Bab 31 Kecelakaan Yang Tidak Terduga

Isabel menilai Vincent dengan melihat dari atas ke bawah, meskipun dia itu termasuk orang yang super cakep, tetapi masih merasa bahwa dia tidak berniat baik. Diperkirakan belakangan ini dirinya sudah terus melihat ketampanan Ravindra, jadi kalau berjumpa dengan pria yang ketampanannya setara dengannya itu sudah merasa terbiasa, jadi dia menjawab: "Menggantikan rugi saja apa harus tanya-tanya melulu? Uangnya langsung kasih sama supir saja sudah cukup."

Ketika Vincent hendak berbicara, Isabel langsung melambaikan tangannya lalu berkata: "Sudah ya, aku masih ada urusan lain. Kartu namamu aku simpan, biaya perbaikan ini kamu sudah pasti tidak bisa mengingkarinya."

Isabel berbalik langsung masuk ke mobil, mendesak supirnya untuk segera pergi dari tempat.

Jika dirinya menunda urusan Ravindra, dirinya pasti akan mati!

Ah, hari ini memang sangat sial. Mungkin saja dia lupa menyembahkan Tuhan!

Setelah Isabel pergi, Vincent menatap bayangan mobilIsabel dalam waktu yang cukup lama.

"Pergi dan periksa nomor platnya untukku." Bola mata birunya Vincent geram, suaranya menggelegar: "Bagaimana bisa dia mirip dengan Sacha?"

"Siap, pak." Asisten di belakangnya menjawab sambil mengangguk kepalanya.

"Apa kamu juga merasa kalau cewek itu mirip dengan Sacha?" Vincent bertanya sekali lagi.

"Dari penampilannya sih iya, cewek ini memang mirip dengan Nona Sacha. Namun, tetapi kalau dari auranya sama sekali berbeda." Asisten itu menjawab dengan hati-hati.

"Ya... Mau dibilang mirip juga tidak. Sachaku tidak pernah begitu sehat selama ini..." Vincent tiba-tiba merasa sedih, dia membuka matanya lagi itupun sudah kembali ke dirinya yang semula: "Ayo pergi, tidak peduli siapa dia, aku akan menyelidikinya dengan jelas."

Isabel akhirnya mengirimkan dokumen tersebut ke tempat tujuan.

Ketika pandangan mata Ravindra melihat pada keringat yang ada di hidung Isabel, dia langsung tahu bahwa dirinya mengantarkan dokumen ini dengan mengejar waktu dengan tidak nyantai.

"Kamu sudah bekerja keras." Ravindra menerima dokumen itu dan berkata kepada Isabel : "Kamu boleh pergi berbelanja hari ini, menikmati hak yang kamu miliki."

Isabel melihat Nando tidak berada di sisi Ravindra, tidak heran sih jika menyuruhnya yang antar ke sini.

Ternyata Nando tidak ada berada di sampingnya.

Isabel berkata, "Tidak apa."

Pada saat ini, seorang pria tampan yang duduk diseberangnya tidak tahan diri untuk berkata: "Tampaknya wanita ini adalah asisten kecil yang disebutkan Raisa? Direktur Ravindra memang benar-benar beda dari yang lain."

"Cepat tandatangani kontrakmu, jangan banyak omong kosong." Ravindra tampaknya tidak menyukai orang lain yang berbicara tentang Isabel. Dokumen-dokumen yang ditangannya langsung dilempar keluar: "Segini saja angkanya yang bisa kukasih, sisanya juga tidak akan lebih dari itu."

Isabel tersenyum dan meninggalkan kantor.

Isabel dengan cepat berjalan keluar dari gedung kantor. Saat di rumah dia ingin keluar, sekarang sudah diluar dia malah merasa tidak ada tempat yang bisa buat dia jalan-jalan, dan akhirnya dia memutuskan pulang ke rumah untuk berlatih piano.

Tentu saja, dia tidak bakalan mengakui alasan dia keluar itu hanya untuk mengantarkan dokumen kepada Ravindra.

Berdiri di jalan raya, Isabel tiba-tiba teringat bahwa mobil tadi yang menumpanginya itu lepas landas terus ninggalin dia dan mengirimnya untuk diperbaiki.

Dirinya juga lupa menceritakan kejadian ini kepada Ravindra.

Jadi sekarang tidak ada mobil yang dapat mengantarkan dia pulang.

Pernikahan kali ini begitu tergesa-gesa, sepertinya rumah yang dulu dia sewa itu masih belum berhenti. Kebetulan hari ini sudah keluar, lebih baik sekarang pergi beres-beres.

