Bab 24 Dia Bukan Orang Yang Bisa Kamu Sentuh

Beberapa karyawan menengah di sekelilingnya tidak berbicara.

Manajer penjualan wanita itu, karena performanya akhir-akhir ini bagus dan beberapa hari lalu direktur juga memuji dia, dia sudah langsung lupa diri.

Kantor akan memberikan dia satu pelajaran agar dia mengerti, apa yang boleh dikatakan, dan apa yang tidak seharusnya dikatakan.

Isabel mengikuti Nando naik ke lantai tiga.

"Direktur dan tamunya sudah sampai?" Isabel memastikan lagi dengan Nando: "aku sekarang tidak perlu khawatir apa-apa lagi kan?"

"Ya, sudah sampai." Nando dengan hormat menjawab: "nanti kalau tamunya ada bahasa yang kurang baik, nyonya tidak boleh marah."

Mata Isabel berkedap-kedip, jangan-jangan tamu ini sangat sulit dihadapi?

Saat Isabel melum mengetuk pintu, dia sudah mendengar suara yang manis dari dalam ruangan: "Tuan Ravi memang benar-benar raja di Kitadara Finance Group yang meningkatkan harga pasar 20%, sekarang seperti ini menurunkan 5%. Tuan Ravi, jangan seperti ini! Keuntungan dibuat sekecil ini, kamu mau Odyssey Group bagaimana!"

Isabel berpikir dalam hati, suara semanis ini, mungkin wanita cantik ya?

Ravindra benar-benar beruntung, tidak peduli jalan kemana, pasti ada wanita cantik yang datang.

Isabel mengetuk pintu dan mendengar suara Ravindra: "masuk."

Isabel menarik nafas dalam-dalam dan mendorong pintunya.

Sudah diduga, saat dia mengangkat kepalanya dia melihat wanita cantik dengan badannya yang seksi, rambut panjangnya yang kerinting berwarna merah terlihat seperti boneka barbie, dan mukanya tersenyum melihat Ravindra.

Lalu dia melihat muka Ravindra yang sangat datar, sepertinya dia sama sekali tidak tersentuh dengan wanita cantik di depannya ini.

Tidak tahu kenapa, hati Isabel merasa lega.

Aneh sekali, kenapa dirinya ada perasaan seaneh ini?

Dia dan wanita lain ada urusan apa, hubungan dengan dirinya apa?

Dirinya menikah dengan dia juga hanya nikah kontrak, hanya demi anak ini untuk menikah secara terpaksa.

Dunia percintaan dia, dirinya sama sekali tidak boleh memasukinya, dan juga tidak ingin dimasukinya.

Mata Ravindra sedikit naik, sepertinya dia mengerti dengan Isabel yang merasa lega, matanya pun terlihat tersenyum.

Senyumannya itu sangat ringan, sekali dikedipkan langsung hilang.

"Pak direktur." Isabel sedikit menurunkan kepalanya dan menyala: "maaf, aku terlambat."

"Orang ini adalah????" wanita cantik itu terlihat sangat terkejut, terlihat jelas dengan kemunculan Isabel benar-benar membuat dia tidak menduganya, bahkan dia tidak bisa membuat dirinya tenang.

Berita tentang Ravindra tidak mendekati wanita, jangan-jangan sudah dipatahkan?

"Dia adalah asisten di samping aku, Isabel." dengan senyuman ringan, Ravindra memperkenalkannya: "Isabel, ini adalah wakil direktur Odyssey Group, Raisa."

Isabel langsung menyapanya: "selamat siang ibu, aku adalah Isabel."

Raisa hanya melirik Isabel sekilas dan tidak menjawabnya, dia langsung berkata kepada Ravindra: "Tuan Ravi ini maksudnya apa? Bukannya katanya makan siang kali ini hanya kita berdua, tidak berhubungan dengan pekerjaan?"

"Ibu Raisa, tadi sepertinya kamu sedang membahas pekerjaan dengan aku?" Ravindra melihat wanita kecil yang berdiri di sampingnya itu: "asisten aku sudah datang, apakah Ibu Raisa bermasalah kalau dia ikut makan bersama?"

Raisa langsung mengangkat kepalanya dan melihat Isabel, dia berkata: "tentu saja boleh. Aku hanya seorang tamu."

