Bab 30 Kantong Tidur Yang Hangat

Dengan cepat susu diantar ke depan Isabel, Isabel langsung menghabiskan susunya.

Dari berbagai jenis susu, dia hanya terbiasa minum susu dari Jepang ini.

Dari berbagai jenis jus buah, dia hanya terbiasa minum jus segar dari Selandia Baru.

Dari berbagai jenis air putih, dia hanya terbiasa minum air dari Itali.

Isabel sendiri juga tidak tahu kenapa mulutnya menjadi pemilih seperti ini, untung saja keluarga Kitadara kaya, jadi mampu untuk membayar semua ini, dan tentu saja juga bersedia membayarnya.

Isabel sedikit khawatir, setelah anak ini lahir, apakah bisa menjadi pemilih sama seperti papanya?

Isabel hanya duduk di sana memikirkan sesuatu, dan Ravindra yang duduk di seberang Isabel terlihat sedang makan, tapi sebenarnya pandangannya tidak pernah meninggalkan Isabel.

Fungsi menebak dengan akurat dari bintang Scorpio diaktifkan lagi, Ravindra langsung menjawab kekhawatiran Isabel: "anak aku tentu saja akan sama dengan aku, pemilih memangnya kenapa? keluarga Kitadara bisa merawatnya."

Isabel hampir saja memuncratkan susu dari mulutnya.

Ravindra ini kenapa setiap kali dirinya sedang memikirkan tentang dia, dia bisa menebak pemikirannya?

"Beberapa hari ini harus cepat-cepat belajar tentang etika." ucap Ravindra sambil mengelap mulutnya: "beberapa hari lagi, direktur dari perusahaan Korea bersama dengan istrinya akan datang, di saat itu kamu sebagai istri direktur juga harus menyambutnya bersama, kamu tidak boleh mempermalukan keluarga Kitadara. Beberapa hari ini kamu tidak perlu masuk kerja, kamu di rumah belajar hal ini dengan baik."

"Baiklah." jawab Isabel dengan gelisah.

Astaga, direktur dan istrinya dari Korea? Minta dirinya untuk menyambutnya?

Isabel langsung merasa pusing.

Hal seperti ini, bagaimana dirinya bisa lakukan?

Setelah bicara, Ravindra langsung berdiri dan pergi.

Setelah dia pergi, langsung ada orang yang merapikan peralatan makan dia.

Setelah minum susu, Isabel juga berdiri dan meninggalkan meja makan.

Sepertinya piano ini harus belajar dengan baik, dan juga etika makan juga harus belajar dengan baik!

Isabel sudah membulatkan tekad, karena dirinya sudah menjadi istri Ravindra, maka dirinya juga harus berusaha melakukan semua yang harus dilakukan dengan baik.

Isabel meminta orang lain untuk makan, dirinya membawa satu buku dan duduk di kursi gantung untuk menambah pengetahuan dirinya.

Ravindra membuka tirai jendela di atas, dan kebetulan bisa melihat kejadian di bawah.

Isabel seperti kucing kecil yang penurut, dia menggulung dirinya di atas kursi gantung Skotlandia dan sudah tertidur sambil memeluk buku.

Sepertinya hari ini dia sudah sangat lelah.

Setelah Nando melaporkan semua hal, dia berkata dengan pelan: "pak direktur, masih ada perintah apa?"

"Sudah, urusan hari ini sampai hari ini saja. Kamu boleh pulang istirahat." pandangan Ravindra tidak pernah meninggalkan wanita di atas kursi gantung itu, dia menjawab dengan pelan: "besok pagi datang lebih cepat, perjanjian dengan Odyssey Group harus diselesaikan secepat mungkin."

"Baik pak direktur." Nando merapikan barang-barangnya dan berpamitan dengan Ravindra.

Ravindra turun ke bawah, pembantu di bawah baru mau bersuara, Ravindra melambaikan tangannya dan berjalan ke arah Isabel.

Dia menggendong Isabel dengan hati-hati.

Ravindra menaikkan matanya, tidak disangka dia seringan ini?

Dia melihatnya, wanita ini sudah tertidur dengan lelap, dan tersenyum bersandar di dadanya.

Kalau saat kamu bangun juga bisa ekspresi seperti ini, pasti sangat bagus?

