Bab 37 Belajar Bahasa Korea

Rumah Keluarga Kitadara tentu saja indah dan mewah bagai istana.

Hanya saja karena kamarnya terlalu luas, kelihatannya menjadi sangat kosong.

Ketika Isabel melihat meja makan yang begitu panjang, ia sudah mencuri-curi menelan ludah.

Meja makan yang begitu panjang, mungkin saja wajah orang yang ada didepannya pun sudah tidak terlihat jelas.

Tetapi, karena cuman ada tiga orang yang makan, jadi mereka tidak duduk begitu jauh, jarah antara mereka bertiga cukup dekat.

Isabel pun menunjukkan tata cara makan yang sudah dipelajarinya dan makan dengan perlahan, melihat cara makan Isabel, Nenek Kitadara pun tidak bisa menahan dirinya dan mengerutkan dahinya.

"Isabel ." Nenek meletakkan garpunya dan dengan perlahan membuka mulutnya.

Isabel pun segera meletakkan garpunya dan berkata: "Nenek ada apa?"

"Dari Korea sana sudah ada pesan, mereka sudah memastikan akhir minggu ini akan datang. Minggu ini kamu jangan pergi kerja lagi, kamu istirahat dengan baik dirumah, sekalian belajar sedikit tata cara dan tata krama yang ada di keluarga kami." Nenek berbicara dengan nada bicaranya yang datar: "Aku akan menuruh guru khusus yang mengajarimu tentang tata cara dan tata krama, tata cara kamu masih sangat kurang."

Wajah Isabel pun langsung memerah.

Statusnya sejak kecil adalah orang biasa, bagaimana bisa ia mengerti begitu banyak tata cara?

Isabel tidak berani melawan, ia hanya menundukkan kepalanya dan tidak berani mengatakan apa-apa.

Dulunya Ravindra tidak akan membiarkan orang yang makan tanpa tata krama, tetapi hari ini ketika ia melihat Isabel tidak tahu harus berbuat apa, ia langsung berkata: "Tata cara seperti ini siapa yang langsung bisa dalam satu dua hari? Pelan-pelan nanti dia juga akan terbiasa."

Nenek Kitadara sedikit terkejut melihat sikap cucunya yang berubah, ia pun melihat ke arah Ravindra dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan.

Sepertinya apa yang dikatakan Bi Narti tidak salah,Ravindra sepertinya benar-benar sudah banyak berubah.

Isabel sama sekali tidak menyangkah Ravindra akan membelanya, saat itu juga ia merasa sangat terkejut.

Tetapi sedihnya, Ravindra sama sekali tidak melihat ke arah Isabel .

Isabel pun dengan sopan menunggukkan kepalanya dan menatap makanan yang ada didepannya.

Dengan susah payah setelah ia menyelesaikan makanan yang ada dipiringnya, Isabel ada sedikit perasaan tidak begitu senang.

Rumah yang ditinggalinya sekarang ini sudah cukup besar, tetapi kalau dibandingkan dengan rumah Keluarga Kitadara, rumah mereka ternyata kecil sekali.

Tetapi rumah Keluarga Kitadara yang begitu besar dan mewah hanya memberikan perasaan tertekan kepada Isabel .

Ia lebih memilih untuk memakan mie instan di rumahnya dari pada harus tinggal di rumah seperti ini.

Ravindra bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Isabel, jadi ia pun tidak banyak makan lagi dan membawa Isabel pulang dari sana.

"Nenek tidak ada maksud lain." Ravindra sambil mengendarai mobilnya sambil berkata.

Isabel pun meloleh dan melihat ke arahRavindra dan berkata: "En?"

Dengan gayanya yang dingin ia tiba-tiba berkata seperti ini? Apa maksud pembicaraannya?

Sekali lagi ia melihat tatapan mata Isabel yang bingung, Ravindra pun merasa semakin kasihan kepadanya.

"Ketika tadi kita makan siang, Nenek tidak bermaksud untuk merendahkanmu, jadi kamu jangan merasa tersingkirkan." Ravindra berkata dengan lembut: "Kalau saja ada guru khusus yang mengajarimu, satu minggu saja kamu sudah bisa mempelajari semuanya, ada banyak orang yang sama sekali tidak mengerti tentang tata cara pun bisa menguasainya dalam waktu satu minggu."

Kali iniIsabel baru menyadari apa yang sedang dibicarakan Ravindra .

Sebenarnya ia tidak mengkhawatirkan ini!

Yang ia khawatirkan adalah ketika anak yang dikandungnya sudah dilahirkan, dia harus tinggal dirumah yang mewah itu atau ia boleh memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri?

Tetapi, sepertinya pertanyaannya ini masih terlalu cepat, ia sendiri yang terlalu banyak berpikir.

Setelah mendengar Ravindra menjelaskan kepadanya, ia baru membuka mulut dan berkata: "Ah, aku tidak berpikir seperti itu. Hanya saja yang menyambut Direktur dan istri Direktur Korea itu tidak bisa digantikan orang lain? Apakah harus aku yang melakukannya?"

