Bab 25 Isabel, Kita Traktir Kamu Makan

Apalagi dia adalah manajer penjualan wanita yang baru dapat promosi, bulan lalu performa penjualan dia adalah yang paling bagus. Pak direktur tentu saja mengerti siapa yang lebih penting!

Maka dia harus bertanya kepada Isabel, dia sebenarnya pakai cara apa membuat direktur tidak melihatnya.

Isabel menghela nafasnya, kenapa orang di dunia ini sangat ingin naik ke ranjang Ravindra? Kalau ranjang dia semudah itu bisa Dinaiki, mungkin dari awal sudah kepenuhan kan?

Isabel menahan marah dan menjawab: "tidak ada hubungannya dengan aku."

"Tidak ada hubungan? Restoran Crystal hanya ada pak direktur, tamunya dan kamu, selain kamu, menurut kamu apakah aku akan percaya tamu itu akan menjilat lidah pak direktur?" manajer wanita itu semakin marah melihat mata Isabel yang datar, dia merasa Isabel sedang menertawakannya.

"Maaf, aku masih ada urusan, aku permisi dulu." Isabel malas ribut dengan wanita ini, dia memutar badannya dan langsung pergi.

Manajer wanita ini menarik lengan Isabel: "mau pergi? Sepertinya tidak semudah itu ya? Kalau tidak jelaskan dengan jelas, jangan berpikiran untuk bisa pergi!"

Isabel melihat di bawah langsung ada beberapa orang yang berkumpul dan melihat keributan.

Pertanyaan ini bukan hanya manajer wanita ini mau tahu, orang lain juga mau tahu!

Isabel ini sebenarnya kenapa bisa membuat pak direktur tertarik?

Isabel melihat dia dengan datar: "tidak ada komentar."

Hal ini bagaimana dijelaskan? Jangan-jangan dia harus memberitahu seluruh dunia kalau dia salah masuk kamar, salah meniduri orang, lalu dia mengandung dan mau tidak mau bersama dengan dia?

Haha, walaupun hal ini dikatakan, apakah ada orang yang bisa percaya?

"Benar-benar sombong! Hanya kekasih yang menghangatkan ranjang saja, kamu sudah menganggap diri kamu istri pak direktur? Sepertinya kamu ini kurang ajar! Aku hari ini akan menggantikan pak direktur untuk memberi kamu pelajaran!" kemarahan di hati manajer wanita ini semakin besar saat melihat mata Isabel yang masih datar, dia tadi diusir oleh Nando dilihat orang banyak orang, dia tidak bisa menelan kemarahannya ini! Dia hari ini melampiaskannya!

Isabel berusaha untuk melepaskan wanita ini.

Manajer wanita ini melihat Isabel mau melepaskannya, kemarahannya semakin membesar, dia mengangkat tangannya dan mau memukul ke arah muka Isabel!

"Sss---" suara ketakutan dari orang di bawah terdengar.

Walaupun semua orang tahu performa manajer wanita yang baru promosi ini paling bagus, dan juga mendapatkan pujian dari direktur.

Tapi dia memukul orang seperti ini benar-benar sangat menakutkan!

Lengan Isabel terkunci dan tidak bisa bergerak, dia hanya bisa melihat tamparan datang ke arah mukanya.

Isabel tanpa sadar menutup matanya dan bersiap-siap menyambut tamparan itu.

Tapi setelah Isabel menunggu sangat lama, dia tidak merasakan kesakitan yang ditunggunya, tetapi dia malah mendengar suara ketakutan di sekelilingnya,

Isabel pelan-pelan membuka matanya, dia mengangkat matanya dan melihat para rekan kerjanya sudah tercengang, dan sedang melihat ke arah belakang dirinya.

Isabel perlahan memutar badannya, saat melihat keadaan di depannya dengan jelas, dia juga tercengang.

Ravindra berdiri dengan tegak di belakangnya, dan sedang memegang tangan manajer wanita itu, matanya dingin, terlihat sangat tidak senang.

"Tidak disangka aku tidak tahu di daftar pekerjaan divisi penjualan ada kelebihan satu yang mengatakan membantu aku mengurusi orang aku." mata Ravindra semakin dingin.

