Bab 22 Ketua Asisten Direktur

"Tapi, ini adalah perintah dari ibu chairman." Nando ragu-ragu, dia menjawab: "ini juga kemauan dari pak direktur. Bahkan ibu chairman tidak membolehkan ibu pulang ke desa, nyonya hanya perlu menjaga janin di sini dengan baik saja."

"Tidak, aku akan telepon ibu chairman, aku awalnya sudah ada pekerjaan, aku tidak bisa menganggur di rumah." Isabel langsung memutar badannya dan mencari buku nomor dan telepon, dengan cepat Nando langsung melaporkan kejadian di sini ke Ravindra.

Ravindra yang sedang mengurus urusan kantor mendengar laporan dari Nando, dia tersenyum dan berkata: "dia bisa apa? Dia itu hanya karyawan yang sangat rendah, pekerjaan kecil itu masih dibilang pekerjaan? Kalau ibu chairman setuju, suruh dia ke sini jadi asisten, aku mau lihat dia bisa punya kemampuan seperti apa! Suruh istirahat di rumah dengan baik tidak mau, masih saja mau ke kantor!"

Nando langsung memberitahukan ucapan Ravindra kepada asisten Nenek Kitadara.

Nando baru selesai melapor, Isabel sudah menemukan telepon dan menelepon Nenek Kitadara dan berusaha membujuknya: "ibu chair??.. ah, nenek, aku Isabel. Aku bisa diskusi satu hal sama kamu tidak? Badan aku sekarang sangat baik, sama sekali tidak perlu untuk istirahat di rumah. Dan juga di kantor juga ada ruang medikalnya, kalau badan aku sedang tidak enak, aku setiap saat bisa panggil dokter. Aku ada pekerjaan, kalau tidak masuk kerja dalam waktu yang lama, pasti akan dibicarakan oleh orang lain, dan juga tidak baik terhadap perusahaan. Nenek, aku boleh bekerja kembali ke kantor tidak? Aku jamin tidak akan ada masalah apa-apa!"

Nenek Kitadara memegang telepon sambil tersenyum: "di rumah menikmati hidup tidak baik ya?"

"Nenek, aku???? aku masih mau bekerja. Sendirian di rumah sangat sepi dan bosan. Kalau mood tidak baik juga akan mempengaruhi anak." Isabel tidak berani bilang kalau dirinya kekurangan uang, dia hanya bisa menggigit bibirnya sambil memohon: "aku tidak akan lembur sampai terlalu lelah, aku hanya mau cari tempat yang tidak asing untuk menenangkan pikiran."

"Kalau cuma cari tempat untuk menenangkan pikiran, kamu di samping Ravindra saja. Dia lebih membuat aku tenang dibanding siapapun." Nenek Kitadara berpikir membuat mereka bersama juga bagus, bisa membangun hubungan dengan baik, buat anak juga baik.

Mendengar ucapan Nenek Kitadara, Isabel terkejut, mau jadi asisten Ravindra? Dirinya sama sekali tidak bisa!

"Baiklah, seperti ini saja. Kamu jadi asisten Ravindra atau kamu istirahat di rumah." sifat dominasi dari Nenek Kitadara akhirnya muncul.

"Baiklah aku mau!" mendengar itu, Isabel langsung menjawabnya.

Tidak peduli kerja apa, asal ada gaji sudah cukup.

Setelah meletakkan telepon, tidak berapa lama Nando kembali dari luar, dan memberikan kartu karyawan yang baru kepada Isabel.

Kartu karyawan? Secepat ini?

Dirinya baru saja selesai telepon, kartu karyawan yang baru sudah keluar? Jangan-jangan Ravindra dari awal sudah tahu???? bagaimana bisa? Pasti dirinya berpikir terlalu banyak!

Isabel mengambil kartu karyawan dirinya, posisi yang tertulis di atasnya adalah: ketua asisten direktur.

Ketua asisten direktur?

Isabel langsung tersenyum: "kamu sudah jadi rekan kerja aku?"

Nando juga tersenyum: "nyonya adalah ketua dari semua asisten."

Sekarang bagus, ada nyonya yang berada di samping pak direktur, tidak perlu takut lagi tidak bisa membaca pikiran pak direktur.

Di saat ini, pembantu sudah meletakkan sarapan di atas meja makan, dan berdiri di samping untuk melayani Isabel makan.

Isabel beberapa hari ini juga sudah mulai biasa dikerumuni oleh orang-orang ini.

Isabel juga tahu, keluarga Kitadara berbuat seperti ini bukan karena dirinya, tapi demi anak di dalam perutnya.

Ini adalah anak pertama generasi keempat keluarga Kitadara, keluarga Kitadara sangat mementingkannya seperti ini, bagaimana mungkin mau membiarkan dirinya terjadi apa-apa?

Setelah sarapan, Nando mengendarai mobil dan langsung membawa Isabel ke kantor.

Saat masuk ke pintu kantor, Isabel merasakan jutaan pandangan yang mengarah ke dirinya, tidak sedikit orang yang diam-diam membicarakannya.

Nando adalah asisten Ravindra yang paling sering muncul, sekarang Nando mengikuti Isabel, ini membuat lubang di otak orang lain semakin besar.

"Menurut kalian, hubungan Isabel dengan pak direktur apa, pak direktur bisa-bisanya menyuruh Nando mengikuti Isabel?"

"Itu masih perlu ditanya? Pasti hubungan yang sangat dekat! Tapi, Isabel ini juga tidak akan ada akhir yang bagus."

"Maksudnya?" orang lain langsung bertanya lebih lanjut.

"Kalau pak direktur benar-benar suka dengan dia, kenapa sampai sekarang tidak kasih dia status?" jawab wanita yang tadi bicara.

