Bab 23 Karyawan Yang Provokator

Setelah Isabel menghabiskan susunya, dia langsung merasa mual, dia tidak bisa menahannya dan langsung menutup mulutnya ke toilet.

Nando baru mau memanggil Isabel, toilet itu khusus digunakan oleh pak direktur! Siapapun tidak boleh memakainya! Ada satu kali satu klien yang tidak tahu masuk ke toilet itu, pak direktur langsung mengusirnya dan langsung menolak klien ini datang lagi.

Tapi Nando belum bicara, dia melihat Ravindra sepertinya sama sekali tidak melihat Isabel masuk ke dalam toilet, dia langsung menutup mulutnya. Ravindra moodnya seperti sedang sangat bagus, dia berkata kepada Nando: "perintahkan ke bawah, setiap jam kirim makanan ke sini, dan karena dia tidak suka dengan susu dari Inggris, ganti dengan yang dari Jepang saja."

Mata Nando seperti mau copot.

Saat Isabel bangun dari lantai dia baru sadar WC yang dia peluk saat muntah itu terbuat dari kristal murni.

Setelah dia menekan tombol siram air, Isabel mencuci tangannya, saat dia membuka keran air, dia juga baru sadar wastafelnya juga terbuat dari kristal murni.

Benar-benar???? mewah.

Setelah selesai kumur, dia mengambil tisu dan mengelap tangannya lalu kembali ke ruangan.

Saat kembali ke tempat duduknya, dia melihat di atas mejanya ada susu yang masih mengeluarkan uap.

Saat terakhir makan sarang burung, walaupun muntah juga harus tetap makan.

Sepertinya kali ini minum susu juga sama.

Isabel juga tidak bicara apa-apa, dia langsung mengangkat gelas itu dan meminumnya.

Saat susu itu masuk ke mulut, Isabel langsung terkejut, rasa ini tidak sama dengan yang tadi.

Isabel mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Ravindra, Ravindra sedang berdiri di samping jendela sambil telepon, dia bicara bahasa Korea, Isabel tidak mengerti, lalu dia lanjut meminum susunya.

Kali ini susunya diminum, dia tidak merasa mual, Isabel pun lega.

Setelah Ravindra selesai telepon, dia melihat Isabel sedang meminum susunya dan tidak mual, matanya terlihat sangat senang.

Wanita ini sangat penurut, bagus.

Ravindra berjalan ke arah Isabel, sambil jalan dia berkata: "laporan yang kamu buat bagus, sepertinya kamu bukan hanya tahu dandan dan tidak bisa apa-apa."

Setelah bicara, Ravindra tertawa: "sepertinya kamu juga tidak punya modal untuk dandan."

Isabel sedikit malu, dia tahu mukanya sangat biasa, tidak punya uang dan juga tidak bisa dandan cantik seperti rekan kerja lainnya.

Tapi walaupun ini adalah fakta, juga tidak perlu dijadikan bahan tawa kan?

Lupakan, tidak penting juga.

Dirinya juga bukan orang yang mengandalkan kecantikannya, dan juga dia adalah direktur, dirinya adalah karyawan, atasan bilang apa, dirinya cukup terima saja.

Berpikir sampai sini, Isabel menganggukkan kepala mengakuinya: "tidak lulus dari sekolah ternama, tidak ada pengalaman sekolah di luar negeri, kalau tidak membuat banyak hal, bagaimana aku bisa bertahan di perusahaan sebesar ini?"

Ravindra melihat Isabel dengan tidak menduga: "jadi kamu masih bisa melakukan hal lain?"

"Lumayan, kalau hal kecil, kurang lebih aku sudah pernah lakukan." Isabel tersenyum: "tentu saja kalau hal tentang keputusan aku tidak bisa."

Ravindra menunjuk form lainnya di atas meja dan bertanya: "ini semua bisa?"

"Bagian logistik memang melayani semua divisi lain di kantor, jadi form mereka aku pernah lakukan semuanya." jawab Isabel.

Kali ini mata Ravindra benar-benar bersinar.

Di saat ini, Nando masuk dari luar, dan dia berbisik di telinga Ravindra.

