Bab 28 Belajar Menjadi Nyonya Rumah

Ternyata saat senyuman dia sangat cerah, terlihat sangat cantik seperti ini, jauh lebih cantik dari yang ada di fotonya.

Pengambil foto itu sama sekali tidak bisa menangkap kecantikannya, kalau dirinya yang ambil foto????

Saat Ravindra berpikir sampai sini, tiba-tiba berhenti.

Ravindra sedikit menurunkan matanya.

Dia ini kenapa?

Kenapa bisa ada pemikiran yang aneh seperti ini?

Dirinya tidak disangka berpikiran untuk mengambil foto Isabel?

Jangan bercanda, Dina yang dulu sangat dicintainya saja tidak diperlakukan seperti ini, Isabel ini apa? Kenapa dirinya berpikiran mau foto Isabel?

Dia hanyalah ??badan ibu?? yang sedang mengandung penerus generasinya.

Ravindra berjalan menuju dalam rumah, Nando juga langsung mengikutinya.

Isabel sedang dansa dengan senang, tiba-tiba dia mendengar suara dari dalam rumah.

Isabel langsung menghentikan gerakannya dan melihat ke belakang!

Muka Ravindra langsung masuk ke dalam mata Isabel.

Dia???? dia bukannya pergi ke Jerman?

Dia???? dia kenapa bisa ada di sini?

Penyiram air di tangannya langsung terjatuh ke lantai, air di dalamnya langsung tumpah.

Pandangan Ravindra langsung tertuju ke jari kaki Isabel yang tidak mengenakan sendal.

Jari kakinya yang putih itu masuk ke dalam mata Ravindra, tidak disangka dia merasakan mulutnya kering!

Dia sudah melihat berbagai wanita cantik, tapi ini adalah pertama kalinya dia melihat kaki wanita yang putih terlihat sangat cantik seperti ini.

Setelah Nando diam-diam meletakkan barang, dia pergi.

Ini adalah ruang untuk pak direktur dan nyonya, sebagai asisten yang paling sempurna, tentu saja dia tahu kapan harus muncul dan kapan harus menghilang.

Isabel tercengang, benar-benar tercengang.

Dia kemarin malam sudah melakukan riset tentang Jerman!

Jarak Jerman dari rumah ini puluhan ribu kilometer, Ravindra pulang pergi saja setidaknya butuh 2 hari!

Kenapa dia kemarin malam baru pergi, hari ini sudah pulang?

Ini, sebenarnya ada apa?

Ravindra melihat senyuman di muka Isabel tiba-tiba menghilang, hatinya merasa tidak senang.

Dia tidak menyambut dirinya pulang?

Saat memikirkan adanya kemungkinan ini, Ravindra langsung merasa moodnya memburuk.

"Kamu pakai baju sedikit seperti ini, apakah ini cara kamu merawat bayi di perut kamu?" suara Ravindra tiba-tiba menjadi dingin.

Isabel baru tersadar, dia langsung cepat-cepat lari dari balkon dan menjelaskan dengan gagap: "cuaca hari ini sangat bagus, dan juga sekarang musim panas. Dan juga, di rumah ini aku sendirian????"

"Bukannya aku sudah bilang ke kamu pembantu dan tukang kebun yang baru pagi ini akan datang?" kemarahan Ravindra semakin meningkat: "kamu kenapa pakai baju seperti ini?"

Saat memikirkan kalau dia tidak pulang tepat waktu dan beberapa pembantu dan tukang kebun yang baru datang itu melihat kejadian yang indah seperti ini, dia merasa tidak bisa menahan marahnya. Kalau Nando tidak keluar dan tidak melihat Isabel tidak memakai sendal, dia pun ingin memecat Nando!

Kecantikan istrinya seperti ini bagaimana boleh dilihat oleh pria lain?

"Kamu melihat identitas nyonya keluarga Kitadara sebagai apa? Jangan menikmati kekayaan keluarga Kitadara sambil terlihat seperti idiot!" ucapan dingin Ravindra seperti sebuah pisau yang menusuk hati Isabel.

Tidak disangka dia melihat dirinya seperti ini?

Hehe, ternyata seperti ini.

Isabel menundukkan kepalanya dan menutupi perasaan di matanya, lalu berkata dengan pelan: "aku mengerti, tidak akan terjadi lagi."

