Bab 27 Mie Daging Cincang Yang Tidak Enak Tapi Tetap Dimakan

Ravindra menundukkan kepalanya dan melihat, ini adalah makan malam yang paling sederhana dan simpel yang pernah dimakannya.

Di atas meja hanya ada 2 mangkok mie, sayuran dan setumpuk bahan pelengkap.

Dia bukannya tidak pernah makan mie daging cincang, namun bahan pelengkap mie daging cincang yang pernah dimakannya biasa bisa memenuhi satu meja.

Tapi bahan pelengkap di depannya ini hanya sedikit potongan sayur yang sederhana saja.

Ravindra mengerutkan alisnya dan mukanya sedikit tidak menyukainya.

Isabel melihat pria di depannya ini tidak seperti mau makan, dia mendorong mie di depannya yang baru jadi kepada Ravindra.

Ravindra ragu-ragu sebentar, dia seperti membulatkan tekadnya untuk mengambil sumpit dan makan perlahan.

Tiba-tiba, Ravindra berhenti menguyah, alisnya dikerutkan dan memberi komentar dua kata: "tidak enak."

Isabel baru mau bicara, tapi dia melihat Ravindra tiba-tiba menghabiskan mie di mangkok itu dengan sangat cepat.

Tidak enak tapi dihabiskan? Benar-benar, pria yang tidak bicara dengan hatinya!

Dia benar-benar anak kesayangan dari surga, walaupun hanya makan mie daging cincang, gaya makannya pun terlihat sangat elegan. Pantas saja banyak wanita yang terpikat.

Isabel makan dengan perlahan, selama makan dia merasakan ada pandangan yang sedang menatap dirinya.

Isabel mengangkat kepalanya dan melihat Ravindra sedang menatap dirinya makan mie.

Dia ini maksudnya apa?

Belum kenyang?

Isabel ragu-ragu sebentar lalu berkata dengan hati-hati: "mau aku bagi kamu sedikit tidak?"

Mata Ravindra langsung menjadi aneh, tapi dia juga tidak menolak Isabel!

Setelah Isabel melamun 5 detik, dia baru memindahkan setengah mienya ke mangkok Ravindra.

Kebetulan di saat ini Nando tiba-tiba datang untuk melapor sesuatu, saat dia masuk ke dalam kebetulan melihat kejadian ini.

Ravindra mengangkat sumpitnya dan terlihat moodnya sangat bagus, dia menghabiskan setengah mangkok mie yang diberi oleh Isabel.

Bola mata Nando hampir copot melihatnya!

Pak???? pak direktur???? numpang tanya, pria yang makan mie dengan lahap itu apakah direktur dari Kitadara Finance Group?

Pak direktur???? mysophobia kamu dimana?

Isabel diam-diam menghabiskan mienya sendiri, dia mengangkat kepalanya dan melihat ekspresi Nando yang sedang takut seperti melihat dinosaurus.

Isabel tahu Nando datang semalam ini psati ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan, maka dia langsung berkata: "aku sudah kenyang, kalian bicara saja."

Isabel berdiri meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya.

Ravindra mengelap mulutnya dengan tisu dan lanjut komentar: "benar-benar tidak enak."

Nando langsung sedikit kebingungan.

Apakah ini pak direktur yang dikenalnya?

"Ada urusan apa buru-buru seperti ini?" Ravindra mengerutkan alisnya, lalu dia melihatnya dengan pandangan dingin: "pasar Jerman?"

"Ya! Kedutaan besar di Jerman mengirim pesan." Nando menjawab dengan simpel: "kedutaan besar minta untuk balas secepat mungkin."

"Ke ruang buku." matanya sedikit mengecil, sepertinya urusan ini memang sedikit repot.

Isabel kembali ke kamarnya dan merasa sedikit bosan.

Dia berpikir-pikir, lebih baik mengirim pesan minta maaf kepada rekan kerja.

Sudah janji makan bersama, tapi di tengah-tengah dia pergi, benar-benar sangat tidak enak.

Siapa yang tahu pesan minta maaf baru dikirim, para rekan kerjanya seperti sudah berjanjian langsung membalas dengan permintaan maaf juga, membuat Isabel sedikit tidak tahu harus berkata apa.

Mengingat dirinya belum minum air sehabis makan malam, Isabel pergi ke dapur untuk menuangkan air.