Setelah mendengar, Ravindra menganggukkan kepalanya dan berkata: "paham, kamu atur saja, hari ini klien ini makan di kantor."

Melihat Ravindra masih ada urusan, Isabel langsung keluar.

Saat Isabel mau keluar, Ravindra langsung memanggilnya: "kamu juga ikut."

Isabel langsung berhenti, Nando terkejut, tapi dengan cepat dia langsung tersadar dan berkata ke Isabel: "makan siang hari ini ada wakil direktur dari Odyssey Group, salah satu partner kerja sama Kitadara Finance Group. Ibu ketua, kalau kamu ada pantangan, silahkan bilang ke aku."

Nando memang asisten terbaiknya Ravindra, Ravindra hanya mengambil keputusan, Nando langsung tahu harus berbuat apa.

Isabel sedikit canggung, dia dari dulu hanyalah karyawan kelas bawah di kantor, makan siang kelas atas seperti ini dia benar-benar tidak bisa menghadapinya!

Walaupun dia bisa mengerjakan dokumen-dokumen yang rumit itu, tapi dia tidak bisa mengerjakan makan siang yang rumit ini.

Ravindra sepertinya melihat kesulitan dari Isabel, tapi dia tidak berencana untuk mengubah keputusannya.

Sebagai istri pak direktur, hal-hal ini cepat atau lambat harus dihadapi.

Kalau dari sekarang tidak dilatih, saat nanti perusahaan Korea itu datang, bagaimana bisa menyambutnya?

Isabel juga mengerti akan hal ini, masa depan dirinya akan tidak sama dengan dulu.

Area yang dikenalnya dulu akan semakin jauh, dan hal yang asing akan semakin banyak.

Ravindra adalah orang yang lebih suka beraksi, dia tidak akan memberikan dirinya waktu yang lama untuk beradaptasi atau belajar, dirinya mau tidak mau harus menghadapinya.

Walaupun sulit, dirinya juga harus cepat-cepat beradaptasi dengan posisi barunya ini.

Mengingat saat dirinya baru masuk ke kantor ini, dia juga merasakan diapit oleh banyak karyawan, dan dia bukannya bisa menghadapi semuanya?

Sekarang hanya ganti posisi saja, hanya perlu diulang dari awal!

Berpikir sampai sini, Isabel menarik nafas dalam-dalam dan berkata kepada Ravindra: "aku tidak akan membuat kamu kecewa!"

Lalu dia juga memberitahu Nando: "aku sekarang sedang hamil muda, dokter bilang tidak boleh makan makanan yang terlalu merangsang, tidak boleh makan yang terlalu amis, yang lainnya tidak ada."

Nando langsung mencatatnya dan memerintahkan ke bawah.

Ravindra juga diam-diam mengingatnya dan berkata: "baiklah, aku keluar sebentar. Waktunya sudah dijanjikan jam 12 siang, restoran kantor lantai 3. Jangan telat."

Setelah bicara, Ravindra langsung keluar ruangan bersama asisten lainnya.

Melihat Ravindra keluar, Isabel baru duduk dan menghebuskan nafasnya.

Menghadapi Ravindra yang memiliki aura sekuat ini, tidak mungkin kalau tidak gugup.

Tapi medan perang yang lebih besar masih menunggu di belakang, dia tidak ada membuang waktu.

Isabel dengan cepat membuka komputernya dan belajar tentang pengetahuan makan.

Sekarang hanya bisa berusaha di menit-menit terakhir.

Untung saja hari ini bukan makan makanan barat yang memiliki banyak etika yang rumit, dirinya seharusnya bisa menghadapinya.

Sudah diduga Nando adalah asisten terbaik Ravindra, dengan cepat dia mengirim menu makan siang hari ini kepada Isabel agar Isabel bisa mempersiapkannya di awal.

Dengan cepat Isabel melihat aturan cara makan beberapa makanan ini, setelah dia melihat sampai kira-kira paham dan melihat waktunya sudah kurang lebih, dia meninggalkan ruangannya dan berjalan menuju restoran kantor.

Kitadara Finance Group memiliki restorannya sendiri.

Totalnya ada 3 lantai atas bawah, area makan dibagi berdasarkan posisi di kantor.