Isabel menghentikan taksi jalanan, langsung pergi ke tempat yang dulu dia tinggal.

Belum sampai di tempat tujuan, dia melihat ada seorang yang sepertinya dia kenal di pinggir jalanan, orang itu digerumuti oleh sekelompok orang.

Isabel melihatnya. Apa? Bukankah ini Raisa wakil manager dari Odyssey Group?

Bagaimana dia bisa dikejar oleh sekelompok orang?

"Pak, tolong berhenti sebentar!" Isabel segera menyuruh supir taksinya berhenti. Dia membuka pintu jendela dan melihatnya dengan teliti, itu benar-benar Raisa!

Apa yang sedang terjadi?

Isabel pergi untuk membantu, dia belum sempat bertanya, langsung melihat bahwa ada seorang wanita di belakang Raisa mengambil batu bata dan siap menghantamnya dari belakang kepala Raisa .

Isabel menjerit: "Raisa, awas kepalamu!"

Kalimat ini belum selesai diucap, Isabel langusng menggandeng tangan Raisa, bawa dia berlari ke taksi yang berhenti di sisi jalan tadi.

Raisa berlari bersusah payah karena dia memakai sepatu hak tinggi, dan dia didorong ke dalam taksi oleh Isabel. Belum sempat sadar, dia langsung mendengar Isabel berteriak kepada supir: "Pak, cepat pergi!"

Supir langusng menginjak gas mobil dan meninggalkan sekelompok wanita di belakangnya.

Isabel merasa lega setelah melihat mereka benar-benar tertinggal.

Pada saat ini, Raisa akhirnya menyadari kembali, dia mengulurkan tangan dan melepaskan sepatu hak tinggi, lalu ia melirik Isabel : "Mengapa kamu mau menyelamatkan aku?"

"Bagaimanapun, kita juga saling kenal. Selain itu, Kitadara Finance Group kami juga bekerja sama dengan Odyssey Group kalian, memikirkan kerja sama antara perusahaan kita, aku juga tidak boleh membiarkanmu." jawab Isabel dengan jujur.

Raisa menatap Isabel tanpa pandangan yang baik, berkata: "Kamu juga malah mengatakan yang sebenarnya!"

"Apa kamu baik-baik saja?" Isabel melihat rambut Raisa berantakan, dia menyesal ketika menanyakan ini. Bukankah ini sengaja bertanya?

Raisa malah menjawab dengan ekspresi acuh tak acuh: "Tidak bakalan mati."

"Siapa sih sekelompok orang itu? Bagaimana bisa begitu sengit?" Isabel berkata dengan ketakutan: "Kelihatannya seperti ingin menghabiskan kamu."

"Mereka memang ingin menghabiskan aku." Raisa berkata dengan acuh tak acuh: "Aku telah banyak mengalaminya."

Isabel memandang Raisa dengan ekspresi luar biasa.

Saat ini, supir sudah mengantarkannya sampai di tempat.

Isabel membawa Raisa masuk ke rumah kecil yang disewanya.

Karena sudah lama tidak datang, barang-barangnya menumpuk lapisan debu tipis.

Isabel hanya membereskan beberapa tempat supaya dapat membiarkan Raisa duduk dan beristirahat.

"Kamu tinggal di sini?" Raisa menanya dengan muka diluar ekspetasi.

"Dulu." Isabel tidak menyangkal.

"Bagaimana denganmu sekarang?" Raisa tidak tahan diri untuk bertanya, tetapi setelah melihat wajah ekspresi Isabel, dia berkata lagi, "Oh, tidak perlu dibilang lagi, aku sudah tahu."

"Ohiya, mengapa sekelompok itu memukulimu?" Isabel masih sangat penasaran tentang kejadian tadi, dan dia memberikan Raisa segelas air.

"Wanita yang mengambil batu bata itu, suaminya adalah salah satu dari customer aku. Setelah suaminya bertemu dengan aku, langsung mengakui telah jatuh cinta sama aku, dia segera pulang kerumah dan ingin menceraikan istrinya yang jelek, dan kemudian dia ingin menikahi aku lagi." Raisa menjawab dengan tanpa peduli terus mengangkat bahu: "Lalu wanita yang dimiliki pria ini mengejar aku sampai sini."

"Puff..." Isabel tidak bisa menahan diri, dan air yang di minumnya tersemprot keluar.

Astaga, ini tidak terlalu sadis?

