Bab 21 Akhir Dari Cinta Pertama

Ravindra melihat mata Andika yang serakah, dia sudah tahu semuanya sudah beres.

Ravindra tidak bicara lagi, dia hanya berdiri diam di sana.

Isabel tidak tahan lagi, dia langsung menarik Andika: "Andika, kita pergi! Kita tinggalkan temapt ini, kita tidak perlu uang dia, kita berjuang bersama, kita berusaha bersama, cepat atau lambat kita bisa mendapatkan uang yang lebih banyak dari yang dikasih dia!"

Andika melihat pandangannya ke arah uang dihalangi oleh Isabel, tanpa berpikir dia langsung mendoron Isabel: "awas! Ini semua punya aku! Hahaha, aku Andika kaya! Aku akhirnya punya uang dan punya mobil!"

Isabel didorong dan hampir terjatuh.

Ravindra mengulurkan tangannya dan menahan Isabel, tapi Isabel sama sekali tidak melihat Ravindra, dia tetap mau menghampiri Andika.

Andika, kamu ini kenapa? Uang Ravindra, kita tidak butuh! Kita sendiri juga bisa menghasilkan uang!

Andika, kamu lihat aku! Kamu lihat mata aku, cepat kasih tahu Ravindra, kamu tidak akan meninggalkan aku!

Isabel melepaskan tangan Ravindra dan menghampiri Andika: "Andika, kita????"

"Kamu merepotkan!" Andika lagi-lagi membuang tangan Isabel, dan lanjut memeluk uangnya.

Isabel seperti disiram air dingin dari atas kepalanya, ujung kepala sampai ujung kakinya sangat dingin.

Apakah ini masih pria yang bilang cinta dia seumur hidup?

"Baiklah, Tuan Andika, sudah saatnya kamu harus membuat pilihan, waktu aku terbatas." Ravindra melihat Isabel mendorong dirinya, walaupun terluka dia tetap mau berjalan ke arah Andika, hatinya diam-diam muncul kemarahan.

Tanpa mengangkat kepala Andika langsung menjawab: "aku tentu saja mau uang! Wanita ini milik kamu!"

Jawaban Andika, membuat pandangan Isabel gelap!

Tidak, tidak seperti ini!

Andika, kamu tidak boleh seperti ini dengan aku!

Kita jelas-jelas saling mencintai, kamu kenapa???? menjual aku semudah ini?

Masa lalu kita, sebenarnya dianggap seperti apa di hati kamu?

Aku di hati kamu, apakah bisa dihargai dengan uang?

"Bagus, semua uang dan mobil ini milik kamu." Ravindra berjalan ke depan dan menarik Isabel.

Bibir Isabel sedikit gemetar, dia mau bilang sesuatu, tapi di saat ini dia sudah tidak bisa berkata apa-apa.

Andika tidak melihat Isabel sekalipun lagi, dia memasukkan beberapa tas ini ke dalam Bentley edisi terbatas, lalu dia menganggukkan kepalanya ke Ravindra untuk berterima kasih, dia tetap tidak melihat Isabel, dan langsung pergi mengendarai Bentleynya dengan bahagia.

Ketulusan kamu dulu, di saat ini semua sudah menjadi satu lelucon.

Semua kata-kata manis yang pernah ada, semua sudah berubah menjadi kosong.

Asal dia punya uang, wanita seperti apa yang tidak bisa dia dapatkan?

Isabel itu apa? Wanita yang lebih cantik dari dia sangat banyak!

Andika mengendarai mobilnya pergi dengan senang, bahkan dia tidak melihat wanita yang pernah dirangkulnya dulu, yang di saat ini mukanya sudah sangat pucat.

Isabel lagi-lagi melepaskan tangan Ravindra, dan mau mengejar Andika.

Tapi dua baru lari dua langkah, bayangan Andika sudah tidak terlihat.

Dirinya dijual oleh pria yang sangat dicintainya seperti ini saja?

Hati Isabel sangat sakit, sakitnya membuat dia tidak bisa menegakkan pinggangnya, dan langsung duduk di tanah.

Sampai di saat ini, dia masih tidak percaya semua yang dilihatnya itu adalah fakta.

Dia bahkan merasa ini pasti mimpi.