Nando langsung berdiri di sebelahnya dengan tampang bersalah.

"Kamu hanya berdiri dan membiarkan orang memukul kamu? Kamu ini apa, jadi pembantu saja tidak pantas!" Ravindra melihat Isabel yang berdiri di samping, dia melihat ekspresinya yang ketakutan, orang ini, di saat sedang bersama dirinya, bisa ada keberanian untuk melepaskan dirinya, kenapa sekarang hanya menghadapi wanita seperti ini bisa takut seperti ini?

Kemarin bukannya sangat berani? Hari ini kenapa takut?

Setelah Ravindra bicara seperti itu, semua karyawan yang melihatnya langsung tercengang!

Pak direktur bilang apa?

Dia bilang???? manajer penjualan dengan performa terbaik, jadi pembantu Isabel saja tidak pantas!

Ini maksudnya apa? Jangan-jangan, kedudukan Isabel di hati pak direktur sudah tidak sama?

Di saat ini, manajer wanita yang malang ini sudah benar-benar melamun.

Ravindra mendorong manajer wanita ini keluar: "beritahu HR, pecat."

Ravindra mengulurkan tangannya, Nando langsung memberikan tisu basah ke tangan Ravindra.

Ravindra mengelap setiap jarinya sampai bersih, lalu dilempar ke lantai, dia mengulurkan tangannya menarik Isabel pergi.

Nando langsung menelepon HR, dan memberitahukan keputusan Ravindra.

Manajer wanita yang dipecat itu melihat Ravindra dengan tidak percaya, dan dia berteriak dengan gila: "tidak, tidak boleh! Aku adalah manajer penjualan yang paling menghasilkan uang! Kamu tidak boleh pecat aku! Pak direktur, aku salah! Aku sudah tahu aku salah!"

Manajer wanita itu langsung berlari, Nando juga langsung berdiri di depannya dan menghalangi jalannya.

"Kalau kamu bisa pergi dengan tenang, mungkin uang ganti rugi yang akan dikasih ke kamu tidak akan dipotong. Kalau kamu ribut terus, kamu seharusnya tahu tim pengacara kantor sekuat apa." mata Nando sangat dingin melihat manajer wanita ini, karena perilaku dia tadi, pak direktur benar-benar sangat marah.

Jadi, bagaimana mungkin memberikan muka yang baik kepada manajer wanita pencari masalah ini?

Manajer wanita terkejut, dia akhirnya mengerti dia benar-benar mencari masalah!

Bisa naik menjadi ketua asisten pak direktur dari karyawan asisten kecil di divisi logistik, bagaimana mungkin tanpa alasan?

Manajer wanita langsung terduduk diam di lantai.

"Semua tidak kerja? Apakah sudah tidak mau kerja juga?" Nando mengangkat kepala melihat para karyawan yang mengelilinginya: "kalau mau dipecat juga, pintu dari HR akan terbuka lebar untuk kalian."

Perkataan Nando ini, membuat kerumunan orang tadi bubar.

Setelah Ravindra menggandeng Isabel meninggalkan restoran, Ravindra melepaskan tangan Isabel.

"Maaf???? maaf. Aku tadi memalukan kamu." Isabel meminta maaf.

"Kalau aku tidak melihat dari sisi anak itu, hal tidak penting ini aku malas pedulikan." suara Ravindra sangat dingin: "kamu sekarang sudah menjadi mama, memangnya kamu tidak tahu emosi kamu akan mempengaruhi pertumbuhan anak?"

Isabel tidak berani melihat Ravindra.

Dia memang sangat peduli dengan anak ini.

Darling, mami memang benar-benar menjadi penting karena kamu.

Kalau bukan karena ada kamu, mungkin yang akan dipukul hari ini adalah mami.

Melihat tampang Isabel yang bersalah, Ravindra tiba-tiba merasa amarahnya menghilang.

Emosi yang tiba-tiba berubah ini membuat Ravindra sedikit tidak terbiasa.

"Baiklah, kembali ke ruangan saja." Ravindra meninggalkan Isabel, dirinya langsung berjalan ke arah ruangan.

Melihat bayangan Ravindra yang pergi, Isabel sangat lega.