Benar juga, dirinya ini apa?

Hanya seorang istri yang dibeli dengan uang oleh keluarga Kitadara, hanya istri kontrak dari Ravindra.

Dirinya punya apa untuk berdebat dengan dia?

Isabel memutar badannya dan berjalan ke arah kamarnya.

Ravindra melihat bayangan Isabel pergi, pandangannya lagi-lagi tertuju ke jari-jari kaki yang putih itu, hatinya terasa tersedak oleh setumpuk kapas.

Dia tadi kenapa bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu?

Dia hanya ingin perhatian dengannya.

Kenapa saat kata-kata sampai ke mulut menjadi berubah seperti itu?

Ravindra gelisah dan langsung melepaskan dasinya.

Dirinya sendiri juga tidak mengerti, tidak disangka dia menolak saran Nando untuk istirahat 1 malam di Dubai, dan langsung pulang saat itu juga!

Dia lebih tidak mengerti kenapa dirinya bisa marah!

Isabel membuat ekspresi tersenyum yang lebih jelek daripada menangis di depan cermin, tidak tahu kenapa, di depan Ravindra dirinya tidak bisa tersenyum dengan senang.

Mungkin karena semua keburukan dirinya, semua berhubungan dengan Ravindra, atau semuanya karena dibuat oleh Ravindra?

Isabel mengganti baju yang pantas dan turun lagi.

Saat dia turun, dia melihat sudah ada sekumpulan orang yang berdiri di pintu rumah.

"Nyonya." sekumpulan orang itu langsung menyapa dan membungkukkan pinggangnya.

Isabel terkejut, dia mencari di sekelilingnya, tapi dia tidak bisa menemukan Ravindra.

Dia ini pergi kemana?

Isabel sedikit melamun: "kalian adalah????"

Dari sekumpulan orang itu ada satu ibu-ibu berumur sekitar 50 dengan senyumannya yang cerah, dan dia berkata kepada Isabel: "nyonya, kita dipanggil oleh tuan untuk merawat nyonya. Nama aku Narti."

Isabel melihat belasan orang di depannya dan bertanya: "kalian belasan orang ini datang untuk merawat aku? Aku sama sekali tidak perlu orang sebanyak ini."

Narti sedikit menganggukkan kepalanya: "ini adalah standar yang normal untuk nyonya. Nyonya dari keluarga Kitadara memiliki hal untuk punya satu koki khusus, satu pembantu di sisi nyonya, dua petugas kebersihan, empat tukang kebun, dua supir, 4 atau lebih bodyguard. Tentu saja, ada satu asisten rumah tangga. Aku adalah asisten rumah tangga. Aku akan siap siaga 24 jam, beberapa hari lagi akan ada dua ahli nutrisi datang untuk bertanggung jawab atas makanan minuman dan keseharian."

Isabel membuka mulutnya tapi tidak tahu harus berkata apa.

Dirinya dari dulu selalu melayani orang, tiba-tiba dia dilayani sedikit, dirinya sudah merasa sangat tidak terbiasa.

Sekarang tiba-tiba ada banyak orang yang mengelilingi dirinya seperti ini, dirinya semakin tidak terbiasa lagi.

"Ibu sebagai nyonya keluarga Kitadara, punya hak untuk pergi ke semua tempat tinggal keluarga Kitadara. Setiap tempat tinggal akan ada asistem rumah tangganya, dan membawahi pengurus rumah tangga utama, pengurus rumah tangga utama mendengar perintah dari nenek. Villa ini adalah pemberian nenek kepada nyona, maka asisten rumah tangga dan pembantu lainnya yang awalnya di sini sudah pergi semua, setelah kita selesai mengurus serah terima pekerjaan kita baru datang, makanya hari ini kita baru datang." Narti sekalian menjelaskan alasan mereka datang hari ini.

Pandangan Isabel masih sedikit bingung, dia menganggukkan kepala dan berkata: "aku paham, kalian kerja saja."

"Baik nyonya." sekumpulan orang langsung menjawab dengan hormat dan pergi ke tempatnya masing-masing untuk bekerja.

Isabel masih merasa seperti sedang bermimpi, tidak disangka dirinya benar-benar menjadi nyonya?

Berbagai hal dulu bahkan dia tidak berani membayangkannya, tidak disangka setelah dirinya ditinggalkan oleh pria yang sangat dicintainya, dirinya langsung berubah menjadi nyonya.