Benar, ini hanyalah satu mimpi buruk.

Asal terbangun dari mimpi buruk ini, semuanya pasti akan kembali ke titik awal. Dia pasti akan bisa bahagia bersama dengan Andika????

Isabel mengulurkan tangannya dan menekan bagian dadanya, dia membuka mulutnya dan mau muntah, tapi tidak ada yang keluar sama sekali.

Ternyata saat putus asa, muntah saja menjadi sangat sulit seperti ini.

"Tidak???? tidak seperti ini????" pandangan Isabel mengarah ke selembar uang yang terbawa angin, hatinya berteriak tiada henti, mimpi buruk ini kenapa masih belum selesai? Kenapa masih dilanjutkan!

Andika, Andika, Andika!

Aku benci kamu!

Aku sangat benci kamu!

Keindahan cinta aku terhadap kamu, semuanya sudah hilang????

Cukup, benar-benar sudah cukup.

Sudah saatnya bagi dirinya untuk tersadar.

Cinta sebelah pihak ini, ternyata hanya menjadi serangan yang menyakitkan.

Usaha yang pernah dilakukannya, semuanya menjadi lelucon yang sangat kasihan.

Andika, aku mau berterima kasih ke kamu atas kelas yang sudah kamu ajarkan ke aku.

Karena kamu sudah memilih uang, maka kamu pergi dengan uang-uang itu saja!

Aku Isabel buta, bisa-bisanya aku berpikiran kamu memilih bersama aku selamanya!

Andika???? jaga diri kamu baik-baik.

Jennifer yang terus bersembunyi melihat kejadian itu, tidak menyangka akan terjadi perputaran seperti ini, dia baru mau menghampiri Ravindra.

Belum melangkah, sudah ada dua bodyguard menghalangi Jennifer.

"Kalian mau apa? Aku ini Dina, aku adalah pacar Ravindra, aku mau ketemu dia!" Jennifer tetap mau menghampiri Ravindra.

Dua bodyguard itu langsung menghalangi Jennifer.

"Nona Dina, perintah dari pak direktur, karena Milan sebagus itu, maka nona Dina tidak perlu pulang lagi. Pak direktur sudah memesankan tiket untuk nona Dina, nona Dina silahkan." jawab bodyguard tanpa ekspresi.

Jennifer menggelengkan kepala dengan tidak percaya dan berteriak: "tidak! Kalian bohong! Ravindra tidak mungkin seperti ini dengan aku! Kalian awas, aku mau menjelaskan ke Ravindra! Yang menikah hari ini aku, bukan Isabel!"

Dua bodyguard itu tidak ada maksud untuk memberi jalan, asisten Nando berjalan ke sana, dia menganggukkan kepalanya ke dua bodyguard, dua bodyguard langsung menarik Jennifer meninggalkan gereja dan mengantarkannya ke bandara, menariknya untuk naik ke pesawat dan memaksanya untuk meninggalkan negara ini.

Acara pernikahan selesai, Isabel dan Ravindra kembali ke villa yang diberi oleh Nenek Kitadara.

Kamar mereka berdua sudah didekorasi menjadi baru.

Isabel melamun duduk di dalam kamar, dia masih belum tersadar dari acara pernikahan. Kamar ini akan menjadi kamar tempat mereka melewati malam pertama setelah menikah.

Mendengar suara air dari kamar mandi, Isabel baru tersadar, dia baru sadar kalau dia benar-benar sudah menikah, dia benar-benar sudah meninggalkan masa lalunya.

Yang bisa diingat oleh Isabel di pernikahan ini tidak banyak.

Seluruh prosesinya dia hanya melamun dan menjalaninya seperti robot.

Di saat Andika pergi membawa mobilnya, dia tahu dirinya sudah harus menyerah.

Mungkin menikah dengan Ravindra bukan pilihan yang sangat baik, tapi juga belum tentu pilihan yang sangat buruk kan?

Setidaknya dia adalah papa dari anak ini, setidaknya saat anak ini lahir tidak akan kehilangan kasih sayang dari keluarga.

Di saat ini dirinya sudah benar-benar tersadar, dengan terjadinya kejadian seperti itu, Ravindra tetap menyelesaikan pernikahan ini walaupun sedang marah.