Seperti mulai hari ini, dirinya di dalam kantor sudah aman.

Kecuali masih ada orang yang buta mau mencari masalah.

Saat Isabel kembali ke ruangannya, Ravindra tidak ada.

Bagus sekali, saat dia berada di ruangan, dirinya merasa sangat tertekan. Dia tidak ada di ruangan, dirinya bisa mengejarkan urusannya dengan nyaman.

Tentu saja, dirinya juga tidak ada urusan lain, Ravindra sama sekali tidak memberikan dirinya pekerjaan terlalu banyak.

Nando mengikuti Ravindra keluar, dan meninggalkan asisten lainnya.

Di saat hampir pulang kerja, belum sampai Nando menjemput Isabel, asisten lainya sudah memiliki urusannya masing-masing, Isabel juga tidak enak untuk minta diantarkan mereka pulang.

Dia menggigit giginya, lebih baik naik taksi pulang.

Isabel merapikan barangnya, lalu dia bersiap-siap membawa tas meninggalkan kantor.

Baru saja sampai ke lobby lantai 1, Isabel baru keluar dari lift, dia langsung dikerumuni oleh orang.

Isabel mengira mereka mau mencari masalah, tanpa sadar dia mundur satu langkah.

"Isabel, ini aku, ini aku! Kita dulu satu ruangan!" ada satu orang dari kerumunan orang itu langsung berkata: "dengar-dengar kamu promosi, kita belum merayakannya! Malam ini kita traktir kamu makan bagaimana?"

Isabel baru melihat jelas, yang mengelilingi dirinya ternyata adalah rekan kerja saat dulu di divisi logistik.

Dulu saat mereka ada acara, mereka akan langsung membuang nama dirinya.

Karena saat itu dirinya harus lembur untuk mengerjakan urusan mereka.

Sekarang mereka di sini, tidak disangka hanya untuk traktir dirinya makan?

Isabel awalnya mau menolak, tapi setelah dipikir-pikir Ravindra juga tidak tahu kemana, malam ini mungkin tidak ada orang yang makan di rumah kan?

Isabel berkata: "aku tidak boleh makan makanan yang terlalu merangsang, juga tidak boleh minum bir."

"Baik baik baik, makan apa saja boleh, kamu yang pesan, kita yang bayar." beberapa orang itu benar-benar senang, mereka membungkukkan badan dan mempersilahkan Isabel naik mobil mereka.

Isabel melihat mereka yang seperti pesuruh, dia pun tidak bisa menahan tawanya.

Dulu saat masih bekerja bersama, dirinya inisiatif untuk menyapa mereka, mereka tidak peduli sama sekali.

Sekarang saat dirinya sudah menjadi ketua asisten direktur, mereka sudah belajar membungkukkan badan.

Isabel juga penasaran dulu mereka setelah pulang kerja buang waktu kemana.

Mereka mengendarai mobil dan pergi ke restoran jepang.

Isabel pertama kali datang ke tempat yang semewah ini, dia langsung merasa sedikit tidak terbiasa.

Di saat sekolah, saat libur harus kerja paruh waktu.

Setelah kerja, selain lembur ya lembur, kehidupan dia sangat sepi dan sunyi, dari dulu tidak tahu ternyata kehidupan malam benar-benar indah seperti ini.

Setelah masuk ke ruangan, Isabel berlutut di bantalan seperti orang lain, dia melihat ruangan di sekelilingnya, hatinya pun tidak bisa menahan untuk berkata: makan di tempat semewah ini, sepertinya sangat mahal ya?

"Isabel, kamu sekarang sudah menjadi ketua asisten, nanti harus banyak-banyak bantu kita ya." dulu para rekan kerja yang memandang remeh Isabel semuanya membujuk Isabel.

"Iya, Isabel, oh tidak, sekarang harus panggil Ibu Isabel!" satu rekan kerja yang licik berkata: "Ibu Isabel sekarang adalah orang terkenal yang ada di samping pak direktur, kita harus memohon Ibu Isabel dengan baik. Nanti kalau terjadi apa-apa, Ibu Isabel pasti akan membantu kita."

Orang lain juga menyetujuinya.