Bab 19 Pergi Mencari Andika

"Kenapa bisa???? seperti ini?" Isabel bingung, dia tidak menyangka Jennifer akan memberikan jawaban seperti ini: "tapi kartu kamar yang aku dapat itu memang 1216! Jennifer, ini sebenarnya kenapa?"

Jennifer melihat Isabel sudah tertipu, dia langsung menutup mukanya berpura-pura menangis dan berkata: "astaga! Jangan-jangan kita minum terlalu banyak dan salah ambil kartu kamar? Oh ya, kalau kamu menikah dengan Ravindra, aku bagaimana? Andika bagaimana! Isabel, jadi orang bagaimana bisa egois seperti ini? Walaupun kamu tidak peduli dengan perasaan aku, apakah kamu memikirkan Andika? Di saat kuliah, dia mengeluarkan semuanya untuk kamu, apakah kamu benar-benar bisa melupakannya semudah ini?"

Hati Isabel sangat tertusuk, sakitnya membuat muka dia langsung menjadi pucat.

Semua perasaan yang dipaksakan olehnya itu, semuanya berputar kembali.

"Andika baru saja ke luar negeri 2 bulan, kamu bisa-bisanya menikah dengan orang lain! Isabel, hati kamu benar-benar jahat ya! Aku bisa-bisanya punya teman baik yang sejahat kamu, aku ini benar-benar buta! Aku dan Andika sangat percaya dengan kamu, tapi kamu seperti ini terhadap kita!" Jennifer berusaha untuk mengeluarkan air matanya, dan menunjukkan ekspresinya yang sangat tidak percaya melihat Isabel.

Sudah diduga Isabel tergoyah!

"Isabel, maaf, tadi aku tidak seharusnya menampar kamu. Aku hanya???? hanya tidak bisa menerima kenyataan ini!" Jennifer tiba-tiba maju dan memeluk Isabel dan menangis: "Isabel, kembalikan Ravindra ke aku ya? Aku benar-benar cinta dia, kamu kembalikan dia ke aku! Kamu masih ada Andika, kalau aku? Aku sudah tidak punya apa-apa lagi!"

Air mata Isabel sudah keluar: "tapi bagaimana? Jennifer, aku sudah tidak bersih, aku sudah mengandung anaknya Ravindra! Aku juga tidak mau nikah, tapi kalau aku tidak nikah, anak ini akan direbut. Aku bisa apa?"

Bicara sampai akhir, Isabel sudah menangis hebat.

Bagaimana mungkin dia tidak menyesal? Dia dari awal sudah sangat menyesal dan sakit hati.

Tapi dia sudah tidak punya jalan keluar, iya kan?

"Isabel, kamu cari Andika saja! Dia sangat cinta kamu, kamu juga sangat cinta dia, kalian itu sudah takdir untuk bersama! Isabel, kamu kasih tahu yang sebenarnya kepada dia, kasih tahu dia kamu hanya salah ambil kartu kamar, dan bukan benar-benar mengkhianatinya, kamu tanya dia, apakah dia masih bisa menerima kamu dan bersama dengan kamu. Dia sangat cinta dengan kamu, dia pasti bisa menerima anak di perut kamu!" Jennifer terus mencuci otak Isabel tiada henti: "kamu tidak suka Ravindra, Ravindra juga tidak suka kamu, walaupun kamu menikah, kamu juga tidak akan bahagia, iya kan?"

Mata Isabel bersinar, benar, yang dibilang Jennifer benar!

Dirinya sama sekali tidak cinta dengan Ravindra, dia juga tidak suka dengan dirinya, kalau dirinya menikah dengan dia pasti akan menyakitkan!

Dirinya mau mencari Andika, dan memberitahukan semua kenyataannya.

Dirinya saling mencintai dengan dia, dan juga sama-sama memiliki kenangan indah yang sangat banyak.

Dirinya mau tanya dia, kalau dirinya sudah tidak bersih lagi, apakah dia masih mau dengan dirinya?

Kalau dirinya bersedia bersama dia tanpa peduli yang lainnya, apakah dia mau bersama dengan dirinya selamanya?

Apakah dia bersedia menerima anak ini?

Tiba-tiba, hati Isabel penuh dengan jutaan harapan.

Karena Andika pulang sementara, membuat Isabel sangat berani, dia mau mencari Andika untuk bicara baik-baik!

Isabel langsung mendorong Jennifer, tanpa mengenakan sepatu, dia langsung keluar mengenakan gaunnya!

Saat Isabel muncul di luar, ekspresi di mukanya yang tidak biasa langsung mengejutkan bodyguard di luar.

Mereka melihat Isabel berlari kencang ke luar gereja, mereka langsung mengikutinya dan mengalangi Isabel tiada henti: "nyonya, pernikahan sebentar lagi akan dimulai, harap kembali ke ruang istirahat."

Isabel tidak peduli bodyguard bilang apa, di saat ini dia hanya mau mencari Andika, memberitahu dia semuanya! Lalu meninggalkan tempat yang mengesalkan ini bersama Andika!

Isabel baru berlari ke pintu samping gereka, belum sempat keluar dia sudah dihalangi oleh kerumunan orang.

"Awas! Kalian semua awas! Jangan halangi aku!" air mata Isabel melunturkan dandanan di mukanya, membuat dia terlihat sangat sedih.

Isabel mendorong orang-orang itu mati-matian, tapi tidak peduli sekuat apa dia tetap tidak bisa mendorongnya.

"Kalau kalian menghalangi aku lagi, aku akan melukai diri aku sendiri!" Isabel langsung terburu-buru, dia mengambil penjepit rambut di kepalanya dan mengarahkan ke perutnya: "kalau generasi keempat keluarga Kitadara terjadi apa-apa, apakah kalian bisa bertanggung jawab?"

Sudah diduga, kalimat Isabel ini sangat berguna, para bodyguard yang tadi sangat bersikeras untuk meghalanginya saling melihat satu sama lain, dan tidak berani bergerak.

"Kalau generasi keempat keluarga Kitadara terjadi apa-apa, kamu bisa menanggungnya?" suara Ravindra yang rendah dan dingin terdengar dari belakang.

"Aku???? aku hanya????" Isabel langsung tidak tahu harus berkata apa.

"Kamu lari keluar tanpa peduli penampilan kamu seperti ini, pasti mau bertemu dengan mantan pacar kamu kan." aura Ravindra yang seperti bisa mengontrol semua hal muncul lagi: "seperti ini saja, kamu mau bertemu dia, aku akan biarkan kamu bertemu dia! Kalau dia bersedia untuk bersama kamu, maka perjanjian nikah kita batal."