Bab 44 Isabel, Maaf

Ya, aku Isabel memang wanita rendahan.

Dari sewaktu aku lahir juga sudah ditinggalkan oleh orang tua, untungnya tidak mati, dan dipungut oleh ibuku ke rumah, dibesarkannya seperti anak kandung, tetapi tetap tidak disayang oleh ayah, tidak dicintai oleh nenek, dan terus ditekan oleh sekeluarga.

Awalnya berpikir diri sendiri sudah besar, bisa mendapatkan pria yang benar-benar mencintaiku, mempunyai kehidupan baru, tetapi malah ditampar keras oleh kenyataan.

Apakah situasi sekarang sesuai dengan keinginanku?

Kalau malam itu tidak terjadi, apakah hasilnya tidak akan seperti ini?

Ravindra membuka setiap pintu yang ada di dalam kamar mandi, hanya ada satu pintu yang masih tertutup rapat.

Ravindra tahu Isabel ada di dalam, dia tahu sewaktu Isabel menangis dengan penuh kesakitan, sebenarnya dia tidak akan mengeluarkan suara.

Saat ini, sedikit suara juga tidak terdengar di dalam kamar mandi, sekarang dia pasti sangat putus asa?

Matilah, mengapa teringat Isabel yang sedang menangis tanpa suara hatinya juga mulai sakit?

Dia malah khawatir kalau dia mendobrak pintu toilet, secara tidak sengaja akan melukainya, jadi dia rela berdiri di depan pintu dan menunggunya!

"Isabel, aku...." Ravindra terhenti, dia yang selalu pintar berbicara di depan publik, sekarang dia malah kehilangan kata-kata untuk diucapkan pada Isabel.

Isabel dengan perlahan-lahan menutup matanya, dengan lemas bersandar di dinding, tidak mengeluarkan suara apapun.

Saat ini, dia tidak ingin bertemu dengan siapapun, dia juga tidak ingin mendengarkan penjelasan dari siapapun.

Dan saat ini Nando juga berjalan masuk, dia memberikan kunci kepada Ravindra.

Ravindra tidak menerima kuncinya, tetapi dia malah dengan bersusah payah mengatakan ucapan ini ke Isabel yang mengurung dirinya di dalam toilet :"Isabel, maaf."

Setelah Ravindra mengatakan kata ini keluar, semua orang yang berada di sekitarnya juga mengangkat kepala dan membesarkan mata mereka!

Apakah ini direktur mereka, ini juga pertama kalinya dia mengatakan kata maaf!

Isabel yang berada di dalam, juga mendengar semua ucapannya dengan sangat jelas, sangat sangat jelas.

Maaf? Ada guna?

Dirinya hanyalah sebuah hadiah yang murahan.

Isabel tidak mengeluarkan suara apapun.

Walaupun dia tahu kalau dia berbuat begitu, juga tidak akan mengubah semua ini, tetapi dia tidak bisa melewati perasaan dalam hatinya.

"Isabel, kamu sudah cukup belum?" kesabaran Ravindra sudah habis, dia juga mengulurkan tangan untuk menghancurkan kunci toilet, kemudian dengan sekuat tenaga membuka pintunya.

Kata yang seharusnya akan diucapkannya, juga dengan cepat ditelannya ke dalam perut.

Dia melihat tikus kecil yang terus bergetar dan bersembunyi di satu sudut, mengeluarkan air mata tanpa suara, dengan pandangan penuh keputus asaan menatapnya.

Tikus kecil....

Otak Ravindra dengan cepat kembali tenang, dia memesan semua orang :"Kosongkan tempat ini."

"Baik, direktur." Nando segera melaksanakan perintah direkturnya, kemudian mengusir semua orang yang berada di sekitar.

Isabel juga mengangkat kepala dan melihat pria yang berdiri di depannya itu.

Pria ini sangat dekat, tetapi juga sangat jauh.

Pandangannya semakin lama semakin kabur, tidak peduli berapa kali dia mengedipkan matanya, tetapi sepertinya air matanya tidak bisa berhenti mengalir.

"Isabel, kemarilah, datang ke sisiku." Ravindra tidak tahu dirinya bisa berbicara dengan nada selembut ini.

Isabel dengan bingung terus menatap Ravindra.

Ke sisinya? Dimana sisinya itu?

Apakah dirinya masih bisa kesana?

Ravindra melihat tikus kecil yang penuh dengan luka itu, dia melihat pandangannya yang penuh dengan keasingan dan ketakutan, tidak tahu mengapa, hatinya juga mulai sakit lagi.

Apakah dia tidak memercayainya lagi?

Betul juga, apakah dia mempunyai alasan untuk memercayainya?

Bukankah semua ini terjadi karena dia?

"Isabel....tidak akan ada orang yang meninggalkanmu lagi." Ravindra dengan perlahan berjalan ke arah Isabel, dan menarik Isabel keluar.