Isabel baru minum dua teguk, tiba-tiba dia mendengar ada suara langkah kaki yang cepat dari belakangnya.

Isabel memutar kepalanya, dia melihat Ravindra sudah mengganti bajunya dan sedang turun dengan buru-buru.

Nando mengikutinya di belakang dan memegang satu tas yang tidak begitu besar.

Saat Ravindra berjalan sampai pintu dapur dia menghentikan langkah kakinya dan melihat Isabel.

Isabel memegang gelas dengan kebingungan, tidak tahu harus bicara apa.

Dia tiba-tiba berhenti, apakah dia ingin dirinya bertanya sesuatu?

Isabel menjilat bibirnya dan melihat Ravindra dengan kebingungan, dia benar-benar tidak tahu harus tanya apa.

Ravindra berpenampilan seperti ini pasti mau keluar, jangan-jangan dirinya harus omong kosong: kamu mau keluar ya?

Ini benar-benar terlalu omong kosong kan?

Pandangan Ravindra tiba-tiba tertuju ke bibir Isabel.

Gerakan dia menjilat bibir tadi ternyata sangat lucu.

Lucu? Pasti gila! Tidak disangka bisa merasa wanita ini lucu? Wanita ini hanyalah istri kontrak, hanya bertanggung jawab untuk melahirkan penerus keluarga Kitadara, bisa-bisanya dirinya merasa dia ini lucu?

Ravindra menggelengkan kepalanya dan siap-siap pergi.

Tapi dia belum berjalan berapa langkah, dia lagi-lagi berhenti, dia tetap tidak bisa menahan diri untuk memberitahukan perjalanan dia kepada Isabel, dengan suara dingin dia berkata: "malam ini aku harus terbang ke Jerman."

"Ah????" Isabel masih sedikit kebingungan, tapi otaknya tetap bisa mengikuti kecepatan Ravindra: "kalau begitu kamu hati-hati di jalan."

Mendengar nasihat dari Isabel membuat moodnya membaik, kemarahan dia karena pasar Jerman tidak lancar juga jauh berkurang.

Nando langsung menganggukkan kepalanya dan berkata kepada Isabel: "ibu tenang saja, pak direktur punya pesawat khusus untuk pergi, dalam hal keamanan pasti tidak akan ada masalah."

Isabel menganggukkan kepala dengan kebingungan, lalu dia mengantar Ravindra dan Nando sampai pintu rumah sambil membawa gelas.

30 menit setelah Ravindra dan Nando pergi dengan mobil Lamborghininya, Isabel baru tersadar.

Ravindra pergi?

Rumah ini hanya sisa dia sendiri?

Astaga, bahagia sekali!

Dirinya akhirnya bisa hidup tanpa tekanan dari Ravindra.

Emosi pria itu benar-benar sangat aneh, selalu marah tidak jelas, dan juga bisa senang dengan tidak jelas. Harus selalu menebak mood dia adalah hal yang sangat merepotkan!

Malam ini, ah bukan, mungkin beberapa hari ke depan, dirinya bisa bebas!

Saat memikirkan hal ini, mood Isabel langsung menjadi cerah, bahkan air di tangannya pun menjadi terasa manis.

Isabel kesenangan sampai berputar-putar di tempatnya, mebel dan peralatan rumah tangga lainnya yang awalnya tidak enak dilihat di saat ini seakan-akan menjadi bergerak.

Ini adalah pertama kalinya dirinya merasa tinggal di rumah ini adalah hal yang sangat nyaman.

Juga adalah pertama kalinya dia bisa menyentuh barang-barang kelas atas di rumah ini dengan serius.

Dia mengisi bak mandi sampai penuh dan berbaring di dalamnya mandi dengan nyaman.

Astaga, benar-benar sangat nyaman!

Isabel mengambil busa dari bak mandi dan ditiup di mulutnya, melihat busa yang terbang membuat dirinya tertawa.

Setelah mandi, dia berputar-putar di atas ranjang besar dengan hanya menggunakan satu handuk.

Bahagia sekali!

Malam ini akhirnya dia hanya sendirian di rumah ini!

Sudah tidak perlu memikirkan harus bersikap seperti apa menghadapi pria itu!

Isabel tidak tahu dirinya bagaimana bisa tertidur, pokoknya, dia mimpi indah.

Di dalam mimpinya dia sedang menggandeng tangan anak kecil berlari-lari di lautan bunga lavender.