Para pembantu di rumah akhirnya mulai terbiasa dengan tuannya yang berbeda, melihat tuannya menggendong nyonya, mereka semua tersenyum senang dan bersembunyi di sebelah.

Kalau mengganggu percintaan tuan dan nyonya, itu namanya cari mati!

Ravindra menggendong Isabel naik ke atas, saat masuk kamar, Isabel tanpa sadar menempel ke dada Ravindra, seluruh mukanya sudah menempel di dada Ravindra yang kuat.

Ravindra merasa badannya kaku, dan tidak disangka di salah satu bagian tubuhnya ada pergerakan.

Wanita ini????

"Mama????" satu suara yang lemah terdengar dari dadanya, tanpa sadar Ravindra melihatnya, dan dia melihat setengah buka Isabel penuh dengan kesedihan.

Rasa kasihan lagi-lagi muncul di hati Ravindra.

Dia ini mimpi apa sampai bisa sedih seperti ini dan ekspresinya menjadi seperti ini?

Perlahan Ravindra meletakkan Isabel di atas ranjang, Isabel membalikkan badannya dan tertidur pulas.

Mata Ravindra berkedip, dia melihat Isabel sangat lama baru berdiri dan pergi mandi mengganti baju.

Saat dia selesai mengeringkan rambutnya dan keluar dari kamar mandi, Isabel sudah tertidur pulas sambil memeluk selimut.

Ravindra tidak meninggalkan kamar, dia memutari ranjang ke sisi satunya, lalu mengangkat selimut dan berbaring di sisi satunya.

Dia melihat wanita yang tertidur di sebelahnya, sangat misterius, tidak disangka dia tidak merasa kesal?

Ravindra mematikan lampu ranjang, saat dia menutup matanya rasa kantuk pun mulai datang.

Dia sudah dua hari satu malam tidak istirahat dengan baik.

Tidur kali ini tentu saja sangat lelap.

Selama tertidur, Isabel merasakan ada satu sumber hangat, lalu dia menghampirinya dan memeluk sumber hangat ini seperti selimut, lalu lanjut tidur dengan bahagia.

Sebelum Isabel memeluknya, Ravindra sudah terbangun, dia membuka matanya dan berpikir, sepertinya memang tidak terganggu, maka dia membiarkan Isabel memeluk dirinya seperti ini.

Tidak tahu tidur berapa lama, Isabel membuka matanya dengan bingung, oh, kemarin malam tidurnya sangat enak.

Melihat ranjang yang berantakan, Isabel merasa ada kurang sesuatu.

Kemarin malam saat tidur sepertinya memeluk satu kantong hangat, kenapa pagi sudah menghilang?

Apa jangan-jangan Narti melihat dirinya tidur tidak tenang, maka dia meletakkan botol air hangat?

Oh, pasti seperti ini.

Kalau tidak bagaimana cara menjelaskan hilangnya kantong hangat di pagi hari?

Isabel bangun dari ranjang, setelah cuci muka dan sikat gigi, dia mengganti baju rumah yang santai, lalu dia memutuskan hari ini harus belajar beberapa kemampuan ini dengan baik.

Dia tidak mau memalukan lagi.

Baru selesai sarapan, saat Isabel belum latihan piano, telepon di rumah berbunyi.

Narti langsung mengangkatnya, setelah mendengar ucapan dari orang itu, dia langsung menjawab: "nyonya baru selesai sarapan."

Mendengar Narti menyebut dirinya, Isabel langsung melihat ke arah Narti.

Narti mematikan telepon dan berkata kepada Isabel: "sepertinya ada dokumen tuan yang tertinggal di dalam ruang buku, kalau nyonya sempat????"

"Aku sempat, aku sempat." Isabel langsung menjawab.

Seharian ada di dalam rumah sudah hampir gila.

"Dokumennya ada dimana? Mau diantar kemana?" Isabel langsung berdiri, dia seperti takut Narti berubah pikiran.

Narti tersenyum dan berkata: "tuan sekarang ada di Odyssey Group membahas bisnis, nyonya hanya perlu mengantar dokumen ini ke sana sudah cukup."

Isabel langsung naik ke atas dan membuka ruang buku Ravindra.

Ini adalah pertama kali Isabel masuk ke ruang buku Ravindra.

Di dalam ruang buku yang besar ini terdapat banyak lukisan kuno, bukunya tidak banyak, tapi ada berbagai macam piala.