Ravindra menganggukkan kepalanya dan berkata: "Ini adalah permintaan dari pihak Korea."

Isabel berpikir sejenak, lalu menjawab dengan susah "Aku bisa menyelesaikan tugasku!"

Sebenarnya Ravindra ingin sekali mengatakannya kepada Isabel, jangan mengganggap ini adalah sebuah pekerjaan. Tetapi ia memilih untuk tidak memberitahukannya, wanita ini sangat serius terhadap pekerjaannya, kalau saja bilang ini bukan sebuah pekerjaan, mungkin ia akan bersembunyi?

Kalau seperti itu, lebih bagus biarkan saja ia terus berpikir seperti ini.

Maka dari itu, beberapa hari setelah kejadian itu, Isabel pun diajari oleh guru khusus untuk mengajarinya tentang tata cara dan ia pun mempelajarinya dengan sangat serius.

Walaupun ia belajar dengan mendadak, tetapi harus dikatakan kalau Isabel termasuk wanita yang cerdas, dia bisa mengangkapnya dengan sangat cepat.

KetikaRavindra pulang dari kerja dan masuk ke rumah, ia pun melihat Isabel yang sedang menghafal kosakata Bahasa Korea: "Sarangheo......"

Ketika mendengar Isabel menghafal kata ini, Ravindra pun berdetak kencang.

Apakah wanita ini tahu apa arti dari kata yang sedang ia baca?

"Annyonghaseo......." Isabel pun melanjutkan menghafal kata yang lain.

Ravindra pun dengan perlahan berjalan masuk dan dengan sengaja bertanya kepadanya: "Dalam bahasa korea bagaimana mengatakan aku cinta padamu?"

"Sarangheo!" Isabel pun langsung menjawabnya tanpa berpikir panjang.

"En? Aku tidak mendengarnya dengan jelas." Ravindra sengaja menyuruhnya untuk mengatakannya lagi.

"Sarang......." Isabel menganggkat kepalanya dan melihat ke arah Ravindra, lalu ia pun sedikit terkejut dan langsung beranjak berdiri: "Kamu sudah pulang yah!"

Aduh, memalukan sekali! Aku sudah belajar dua hari tetapi masih tidak bisa membacanya dengan benar.

Tetapi ia sendiri mengingat kalau beberapa hari yang lalu ia mendengar Ravindra bertelepon langsung menggunakan Bahasa Korea, standar Bahasa Koreanya yang seperti ini benar-benar membuat ia merasa sangat malu.

"Kenapa mau belajar kalimat ini?" tatapan mata Ravindra dengan perlahan menjadi semakin berbinar, dia sendiri juga tidak tahu ia sedang menunggu apa.

Isabel melihat Ravindra dengan bingung, lalu menjawabnya: "Tidak tahu, Guru tata cara yang mengajarinya, aku hanya mengikutinya saja!"

Ravindra memendangnya dan tidak mengatakan apa-apa, lalu ia membalikkan badannya dan pergi.

Isabel mengedip-ngedipkan matanya dan melihat bayangan Ravindra yang pergi dan ia masih belum kembali ke kesadarannya.

Dia kenapa marah? Emangnya ia menjawab salah?

Jadi ia seharunya menjawabnya apa?

Ada baiknya ia sudah mulai terbiasa dengan sikap Ravindra yang seperti ini, jadi ia pun malas mempedulikannya lagi.

Ketika waktu makan malam, Ravindra masih saja marah, Isabel benar-benar tidak bisa mengerti sebenarnya ia mengatakan apa yang salah?

Isabel berpikir-pikir, sepertinya ia benar-benar tidak coock untuk mendampingi Ravindra menyambut orang korea itu, kalau saja mereka berdua masih dikeadaan seperti ini, bagaimana ia bisa melakukan pekerjaannya dengan baik?

Isabel pun mengalah sedikit dan ia secara otomatis mengambilkan makanan untuk Ravindra .

Sejak malam hari itu mereka makan malam dengan sangat bahagia, bakpau sekarang menjadi makanan wajib mereka.

Ravindra awalnya sedikit marah, tetapi ketika melihatIsabel mengambilkan makanan untuknya, ia pun langsung teringat dengan makam ketika mereka berdua memakan bakpau.

Ketika ia teringat dengan malam itu, amarah yang ada didalam tubuh Ravindra pun mulai reda, lalu ia pun menjulurkan tangannya dan makan.

Isabel melihat ke arahRavindra dengan tatapan penuh pengharapan, pandangan Ravindra akhirnya pun mulai menjadi lebih lembut.

Isabel pun menggunakan pandangannya yang berbinar-binar itu untuk memuaskan Ravindra .

"Ada apa? Kenapa melihat aku seperti ini, emangnya ada hal apa yang kamu mau dari aku?" Suara Ravindra pun sedikit merendah.

Dia sudah beberapa hari bersama dengan Ravindra, tetapi ini adalah kali pertamanya ia menatapnya dengan pandangan seperti ini, tentu saja tetapan ini membuat Ravindra merasa sedikit puas.

