Bab 18 Jennifer Pulang

Setelah Ravindra bicara, mata Isabel langsung berubah menjadi murung.

Benar, arti dari foto ini adalah Andika yang mengambil fotonya????

Hanya saja, semuanya sudah tidak bisa kembali.

Mata Ravindra sedikit menurun, kebetulan dia melihat mata Isabel yang murung itu dengan jelas, tidak tahu kenapa, hati Ravindra tiba-tiba memiliki perasaan yang tidak biasa.

Nenek Kitadara dan Nenek Fitri dengan cepat sudah selesai menentukan waktu pernikahan, karena waktu persiapan pernikahan sangat buru-buru, maka kedua keluarga tidak berencana untuk membuat acara besar-besaran, hanya dua keluarga duduk bersama dan makan, lalu perayaan kecil di dalam gereja secara rahasia.

Nenek Fitri sama sekali tidak peduli dengan acara pernikahannya besar atau tidak, dia hanya mau Isabel cepat-cepat menikahi Ravindra, dan cepat-cepat melahirkan anak ini, lalu mendapatkan uang dari hadiah tunangan yang besar itu.

Maka di bawah penyusunan dua keluarga, pernikahan mereka berdua dengan cepat sudah disusun.

keluarga Kitadara memang sangat kaya, semua yang diinginkan semuanya ada.

Walaupun persiapannya buru-buru, tapi semua tempat dan urutan tidak kurang sedikitpun.

Isabel menarif nafas dalam-dalam, dia mengenakan gaun yang sangat cantik duduk di dalam ruang istirahat gereja.

Di dalam ruang istirahat yang sangat besar, hanya ada dia sendirian.

Isabel melamun melihat dirinya di dalam cermin, mukanya itu sangat asing. Walaupun dandan dengan cantik, mengenakan perhiasan yang sangat mewah, tapi dirinya yang seperti itu, apakah masih dirinya yang dulu?

Dia hari ini akan menikahi Ravindra, akan meninggalkan masa lalu secara resmi.

Tidak tahu kenapa, Isabel merasa hatinya berantakan, seperti hari ini akan terjadi sesuatu.

Di ruang istirahat satunya, Ravindra sedang memakai dasi di depan cermin.

Ravindra yang hari ini, mukanya sangat tampan sampai membuat penata rambut yang juga pria tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Asistennya Nando masuk ke dalam dan melapor: "pak direktur, nona Dina tiba-tiba pulang, sekarang sedang datang menuju gereja, sepertinya dia datang dengan persiapan."

"Dia akhirnya rela untuk pulang? Saat itu pergi langsung pergi saja, dan bilang mau kasih aku hadiah. Hadiah yang aku ambil ini tidak bisa dikembalikan lagi." Ravindra tersenyum menyindir.

Awalnya mengira Dina itu tidak sama, sekarang dilihat, ternyata sama saja.

"Kita perlu halangi tidak?" Nando lanjut bertanya: "Dina tidak mendapatkan undangan."

"Tidak perlu, biarkan dia datang, ada beberapa masalah sepertinya harus diselesaikan, kalau ditunda lagi tidak ada artinya." setelah Ravindra merapikan bajunya, dia melihat Nando: "perintahkan ke bawah, sudah saatnya orang itu muncul."

"Baik, pak direktur." Nando menerima perintah dan langsung keluar.

Dina berdiri di luar gereja, dia melihat seluruh keindahan di depannya, dia menggigit giginya: semuanya di sini seharusnya miliknya!

Dia hanya memberikan malam pertama Isabel kepada Ravindra sebagai hadiah, tapi bukan memberikan Isabel kepada dia!

Dia kenapa bisa menikah dengan Isabel?

Tidak, pokoknya tidak boleh! Pria Dina hanya boleh Dina yang tinggalkan, tidak boleh pria itu yang tinggalkan!

Dina ingin mencari Ravindra, tapi Ravindra tidak semudah itu untuk ditemui, kalau tidak ada perintah dia, dia tidak bisa didekati oleh orang lain.

Daripada membuang tenaga mencari Ravindra, lebih baik membuat Isabel yang pergi!

Setelah memutuskan, Dina memutar badannya dan berjalan ke arah ruang istirahat pengantin wanita.

"Tuk tuk tuk---" ada orang yang mengetuk pintu dan masuk.

Isabel memutar kepalanya, matanya langsung membesar.

Dia bertemu dengan seseorang yang mungkin dia sendiri tidak percaya bisa menemuinya--- Jennifer.

Tinggi badannya 178 cm, sangat unggul di sisi tinggi badan, dia berjalan ke depan Isabel, tidak menunggu Isabel berbicara, dia langsung mengangkat tangannya dan menampar Isabel!

"Plak---" tamparan ini sangat cepat dan membuat Isabel tidak sempat reflek.

Badan Isabel bergoyang, hampir saja dia terjatuh ke meja, kalau bukan karena tangannya yang cepat memegang kursi, perut dia sudah menabrak ke meja.

Isabel mengangkat kepalanya dan melihat muka Jennifer yang sedang marah dari cermin, dia gemetar.

Jennifer kenapa bisa ada di sini?

Tidak menunggu Isabel berbicara, Jennifer langsung menunjuk Isabel dan memakinya: "Isabel, kamu kenapa meninggalkan Andika dan menikah dengan Ravindra? Kebaikan hati kamu dimana? Dimakan anjing ya? Kamu bagaimana bisa menikah dengan Ravindra, dia itu pacar aku, kamu bisa-bisanya menikah dengan pacar aku!"

Teriakan Jennifer menusuk telinga Isabel dan membuatnya sakit.

Di saat ini Isabel akhirnya tersadar, dia langsung memutar badannya melihat Jennifer, sambil menahan seluruh badannya yang gemetar dia berkata: "Jennifer, kamu pulangnya sangat pas, aku mau tanya kamu, pria di dalam kamar 1216 hotel Hilton kenapa bukan Andika, kenapa bisa Ravindra! Andika ada dimana?"

Jennifer langsung berdiri tegak di tempatnya setelah ditanya seperti itu oleh Isabel, setelah takut beberapa saat, dia berkata: "aku bagaimana tahu kamu bisa ada di dalam kamar pacar aku! Jelas-jelas aku kasih kamu kartu kamar 1210, kamu bisa-bisanya mengambil kartu kamar aku dan pacar aku! Aku bagaimana mungkin memberikan kartu kamar pacar aku ke kamu? Isabel, kamu pikir-pikir, beberapa tahun ini aku seperti apa dengan kamu! Kamu kenapa bisa seperti ini dengan aku!"