Isabel juga tidak melihat beberapa barang ini, dia melihat ada satu kantong dokumen di atas meja.

Seharusnya ini kan ya?

Isabel mengambil dokumen itu dan siap-siap keluar, supir sudah siap di luar.

Melihat Isabel keluar, di saat itu supir langsung membukakan pintu mobil.

Isabel naik mobil dengan senang, kalau bukan karena Ravindra sendiri yang mengizinkannya keluar, mungkin Narti tidak akan membiarkannya keluar kan?

Mobil berjalan dengan stabil meninggalkan villa, dia langsung merasa seperti bermimpi.

Beberapa hari lalu, dirinya masih menjadi karyawan kecil yang harus naik kereta yang sangat sempit.

Tapi sekarang dirinya sudah punya supir dan mobil khusus.

Dipikir-pikir, semua ini benar-benar tidak masuk akal.

Di saat Isabel sedang memikirkan ini semua, Isabel merasakan bagian belakang mobilnya tertabrak keras!

Isabel tanpa sadar langsung memegang kursi dan tidak berguling ke depan!

Orang ini bagaimana bawa mobilnya?

Hati Isabel sedikit marah! Mobil semahal ini ditabrak, dirinya harus pakai apa untuk mengganti Ravindra?

Isabel meletakkan dokumen di dalam mobil, melihat supir turun melihat keadaan mobil, dirinya juga ikut turun dari mobil.

Isabel memutari bagian mobil yang ditabrak, Mercedes Benz GL450 yang bagus seperti ini ditabrak dan catnya terkupas besar.

Habis sudah, biaya perbaikan mobil ini pasti sangat mahal!

Saat Isabel mau meminta orang itu ganti rugi, orang itu sudah turun dari mobil dan meminta maaf: "maaf ibu, supir aku pertama kali ke kota ini dan tidak melihat jelas???? Sacha! Sacha kamu masih hidup!"

Pria itu tiba-tiba memegang tangan Isabel dan langsung menangis kesenangan!

Isabel terkejut, otak pria ini bermasalah ya?

Apa jangan-jangan dia mau pura-pura kenal dan tidak mau membayar uang ganti rugi?

Tidak disangka, pria di depannya ini terlihat sedang berpura-pura, bahkan uang ganti rugi pun tidak mau dibayar.

Isabel langsung melepaskan tangan orang itu: "maksud kamu apa? Kamu tidak mau bayar uang ganti rugi?"

"Pak Vincent." di saat ini, rombongan mobil di belakang juga sudah berhenti, dan ada beberapa orang yang turun mengerumuninya.

Isabel langsung tertawa, aduh, maksudnya apa! Panggil orang lain agar tidak perlu bayar uang ganti rugi?

Pria yang tadi memegang tangan Isabel mengangkat tangannya untuk menghentikan gerakan orang lain.

Isabel juga mengangkat tangannya melihat orang itu tanpa rasa takut, uang ganti rugi ini harus dibayar!

Kalau tidak dirinya bagaimana bisa menggantinya?

Tampang Isabel yang marah langsung membuat pria di depannya ini tertawa.

Di saat ini pria ini sudah tenang, dia mengeluarkan kartu namanya dan diberikan kepada Isabel: "kamu tenang saja, aku tidak akan melupakannya. Aku akan ganti kamu satu Mercedes Benz GL450 yang terbaru."

Isabel menerima kartu nama itu dengan curiga, dia melihat di kartu nama itu ada namanya dan nomor teleponnya.

"Vincent." Isabel membacakan namanya dengan pelan.

Dia ini siapa ya?

Kasih kartu nama maksudnya apa?

Kartu nama ini gunanya apa? Tidak bisa ditukar dengan uang juga!

Isabel mengangkat kepalanya dan melihat pria di depannya ini dengan curiga.

Badan pria ini sangat tinggi dan besar, memiliki tinggi badan dan aura yang tidak kalah dari Ravindra. Berbeda dari Ravindra yang dingin, pria ini memiliki daya tarik yang intim.

Yang paling sulit dilupakan adalah matanya yang berwarna biru.

Dia jelas-jelas orang Indonesia, kenapa matanya berwarna biru?

"Aku tidak tahu nama kamu siapa?" Vincent menahan semangat hatinya, lalu dia langsung berkata: "kamu masih ada saudara kembar tidak?"