Kelihatannya cara membuatnya puas itu tidak begitu susah.

Isabel menatapnya dengan pandangan yang berbinar-binar lalu menganggukkan kepalanya dan diikuti dengan ia menggelengkan kepalanya.

Ravindra langsung mengangkat alisnya, lalu ia melihat ke arah Isabel, lalu ia lanjut makan dan berkata: "Katakanlah."

Isabel mengigit-gigit bibirnya dan berkata; "Nenek bilang, minggu ini orang korea itu sudah mau datang. Hari ini aku sudah memikirkannya dengan jelas, aku sepertinya tidak ada bakat untuk mempelajari Bahasa Korea."

"Lalu?" Ravindra sudah bisa menebak apa yang mau dikatakan Isabel, cepat katakan, cepat suruh aku bantu ngajarin kamu Bahasa Korea! Bahasa Korea aku tentu saja lebih bagus dari guru itu!

Isabel melihat ke arah Ravindra dan berkata: "Nanti ketika orang korea itu sampai, aku boleh senyum saja tidak, aku tidak mengatakan apa-apa?"

Senyuman diwajah Ravindra mulai menghilang.

Tidak mengatakan apa-apa?

Tidak mau mengatakan apa-apa dan tidak mau belajar bahasa Korea denganku?

Perasaan baik yang tadi dimiliki Ravindra langsung hilang dalam seketika, lalu ia pun meletakkan sumpit yang ada ditangannya di atas meja dan tidak makan lagi.

Isabel terbengong melihat raut wajah Ravindra yang langsung berubah dan membalikkan badannya dan pergi.

Aku salah bicara lagi?

Ada apa yang salah di kalimat yang aku ucapkan?

Tadi bukannya perasaan dia bagus-bagus saja?

Kenapa tiba-tiba langsung berubah?

Ya ampun! Aku sudah mau gila! Aku harus berbuat apa baru bisa membuat dia menjadi baik?

Isabel menghela nafasnya lalu menahan emosinya sendiri dan melihat makanan yang ada didepan matanya bisa dibilang sama sekali belum tersentuh, tetapi ia sudah mulai merasa kenyang.

Pada saat ini, Bi Narti berkata dengan nada sedikit khawatir: "Dengar-dengar Nando bilang, siang ini Tuan Muda tidak makan apa-apa, kalau malam ia masih tidak makan, bukannya dia akan sakit?"

Isabel merasa sedikit khawatir dengannya.

Laki-laki ini.........

Tidak peduli bagaimana pun sekarang Isabel adalah istrinya Ravindra, tentu saja ia tidak boleh berpura-pura seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

Kalau saja sekarang ia tidak peduli dengan suaminya yang belum makan, mungkin saja Bi Narti akan segera memberitahukan kepada Nenek?

Sudahlah, pokoknya sekarang ia sedang tinggal di rumah orang, harus lebih mengalah.

Ini juga bukan pertama kalinya ia mengalah, mengalah sekali lagi apa susahnya?

Isabel menghela nafasnya dan berkata: "Bagaimana boleh tidak makan apa-apa? Bi Narti tolong ambilkan aku sebuah piring, sekarang aku pergi antarkan untuknya.

Bi Narti pun segera menyiapkan apa yang disuruh Isabel, ia pun mengambilkan sedikit-sedikit semua masakan yang ada, dan memberikannya kepada Isabel .

Sejak malam hari itu, ketika Nyonya muda membuatkan makan malam untuknya, dan saat itu Tuan Muda bisa menghabiskan semua makanan itu, sejak saat itu Bi Nartipun sudah tahu hanya Isabel yang bisa membuat Tuan Muda makan saat dia marah.

Saat ini Isabel benar-benar harus pergi dan membawakan makanan untuknya, ia tidak berani untuk menolak dan segera membawakan makanan itu kepadanya.

"Tok tok tok....." Isabel mengetok pintu dan mendorong pintu kamarnya.

Ia bukannya tidak menghormati Ravindra, tetapi ia sudah tidak bisa menahan beban makanan yang ada di tangannya.

Ravindra mengerutkan dahinya dan melihat ke arah Isabel yang membawakan makanan untuknya, Ravindra hanya melihat ke arahIsabel dan tidak mengatakan apa-apa, ia juga tidak mengusirnya.

Ravindra terus menundukkan kepalanya dan melihat komputernya, dan tangannya tidak berhenti mengetik keyboard.

Isabel pun menahan emosinya didalam hatinya dan membantunya untuk menyalahkan sebuah lilin, walaupun ia tahu karakter Ravindra yang aneh ini, tetapi demi kebaikan dirinya sendiri, ia pun terus menahan emosinya.

Kali ini Isabel mengiapkan dua set peralatan makan, lalu ia meletakkannya dimejanya.

Isabel juga tidak mengatakan apa-apa dan langsung berjalan ke arah Ravindra dan meletakkan makanannya di depannya, dan dengan pelan-pelan ia pun mulai memakan makanannya.