu Isabel tidak bis amenahan dan berkata:"jika terdapat sesuatu katakanlah kepada ibu!??

Ibu, Karena hutang sudah dilunasi, maka lebih baik ibu hidup saja di kota! Dengan begini ibu lebih mudah menjaga aku!" Isabel mengatakannya!