Orang lain langsung sadar: "masuk akal!"

Saat orang-orang ini melihat Isabel lagi, matanya mengandung rasa kasihan???? dan cemburu.

Isabel menghela nafasnya, dia sudah tahu dirinya sudah menghilang dari kantor beberapa saat, komentar di kantor pasti tidak akan berhenti.

Tidak penting, identitas dirinya apa, benar-benar tidak penting.

Dirinya sama sekali tidak cinta pria itu, jadi dia kasih status dan kedudukan atau tidak, sebenarnya juga tidak penting.

Isabel mengambil kartu karyawannya dan langsung ditempelkan di lift.

Di dalam Kitadara Finance Group, semua kartu karyawan masing-masing bisa langsung sampai ke lantai tempat kerjanya.

Isabel melihat angka di lift dari lantai satu langsung naik ke lantai 36.

Saat pintu lift terbuka, Isabel menapakkan kakinya keluar dari lift, sepatunya yang empuk sedang menginjak karpet putih yang lembut yang dikirim langsung dari Prancis, melihat ruang kerja pak direktur yang sangat besar di depannya, dia merasa sedikit tidak nyata.

Ini adalah tempat terlarang baginya saat masih menjadi karyawan kecil, hanya petinggi yang memiliki hak untuk ke sini.

Dan di saat ini, dia juga sudah menjadi petinggi.

"Nyonya????" para asisten di samping Ravindra tentu saja sudah tahu tentang pernikahan pak direktur, maka sikap kepada Isabel juga sangat hormat.

Tidak peduli Isabel disukai atau tidak, tapi dia mengandung generasi keempat keluarga Kitadara adalah fakta. Ibu terhormat karena anaknya terhormat, di setiap saat ini sangat berlaku.

Isabel melambaikan tangannya dan berkata: "ini kantor, jangan panggil aku seperti ini."

Saat Isabel masuk ke ruangan Ravindra, Ravindra sedang menundukkan kepalanya di meja dan menulis dengan cepat.

Isabel ragu-ragu sebentar, tapi dia tetap berjalan ke arahnya dan menyapanya: "pak direktur."

Tangan Ravindra tiba-tiba berhenti, lalu dia langsung menyelesaikan tulisannya dengan cepat, meletakkan pulpennya dan mengangkat kepalanya melihat Isabel.

Isabel hari ini walaupun masih memakai seragam karyawan, tapi karena sedang hamil, sepatu hak tingginya sudah ditukar menjadi sepatu empuk yang rata.

Mata Ravindra terlihat puas.

Sangat bagus, mengerti bagaimana cara melindungi anak.

"Mulai hari ini, kamu adalah ketua asisten, kamu bertanggung jawab untuk mengontrol semua hal di ruangan pak direktur, bisa tidak?" saat ini Ravindra sudah kembali ke tampangnya yang dingin, mau menjadi ketua asisten bukan hal yang sangat mudah. Dia bukannya terus bilang mau datang bekerja? Maka kasih dirinya lihat dia punya kemampuan seperti apa.

"Bisa." Isabel menundukkan kepalanya dan menjawab.

Ravindra sedikit tidak menyangka dengan jawaban Isabel, sangat percaya diri seperti itu?

Dia mengambil satu dokuman dan diberikan kepada Isabel: "bantu aku cek ulang."

Isabel mengambil dokumennya dan langsung mulai bekerja di meja sebelah.

Ravindra terus menatap Isabel, ini adalah sisi dia yang lainnya?

Ternyata saat bekerja dia seperti ini ya!

Ini adalah ekspresi kelima dia setelah menangis, tersenyum, marah dan putus asa?

Ternyata saat dia serius bekerja, dia sangat enak dilihat, mata dan alisnya juga sangat serius.

Di saat ini, sekretaris membawa kopi dan mengetuk pintu masuk ke dalam, dia baru meletakkan kopi di atas meja Isabel, tidak menunggu Isabel berbicara, Ravindra sudah berkata: "bawa pergi kopinya, dia hanya minum susu, kasih dia susu yang impor dari Inggris, dan ingat untuk panaskan dulu baru dibawa ke sini."

Sekretaris langsung tercengang!

Apakah dia salah dengar?

Pak direktur tidak diduga bisa memperhatikan hal sekecil ini? Jangan-jangan, pak direktur daritadi sedang melihat???? Isabel?

Melihat sekretaris masih melamun, mata Ravindra sedikit mengecil dan berkata dengan tidak senang: "kenapa? Hal kecil seperti ini tidak bisa?"

Dirinya dulu tidak pernah berhubungan dengan petinggi, jadi dia benar-benar tidak tahu ternyata Ravindra serewel ini? Dia ini Virgo ya?

"Aku Scorpio." Ravindra mengambil laporan Isabel, dan bicara sambil melihatnya.

"Uhuk????." Isabel hampir tersedak dengan susunya.

Apakah dia masih orang? Dirinya sedang berpikir apa bisa-bisanya dia mengetahuinya!

"Minum susu saja bisa tersedak, sepertinya aku terlalu memandang tinggi kemampuan kamu." di suara yang datar itu, terdapat pemikiran yang Isabel tidak mengerti: "kamu bintang apa?"

"Cancer." kenapa jadi seorang asisten juga harus tahu bintangnya apa.

Ravindra hanya memutar kepalanya, asisten Nando langsung mengerti dan melapor: "kecocokan Scorpio dan Cancer adalah 100%."

Mata Ravindra langsung terlihat senang.

Nando diam-diam berkata di dalam hatinya, "pak direktur, musim semi kamu akhirnya tiba!"