Benar-benar seperti mimpi.

Isabel mendengar suara langkah kaki dari belakang, dia memutar badannya dan melihat Ravindra sudah mengganti baju dan sedang turun ke bawah.

"Narti." Ravindra langsung memanggil tanpa melihat Isabel.

"Tuan." setelah 30 detik Narti muncul dengan cepat, dua tangannya dilipat diletakkan di perutnya, dengan sangat hormat dia menundukkan kepalanya menjawab: "anda ada perintah apa?"

"Dua hari di akhir minggu ini, kamu ajarkan Isabel bagaimana cara menjadi nyonya." setelah bicara, Ravindra langsung berjalan melewati Isabel dan pergi.

"Baik tuan." Narti menjawab dengan hormat.

Isabel melihat bayangan Ravindra pergi, hatinya merasa tidak senang.

Tapi dia sendiri juga tidak mengerti, ketidaksenangan ini karena Ravindra meminta dia belajar aturan atau karena Ravindra tidak mempedulikannya.

Setelah Ravindra pergi, Narti langsung berdiri di depan Isabel: "nyonya, saat sarapan, aku akan ajarkan anda bagaimana makan yang benar. 30 menit setelah selesai makan, aku akan ajarkan nyonya bagaimana cara menyambut orang dan menerima barang. Jam 4 sore belajar ilmu teh, malam belajar dansa, tapi karena nyonya sedang hamil dan tidak bisa bergerak terlalu banyak, maka akan diganti menjadi main piano."

Apa? Harus belajar segini banyak?

Kalau dari awal tahu menjadi nyonya orang kaya merepotkan seperti ini, dia tidak mau!

Sudah diduga, waktu berikutnya adalah pembelajaran dari Narti.

Kalau Isabel menunjukkan ketidaksabarannya, Narti juga akan terus mengulanginya lagi dengan sabar, melihat umur Narti mirip dengan mama, dan masih harus bicara banyak seperti ini, Isabel merasa sedikit kasihan, maka dia juga belajar dengan sabar.

Satu hari sudah lewat, Isabel belajar sampai pusing, tapi dia benar-benar belajar banyak hal.

Kalau Ravindra nanti ada acara makan-makan, dirinya sudah tahu bagaimana cara menggunakan peralatan makan yang aneh-aneh itu.

Saat Ravindra masuk ke dalam rumah, dia melihat kejadian di depan matanya.

Isabel sedang duduk di depan piano, dengan tampang yang gelisah dia mengulurkan kedua tangannya, dan menekan tombol hitam dan putih dengan kaku.

Tapi matanya terlihat tidak mau kalah, walaupun Narti beberapa kali memberitahu dia salah, dia masih terus berusaha dan memainkannya dari awal.

"Nyonya, hari ini sudah cukup. Nanti tunggu tuan pulang bisa makan malam lalu istirahat." Narti menghela nafasnya, kegigihan nyonya ini lumayan bagus, sangat mirip dengan nenek saat muda, hanya saja sedikit bodoh. Lagu semudah ini juga tidak bisa.

Mata Isabel penuh dengan hasrat berperang, dia mengangkat kepalanya dan berkata kepada Narti: "lagipula Ravindra belum pulang, aku latihan dua kali lagi."

"Tuan." pembantu di pintu sudah melihat Ravindra, dia langsung menundukkan kepala dan menyapanya.

Ravindra memberikan barang di tangannya kepada pembantu itu, lalu berjalan ke arah Isabel.

Narti menyapanya dengan hormat, lalu mundur ke sebelah.

Isabel sedikit terkejut, Ravindra kenapa pulang secepat ini?

Ravindra duduk di sebelah Isabel dan menekan jari Isabel, lalu berkata: "rileks! Otot kamu kaku seperti ini tidak akan bisa main piano dengan baik. Aku tunjukkan sekali kasih kamu lihat."

Ravindra melepaskan jari Isabel, jarinya dengan pelan menyentuh tombol hitam dan putih, lalu suara musik yang lancar terdengar dari jarinya.

Walaupun Isabel tidak begitu suka dengan Ravindra, tapi di saat ini dia harus mengakui saat Ravindra bermain piano dia benar-benar sangat elegan dan mempesona.