Lantai paling bawah untuk karyawan biasa, dan lantai kedua digunakan untuk karyawan menengah.

Di lantai paling atas khusus digunakan oleh Ravindra dan beberapa pemegang saham.

Setiap lantai ada koki dan aturan yang berbeda, dan setiap lantai juga dilarang orang lain masuk sembarangan.

Isabel berjalan ke restoran dengan cepat, saat dia muncul di restoran, seluruh kantin langsung hening, semua pandangan orang tertuju kepada Isabel.

Ada yang iri, ada yang cemburu, ada yang merendahkan, ada yang sinis.

Berbagai pandangan membuat Isabel sangat tidak nyaman.

Isabel tahu dirinya yang dari kelas paling bawah tiba-tiba langsung menjadi karyawan paling atas, semua orang di kantor mungkin tidak terima. Semua perkataan dari orang-orang juga tidak bisa dihindari, tapi hal ini sama sekali tidak bisa dijelaskan, maka lebih baik tidak dijelaskan.

Isabel mengira kalau dia tidak mencari masalah dengan orang lain, semua orang akan diam dan tenang.

Tapi Isabel sangat meremehkan daya tarik Ravindra terhadap para wanita jomblo di kantor, dia belum sampai ke pintu tangga lantai tiga, sudah ada orang yang menghalanginya.

"Isabel, kamu salah jalan ya?" satu manajer wanita dari divisi penjualan menghalangi Isabel: "walaupun kamu berhasil menjadi kekasih direktur, dan juga kamu dari karyawan yang kecil dan tiba-tiba menjadi ketua asisten. Tapi, kamu harus berhenti di sini, kalau naik lagi, sudah bukan tempat yang seharusnya kamu kunjungi."

"Masih mau naik satu lantai, sepertinya usaha kamu masih belum cukup? Kamu terlihat seperti menikah dengan direktur dan istrinya, dan bukan ketua asisten!" manager wanita itu melihat Isabel dari atas sampai bawah dengan merendahkan, lalu berkata dengan sinis: "hanya mengandalkan penampilan kamu seperti ini, mau membuat direktur menikahi kamu itu tidak mungkin, walaupun kamu menggunakan cara yang macam-macam untuk naik ke ranjang direktur, kamu juga hanya akan menjadi alat penghangat ranjang. Menjadi kekasih saja apa yang dibanggakan?"

Isabel berdiri di sana, menarik nafas dalam-dalam, dan memberitahu diri sendiri dalam hati: tidak boleh marah, tidak boleh marah! Demi anak, tidak boleh marah!

"Tolong kasih aku jalan, kalau aku salah jalan dan dipecat oleh direktur, bukannya itu kemauan kamu?" bukannya kebetulan jadi ada tempat untuk kamu menggoda direktur?" dulu dia selalu dibuli oleh orang, tapi sekarang dia sudah jadi mama, tidak boleh menjadi lemah lagi!

Isabel mengangkat kepala dan melihat manajer wanita yang berdiri di depannya ini, muka wanita ini sangat menggoda, badannya juga sangat bagus, pantas saja tidak terima.

Di saat ini, Nando jalan ke sana dari sebelah, dia melihat manager wanita yang menghalangi Isabel dengan pandangan memperingatkan.

Manajer wanita itu tahu kedudukan Nando di kantor, tanpa sadar dia langsung melepaskan tangannya.

"Ibu ketua, pak direktur dan tamunya sudah sampai, tinggal menunggu kamu." ucap Nando kepada Isabel.

Hanya dengan satu kalimat, mampu menjelaskan dengan jelas kenapa Isabel bisa muncul di lantai tiga, juga membuat orang lain di kantor melihat dengan jelas, kedudukan Isabel di kantor, benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan asisten kecil dulu.

Isabel tersenyum berterima kasih ke Nando, dia tahu Nando ini sedang membuktikan dirinya.

Melihat Isabel mengikuti Nando naik ke lantai 3, muka manajer wanita yang menghalangi Isabel itu langsung pucat: "bagaimana mungkin? Walaupun dia adalah asisten direktur, tapi dia juga tidak bisa makan di lantai 3!"