Nando langsung menarik kursi untuk Isabel, mata Raisa terlihat terkejut.

Sudah diduga wanita ini berbeda bagi Ravindra.

Isabel merasa gugup, tangan dan kakinya pun berkeringat.

Permainan antara dua direktur, sudah diduga dia tidak bisa menghadapinya.

Isabel beberapa kali mau berdiri dan tidak mau ikut makan siang ini.

Tapi saat dia memiliki pemikiran ini, dia akan melihat pandangan Ravindra secara samar-samar melihat ke arah sana.

Pandangan yang terlihat nyata itu membawa ancaman, membuat Isabel berkali-kali menghilangkan pemikiran itu.

Pandangan Raisa sesekali melihat Isabel dan Ravindra, dilihat dari pemahaman dia terhadap pria, wanita itu sudah diduga tidak biasa.

Asisten di samping Ravindra selalu pria, dia pertama kali melihat seorang wanita di sampingnya, dan sangat diperhatikan sampai diajak makan bersama, bagaimana mungkin dia hanya seorang asisten?

Tapi di luar sana juga tidak ada berita tentang Ravindra menikah, jangan-jangan wanita ini adalah kekasih Ravindra?

Sepertinya, Ravindra lumayan baik dengan wanitanya, tidak seperti berita yang tersebar di luar sana yang bilang dia dingin dan tidak berperasaan.

Di saat ini, dari luar tiba-tiba terdengar suara ketuk pintu: "tok tok tok---"

Isabel tanpa sadar mau berdiri untuk buka pintu, dia belum sempat berdiri, tangan kanannya yang di atas meja tiba-tiba ditekan oleh satu tangan yang besar.

Isabel memutar kepalanya melihat Ravindra, muka Ravindra seperti tidak ada ekspresi, hanya tangannya menekan tangan Isabel.

Isabel pelan-pelan melepaskan tangan Ravindra.

Jari Ravindra kaku sebentar, lalu pelan-pelan ditariknya.

Nando sudah berdiri di pintu dan menunggu perintah.

"Siapa?" suara Ravindra sangat tenang: "bukannya sudah diperintahkan, makan siang kali ini tidak boleh diganggu siapapun?"

Yang bisa makan di lantai 3 ini hanyalah petinggi dari Kitadara Finance Group, maka dia tidak bisa memikirkan petinggi mana yang buru-buru seperti ini mencari dia.

"Tuan Ravi, di rapat tadi pagi sepertinya aku lupa melaporkan hal yang penting, kamu sekarang bisa dengar tidak?" dari luar sana terdengar suara manis yang membuat orang merinding.

Isabel terkejut, lalu dia tersenyum.

Ternyata dia adalah manajer penjualan wanita yang tadi menghalangi dirinya.

Sepertinya dia benar-benar tidak bisa menahan diri, dia melihat dirinya berhasil "menggoda" pak direktur, dia tidak bisa menahannya.

Mata Raisa terlihat tersenyum melihat Isabel seperti itu.

Wanita ini menarik, ada wanita yang menggoda prianya, dia tidak terlihat tidak senang, dia malah bisa tersenyum bahagia seperti ini?

Memang berbeda dari yang lain, pantas saja bisa membuat Ravindra tertarik!

Ravindra mendengar suara dari luar, matanya langsung sedikit berat.

Nando tahu pak direktur sudah marah, dia langsung menarik pintu dan keluar membawa wanita itu meninggalkan restoran lantai 3.

Pandangan Raisa yang tersenyum melayang ke arah sini, membuat Isabel langsung gemetar.

Wanita ini maksudnya apa? Dia berpenampilan semenarik ini, bukannya untuk menggoda Ravindra? Kenapa dia selalu melihat dirinya?

"Ibu Isabel sepertinya sedikit gugup ya? Kamu kapan jadi ketua asisten Ravindra? Dengar-dengar asisten di samping Tuan Ravi semuanya pintar-pintar, Ibu Isabel juga pasti memiliki kemampuan kan?" Raisa mengangkat gelas anggur dan diarahkan ke Isabel: "ayo minum untuk Ibu Isabel."

Badan Isabel langsung menjadi kaku.