Dari kejauhan ada satu pangeran mengenakan jas putih sedang berjalan mengarah ke dirinya dan anaknya.

Tapi muka dia selalu samar-samar dan tidak bisa dilihat dengan jelas.

Dirinya berusaha untuk melihat muka orang itu dengan jelas, tapi semakin dia berusaha semakin tidak jelas.

Di saat ini, pria itu tiba-tiba muncul dari belakang dan memeluk dirinya, membuat dirinya terkejut dan berteriak: "kamu siapa?"

Pria itu tersenyum: "tentu saja suami kamu."

Dirinya langsung memutar kepalanya, dan muka orang itu tiba-tiba berubah menjadi Ravindra!

Ravindra!

Tidak! Kenapa bisa dia?

Isabel langsung terbangun dari mimpinya, matanya terbuka lebar dan dia menepuk-nepuk mukanya sendiri, lalu dia melihat ke atap dan berbicara sendiri: "aku pasti sudah gila, bisa-bisanya aku memimpikan Ravindra? Aku pasti terlalu gugup, jadi bisa memimpikan dia! Dia sudah pergi, di rumah ini hanya aku sendiri, beberapa hari ini aku akhirnya bisa santai! Darling, mami akhirnya bisa tenang!"

Mengingat Ravindra tidak ada di rumah, Isabel merasa dirinya sangat bahagia.

Dia bangun dari ranjang dan dia mengambil baju pria secara asal dan dipakaikan di badannya, lalu keluar tanpa mengenakan sendal.

Matahari di pagi hari benar-benar sangat indah, Isabel meregangkan pinggangnya di bawah matahari, dia merapikan rambutnya yang berantakan dan menyapa matahari yang cerah: "selamat pagi matahari! Aku Isabel, aku sangat baik!"

Setelah bicara, Isabel merasa dirinya sangat bodoh.

Untung saja di rumah tidak ada orang, dirinya bodoh seperti apa juga tidak apa.

Melihat di balkon ada banyak pot bunga, Isabel langsung mengambil air dan menyiramnya.

"and it's our god-intended right to be loved loved loved loved loved.

so i won't hesitate no more, no more.

it cannot wait, i'm sure.

there's no need to complicate, our time is short.

this is our fate, i'm yours.

d-d-do do you, do you, d-d-do, do you want to come?"

Isabel menyiram bunga sambil menyanyikan lagu "I??m yours" yang paling disukainya. Sampai ke bagian yang paling disukainya, dia memegang penyiram air dia berputar-putar, seperti penyiram air adalah kekasihnya, dengan mukanya yang cerah dia tersenyum ke arah penyiram air itu.

Saat Ravindra turun dari mobil dia langsung melihat kejadian di depannya ini.

Nando baru mau berbicara, Ravindra langsung mengangkat tangannya dan melarangnya.

Nando diam-diam mundur ke belakang, hatinya memberikan satu tangkai bunga untuk Isabel.

Nyonya hebat sekali!

Nyonya memakai kemeja pak direktur tapi pak direktur sama sekali tidak marah!

Harus tahu dia sangat mysophobia dengan barangnya sendiri!

Dan juga pak direktur belum juga terbang ke Jerman, dia langsung menelepon orang itu, tidak peduli dengan betapa kerasnya orang itu, dia bersikeras untuk meminta orang itu juga mengirim pesawat khusus, mereka berdua langsung mendarat di Dubai, setelah beberapa jam perang kata-kata, mereka menandatangani perjanjian baru, lalu langsung terbang pulang.

Awalnya Nando merasa pak direktur tidak perlu pulang buru-buru seperti ini.

Tapi sekarang, Nando merasa perjalanannya yang buru-buru ini sangat setimpal.

Ravindra hanya berdiri di bawah villa seperti itu dan mengangkat kepalanya melihat Isabel di balkon memakai kemeja putih dirinya menyiram bunga sambil berputar-putar dan menyanyi, melihat rambut hitam dia yang melayang dan senyumannya yang cerah, pinggangnya yang lembut dan dua kaki yang panjang sedang berputar-putar, mendengar suara nyanyiannya, walaupun beberapa kata yang dia ucapkan tidak begitu akurat, tapi terdengar sangat enak.

Terutama saat dia melihat penyiram air itu dengan tampangnya yang malu-malu, tidak disangka membuat hati Ravindra tersentuh.