Awalnya Isabel ingin melawan, tetapi bagaimana mungkin dia bisa melawan tenaga Ravindra.

Dia tidak bisa melawan, kemudian, dirinya juga sudah masuk ke dalam pelukan yang aman.

"Kalau kamu ingin nangis, maka nangislah disini, jangan bersembunyi di dalam untuk menangis." Suara Ravindra yang sangat rendah dan serak, penuh dengan perasaan bersalah, dan sedikit perasaan yang tidak bisa dikatakan.

Sebenarnya Isabel tidak ingin menangis di dalam pelukan Ravindra, tetapi sekarang dia masih bisa menangis di dalam pelukan siapa?

Andika? Jennifer?

Atau ayah dan ibu yang berada di tempat yang jauh?

Dunia begitu besar, tetapi dia begitu miskin sesampai satu bahu untuk melindunginya saat dia ingin menangis juga tidak ada.

Kedua tangan Isabel mencengkram kemeja Ravindra, dia juga tidak bisa menahan air matanya lagi, dia juga menangis dengan sepuasnya.

Ravindra, hari ini aku pinjam dadamu sebentar. Kedepannya aku tidak akan meminjamnya lagi.

Aku tidak akan menangis seperti ini di depanmu lagi.

Aku akan melakukan kewajibanku dengan baik, melakukan....kewajiban sebuah hadiah.

Aku tidak akan berharap sesuatu yang lebih lagi, aku akan dengan baik, dengan patuh, melakukan semuanya dengan sempurna sampai di hari kontrak kota berakhir.

Merasakan semua emosi yang keluar dari Isabel, tangan Ravindra membeku di udara selama 3 detik, akhirnya tangannya juga diposisikan di kepala Isabel, dengan ringan mengelus-elus rambutnya yang sudah berantakan itu.

Dia sama sekali tidak pernah menghibur seorang wanita, pertama kali dia melakukan hal ini, tiba-tiba dia menyadari, sepertinya semua hal ini lebih mudah dari pikirannya.

Atau boleh dikatakan, sebenarnya dia tidak keberatan wanita ini mengelap semua air mata dan ingusnya di jasnya yang berharga 400 juta.

Tikus kecil yang tadinya masih begitu jauh dan takut, sekarang juga sudah berubah menjadi begitu lembut sewaktu menangis.

Ravindra sama sekali tidak tahu bahwa air mata seorang wanita bisa sebanyak ini, sudah menangis begitu lama, apakah dia tidak lelah?

Isabel juga tidak tahu dirinya sudah menangis berapa lama, dia hanya tahu kakinya sudah mati rasa.

Yang paling aneh adalah, Ravindra selalu menemaninya berdiri disana, dan membiarkannya mengotori jas dan kemeja putih yang berharga itu.

Isabel merasa tenggorokkannya sudah hampir serak, walaupun dia tidak mengeluarkan suara apapun selama dia menangis, tetapi mengeluarkan air mata untuk jangka waktu yang sangat panjang membuatnya merasakan bahwa hidungnya pedas dan tenggorokkannya serak.

"Maaf, aku sudah mengotori bajumu." Isabel akhirnya kembali sadar, dia pelan-pelan keluar dari pelukan Ravindra.

Ravindra menundukkan kepala melihat tikus kecil yang berpura-pura kuat ini, dia juga menjawabnya :"Tidak apa-apa, kamu cuci bersih saja."

Setelah Isabel mendengar jawaban ini, dengan suara yang serak dia bertanya :"Seharusnya aku berterima kasih padamu, karena kamu tidak menyuruhku untuk membelikanmu baju baru kan?"

"Aku takut kamu tidak sanggup." Ravindra dengan suara ringan menjawabnya.

Tidak tahu mengapa, Isabel yang tadinya menangis dengan sangat histeris, setelah mendengar jawaban Ravindra, dia juga tidak tahan untuk tertawa.

Baiklah, ini adalah satu-satunya sedikit kehangatan yang diterimanya pada hari ini.

Ravindra dengan cepat membawa Isabel meninggalkan perusahaan.

Setelah masalah ini terjadi hari ini, sepertinya kerja sama dengan perusahaan Korea juga tidak bisa dilakukan lagi, masalah belakang masih sangat memusingkan.

Rumah besar keluarga Kitadara juga berada di Kota N, di Kota S juga ada villa yang bernilai 2 triliun.

Pengurus rumah tangga dari awal juga sudah menerima telepon, dan telah menunggu di villa.

Ravindra membawa Isabel masuk ke dalam villa, dia juga menyerahkan Isabel ke pengurus rumah tangga, kemudian dirinya pun pergi mengganti baju dan menyetir meninggalkan villa.

Isabel memutar kepala, dia hanya sempat melihat bayangan belakang tubuh Ravindra.

Dulu terhadap bayangan belakang Ravindra, dia tidak pernah merasakan perasaan apapun, tetapi di saat ini, Isabel merasa dalam hatinya juga mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ada.