Dia sekarang sedang hamil, tidak boleh minum alkohol.

Tapi makan siang hari ini????

Isabel melihat ke arah Ravindra, dia berharap Ravindra mengambil keputusan untuknya. Tapi Ravindra sepertinya tidak terlihat ada maksud untuk membantunya, matanya sedang menunduk tidak tahu berpikir apa.

Mata Isabel bergetar, maksud Ravindra ini apa? Dia marah apa? Aku salah apa?

Pikiran pak direktur sudah diduga sulit ditebak.

Isabel mengangkat gelas anggur di depannya, baru mau diarahkan ke mulutnya, Ravindra tiba-tiba bersuara: "dia itu hanyalah ketua kecil, apakah perlu dirayakan seperti ini? Mau minum, bukannya aku bisa selalu temani kamu?"

Mata Raisa langsung bersinar.

Sudah diduga, Ravindra sangat peduli dengan wanita ini.

Ravindra berkata kepada Isabel dengan seperti tidak peduli: "sore nanti masih ada satu rapat yang harus kamu bawakan, kamu pergi rapat dengan minum alkohol, masuk akal? Nando---"

5 detik kemudian, Nando membuka pintu masuk: "pak direktur."

"Kasih Ibu Isabel jus buah." Ravindra memberikannya perintah.

Dengan cepat, gelas anggur di depan Isabel sudah diganti dengan jus buah.

Isabel tercengang, dia sore masih harus membawakan rapat?

Dengan cepat dia langsung tersadar, ini adalah alasan yang dicarikan oleh Ravindra, dia langsung menjawabnya: "baik pak direktur."

Raisa sudah selesai menguji Isabel, dia juga meletakkan gelas anggurnya, lalu dia lanjut bicara yang belum diselesaikan tadi: "karena Tuan Ravi sangat menyayangi wanita seperti ini, bagaimana kalu kasih jalan sedikit? 5% terlalu banyak, 2% saja, kita sama-sama hasilkan uang!"

Ravindra melihat Isabel sekilas, melihat dia seperti sedang terikat, dia mendorong piring di depannya.

Nando langsung meletakkan piring yang didorong oleh Ravindra ke depan Isabel.

"Kita sudah analisa kaporan dari Odyssey Group, menurunkan 5% itu sudah paling pas, kalau lebih banyak, menurut kamu Odyssey Group benar-benar bisa memakannya? Nanti pencernaan akan tidak baik, dan juga bisa merusak nama baik Ibu Raisa." jawab Ravindra dengan santai, ucapan dia itu ditujukan untuk Raisa, tapi pandangannya terus melihat ke arah Isabel.

Di keadaan seperti ini, Isabel benar-benar tidak bisa menimbrung sama sekali, dia hanya duduk diam dan makan.

Melihat nafsu makan Isabel lumayan, mood Ravindra juga sepertinya ikut membaik.

Dengan tidak mudah menyelesaikan makan siang kali ini, Isabel merasa sangat lega.

Kalau setiap hari harus makan di keadaan seperti ini, dia benar-benar khawatir pencernaan dirinya akan memburuk.

Di bawah pandangan Ravindra, dia seperti menopang satu gunung besar, dia selain makan tiada henti, berbuat hal lain sepertinya akan salah.

Maka, dia hanya makan makan dan makan.

Isabel rencana untuk jalan-jalan sebentar baru kembali ke ruangannya.

Dia baru jalan ke tangga dari lantai 2 ke lantai 1, dia dicegat oleh orang lagi.

Yang mencegatnya kali ini masih manajer wanita yang masih tidak menyerah tadi.

"Isabel, kamu ini menggoda direktur dengan macam-macam ya? Bilang, tadi kamu bilang apa ke pak direktur?" manajer wanita ini benar-benar menggigit giginya.

Dia memberanikan diri berkali-kali baru berani mengetuk pintu.

Siapa yang tahu dia belum juga bertemu dengan Ravindra sudah diusir orang keluar dulu!

Seumur hidup ini, dia belum pernah memalukan seperti ini!

Dia tidak terima, kenapa Isabel ini bisa makan di Restoran Crystal, dia tidak bisa?

Dia berpikir tidak peduli dari muka, badan, atau kemampuan, dia jauh melebihi Isabel.