"Jangan salah paham, aku tidak merayu suaminya. Pria itu yang terus datang mengejariku, aku itu tidak bersalah." Raisa menunjuk wajahnya tanpa daya dan berkata, "Siapa suruh wajahku ini mirip dengan seperti seorang pelakor? Aku ingin berhenti juga tidak bisa. Aku belum pernah merayu seorang pria dalam hidupku, kamu percaya?"

Isabel diam-diam menyalakan lilin untuk dirinya sendiri.

Inilah perbedaannya.

Raisa tidak perlu melakukan apa-apa, sekelompok pria juga akan mati untuk mengejarinya.

Dari kecil hingga besar, selain Andika yang sampah itu, tidak ada lagi yang mengejari dirinya sendiri.

Tetapi benar juga, tubuhnya begitu rata, aneh juga kalau ada pria yang menyukai dirinya sendiri.

Sedangkan Raisa berbeda, dia memang sudah memiliki kondisi yang unik. Waktu pertama kali melihatnya, dia juga hampir terkejut olehnya. Hanya saja tidak tahu apakah Ravindra pertama kali melihatnya ada....

Isabel tiba-tiba kembali sadar.

Ada apa dengan diriku?

Bagaimana pula tiba-tiba terpikir Ravindra ?

Isabel, sadarlah! Kamu dengan Ravindra hanyalah sepasang pasangan kontrak, kamu tidak boleh ada pemikiran yang lain tentang dia.

Lagian, dia baik dengan kamu itu hanya demi anaknya yang di perut kamu. Selama aku melahirkan anak ini, mungkin tidak akan pernah lagi berhubungan dengannya.

Isabel melihat dan menerima kembali kenyataan ini.

"Percaya." Isabel mengangguk ringan.

Raisa berkata dengan sombong: "Orang yang di seluruh dunia memandangku seperti ini. Aku tidak bias berbuat apa-apa. Ohiya, apa yang terjadi padamu dan Ravindra ? Aku tidak pernah melihatnya begitu peduli dengan seorang wanita."

Isabel menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepalanya dan menjawab: "Tidak... tidak ada apa-apa kok."

"Lupakan, kamu tidak mau bilang, aku juga tidak akan bertanya lagi. Terima kasih ya hari ini." Raisa meletakkan cangkir di tangannya, berdiri dan siap untuk pergi: "Kamu membantuku hari ini, aku akan membalasmu."

Raisa baru saja berjalan ke pintu dan tiba-tiba berhenti. Dia mendongak ke ruang yang belum sempurna di depan matanya dan berkata: "Jika kamu dan Ravindra tinggal bersama untuk sementara, dan itu hanya saja ingin mendapatkan sedikit keuntungan, maka aku menyarankan kamu untuk berpikir lebih panjang. Jangan sampai kamu dijual pun masih tidak tahu."

Setelah mengatakan ini, Raisa langsung berbalik dan pergi.

Ketika Raisa pergi, dia terbengong.

Apa yang dia maksud?

Ya betul juga, aku menikah dengan Ravindra itu hanya demi anak yang di dalam perutku. Kalau bukan berkat anak ini, takutnya aku dengan Ravindra tidak ada hubungan sama sekali.

Diperkirakan pernikahan ini akan berakhir ketika kelahiran anak ini kali ya.

Rencanaku awalnya tidak mau sewa rumah ini lagi, sekarang tampaknya rumah ini harus lanjut disewa.

Kalau sampai saat itu benar-benar tidak ada jalan lagi, aku masih bisa balik ke sini.

Isabel memegang erat kunci yang di tangannya dan menelepon ke pemilik untuk minta perpanjang kontrak sewa, sekaligus mentransfer uang ke pemilik rumah.

Ketika Isabel kembali ke rumah, dia lihat Ravindra sudah berada di rumah.

"Kemana kamu pergi?" Ravindra melihat ekspresi wajah Isabel, dan sedikit mengernyit.

"Aku... pergi jalan-jalan." Isabel tidak berani mengakui bahwa dia baru saja memperpanjang kontrak penyewaan rumahnya. Dia sedikit berbohong: "Lagi pula hari ini tidak ada kerjaan lain, aku pergi berkeliling."

Ravindra menyipitkan matanya dan melihatnya.

Isabel mengira bahwa Ravindra tahu rahasianya, baru saja ingin menjelaskannya, Ravindra malah langsung berbalik dan pergi.

Mulut Isabel membuka lebar, sepatah kata pun tidak bisa diucapkan. Dia benar-benar tidak peduli, kemana dia pergi, apa yang sedang dia lakukan, dia tidak peduli, dia hanya peduli dengan anak di perutnya.