"Nyonya, Tuan pergi menjelaskan kejadian hari ini kepada Presiden dan nyonya perusahaan Korea." Pengurus rumah tangga mengira Isabel ingin tahu tujuan Ravindra, maka dari itu dia juga sibuk menjelaskannya.

Masalah yang terjadi hari ini di toilet, walaupun Nando sudah mengosongkan sekitarnya, tetapi pengurus rumah tangga melalui jalan lain sudah mengetahui apa yang dilakukan oleh tuannya dan hal ini juga belum pernah dilakukan oleh tuannya selama seumur hidup.

Isabel mengangkat kepalanya, kemudian dengan perlahan-lahan membalik badan :"Oh, begitu ya."

Dia pergi kemana, dia melakukan apa, apakah dirinya mempunyai hak untuk menanyakannya?

"Kamar sudah disiapkan, apakah nyonya ingin beristirah sejenak dulu?" pengurus rumah tangga dengan sopan bertanya.

"Terima kasih." Isabel memaksakan dirinya untuk tersenyum kepada pengurus rumah tangga, tetapi senyuman itu lebih jelek dari sewaktu dirinya menangis.

Pengurus rumah tangga mengehela nafas dengan ringan.

Dia berharap setelah bencana ini terlewati, kehidupan tuan dan nyonya bisa semakin lancar.

Isabel berbaring di kasur, mungkin karena dirinya terlalu lelah, dengan wajah yang penuh bekas air mata juga tertidur lelap.

Tidak tahu dia sudah tidur berapa lama, sewaktu dia dengan bingung terbangun, dia juga mendengar suara percakapan dari luar pintu :"Tuan, bagaimana?"

Suara lelah Ravindra juga terdengar ke dalam :"Beritahu nenek, sikap pihak lain sangat tegas, mungkin akan sedikit susah."

Pengurus rumah tangga langsung menjawab :"Maksud dari nyonya tua adalah bagaimana kalau bawa nyonya kecil untuk menjelaskannya?"

Ravindra ragu untuk sesaat, kemudian berkata :"Isabel dia....dengan kondisinya sekarang, takutnya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan ini. Aku pikir cara lain lagi...."

Kemudian pintu juga didorong terbuka, Isabel menutup matanya berpura-pura tidur lagi.

Ravindra melihat Isabel yang masih tertidur, sejenak dia juga lega, dengan lelah melepaskan jasnya dan memberikannya ke pengurus rumah tangga, dan berkata :"Baiklah, semuanya keluarlah."

"Baik, tuan." Pengurus rumah tangga membawa sekelompok pelayan wanita untuk turun ke bawah, di dalam kamar juga hanya tersisa Isabel dan Ravindra saja.

Nafas Isabel sejenak juga semakin berat, untuk tidak membiarkan Ravindra menemukan dia sedang berpura-pura tertidur, dia membalik badan, dan menghadap ke arah dinding.

Ravindra seperti tidak menemukan keanehan Isabel, dengan cepat juga masuk ke kamar mandi untuk mandi, kemudian dia juga berbaring di kasur dengan tubuh yang penuh dengan uap air.

Isabel terus membesarkan matanya, dia berusaha keras mendengar gerakan yang ada di belakangnya.

Sewaktu dia mendengar Ravindra yang naik ke kasur, dan berbaring di sisinya, pikiran dalam otaknya seketika menjadi kosong.

Dia....dia berani-beraninya.....tidur dengannya di satu kasur?

Apakah dia tidak berencana tidur di ruang kerja atau kamar tamu?

Dia hanya salah masuk kamar sewaktu ulang tahun, maka dari itu dirinya baru tidur sekasur dengannya. Dan beberapa hari ini, dia juga tidur sendiri!

Mengapa hari ini dia masuk ke kamarnya?

Ravindra baru saja terbaring, dia berbalik, dan melihat punggung Isabel yang mengeras.

Apa posisinya sekarang? Sewaktu dia tidur, dia bukan seperti ini, sewaktu dia tidur dia akan tanpa sadar masuk ke dalam pelukannya..... Apakah, dari awal dia sudah bangun?

Melihat Isabel yang berusaha untuk berpura-pura tidur, hati Ravindra yang sangat kacau juga perlahan-lahan menjadi tenang.

Ujung matanya berkedip sesaat, matanya juga bersinar terang, suasana hatinya juga semakin membaik.

Ravindra juga tidak tahu mengapa dirinya berbuat begitu, dia juga mengulurkan tangan, dan menarik Isabel yang sedang berpura-pura tertidur ke dalam pelukannya.

Isabel sama sekali tidak terpikirkan bahwa Ravindra bisa begitu berani menariknya masuk ke dalam pelukannya.

Karena begitu terkejut, Isabel juga sudah lupa bahwa dia sedang berpura-pura tertidur, dia dengan bingung menatap terus dada Ravindra yang begitu putih dan sempurna.

Aura panas, pelan-pelan mengalir dari badan pihak lain.