Mungkin, dia benar-benar sangat peduli dengan anak ini melebihi yang lainnya?

Jennifer, maaf, aku harus menikah dengan Ravindra!

Tidak peduli saat itu kamu tidak sengaja salah kasih kartu kamar, atau kamu sengaja salah kasih kartu kamar, tapi jejak takdir sudah mengalami perubahan.

Aku dan Andika sudah benar-benar selesai, di saat dia menjual aku dengan 5 juta dolar amerika, 4 miliar rupiah dan mobil Bentley, cinta aku sudah mati.

Karena sudah tidak ada cinta, maka aku tidak bisa kehilangan anak ini.

Demi anak ini, aku harus kuat! Aku tidak boleh terjatuh semudah ini.

Demi anak ini, pernikahan ini harus dilakukan.

Walaupun pernikahan ini hanya formalitas, aku juga tidak peduli.

Bagi satu wanita yang sudah tidak percaya dengan cinta, menikah dengan siapa apa bedanya?

Isabel duduk di pinggir ranjang dan memikirkan masalahnya, Ravindra keluar dari kamar mandi, dia mengangkat matanya dan melihat Isabel yang seperti ini.

Sudah tidak ada kegilaan dan keputusasaan di siang tadi, tapi ekspresi muka dia tersembunyi sedikit keteguhan.

Sepertinya, dia sudah tahu harus berbuat apa agar baik untuk anak.

Isabel melihat Ravindra keluar hanya mengenakan satu handuk, matanya langsung dialihkan ke tempat lainnya.

Walaupun sudah menikah, tapi Isabel masih tidak terbiasa tidur dengan pria asing di satu kamar.

Mata Ravindra berkedap-kedip, bagaimana mungkin dia tidak mengerti maksud dari Isabel?

Mengingat siang tadi dia menangis dengan putus asa seperti itu, tidak disangka dia juga merasa hatinya sedikit sakit.

"Hari ini aku tidur di ruang buku, kamu sudah lelah seharian, istirahat pagian." bukan hanya Isabel tidak terbiasa, dia juga tidak terbiasa!

Lagipula pernikahan ini ada hanya untuk anak, tidur dimana juga tidak penting.

Isabel mengangkat matanya melihat Ravindra, dia juga sedikit terkejut.

Kamar ini milik Ravindra, tidak disangka dia memberikannya untuk Isabel? Iya juga, dia sama sekali tidak suka dengan dirinya, bagaimana mungkin dia bersedia tidur dengannya?

Ravindra tidak omong kosong lagi, dia menarik pintu dan keluar.

Setelah Ravindra pergi, Isabel yang tadinya gugup akhirnya menjadi rileks.

Hari ini akhirnya selesai.

Saat bangun di pagi hari kedua, Isabel meninggalkan kamarnya dan mencium ada wangi dari ruang makan, dan juga Nando yang menunggu di ruang tamu.

"Pagi nyonya." asisten Nando menyapa dengan sopan.

"Pagi." Isabel menganggukkan kepalanya: "Ravindra dimana?"

Kemarin malam saat Ravindra pergi, dirinya tidur dengan pulas. Ini adalah pertama kalinya dia tidur sangat pulas setelah kejadian salah masuk kamar. Sampai Ravindra yang di sebelah kapan perginya dia juga tidak tahu.

"Pak direktur dari tadi sudah pergi ke kantor." Nando menjawab dengan profesional: "ibu chairman perintah agar nyonya istirahat dengan baik di rumah. Kalau perlu sesuatu, silahkan beri tahu aku saja."

"Istirahat? Aku tidak butuh istirahat!" Isabel mengerutkan alisnya, kalau dirinya istirahat di rumah, maka dirinya tidak akan ada uang!

Dirinya perlu uang untuk dikirim ke rumah, dengan seperti ini mama baru bisa hidup lebih baik.

Uang keluarga Kitadara, harus tunggu anaknya lahir baru bisa dikirim ke dirinya.

Dari saat ini sampai melahirkan, masih perlu waktu yang sangat lama.

Kalau saat-saat ini tidak kirim uang ke rumah, nenek pasti akan menyiksa mama!