Bab 17 Ternyata Ini Baru Dia Yang Sebenarnya

Melihat Nenek Fitri sudah tidak berencana untuk mengurusi urusan Tiffany, calon mertua Tiffany langsung menarik anaknya, memegang uang 60 juta yang belum dikeluarkannya, mengendarai mobil Santana 2000 yang tadi menghalangi pintu, setelah hati-hati menghindari rombongan mobil dari keluarga Kitadara, mereka langsung pergi.

Mereka tidak berani mengenai rombongan mobil keluarga Kitadara, kalau saja kena sedikit, cukup membuat mereka seumur hidup tidak bisa makan tidak bisa minum, dan juga tidak bisa mengganti rugi.

Tiffany melihat Isabel merusak tunangannya, rasa iri dan cemburunya langsung mencapai titik puncak. Kalau bukan karena di sini ada banyak orang, dia benar-benar mau merebut pria ganteng itu dari sisi Isabel!

Di dalam rumah Nenek Kitadara sudah selesai membahas tentang detil dengan Nenek Fitri, lalu dia memutar kepalanya melihat mama Isabel.

"mama Isabel masih ada permintaan tambahan lain tidak?" Nenek Kitadara melihat ke arah mama Isabel.

Tidak menunggu mama Isabel berbicara, Nenek Fitri sudah berkata dulu: "dia bisa ada komentar apa? Di rumah ini, aku yang mengambil keputusan!"

mama Isabel berdiri di sebelah, dari awal tidak ada yang menanyakan komentarnya, dia seperti tidak berada di sana dan tidak ada artinya.

Isabel melihat mamanya, melihat di matanya terdapat air mata, tapi tidak bisa berkata apapun, hatinya langsung sakit.

Di rumah ini, dia dan mamanya selamanya seperti tidak berada di sini.

Semua orang bisa memutuskan takdir mereka.

Anaknya menikah, dia sebagai mama juga tetap tidak ada hak sedikitpun.

Ravindra tanpa sadar melihat ke arah Isabel, saat dia melihat muka Isabel sedikit pucat, tidak disangka dia memiliki rasa belas kasihan kepadanya.

Isabel menarik nafas dalam-dalam, dengan cepat dia mengontrol emosinya dan berkata kepada Ravindra "si???? Ravindra, kamu pertama kali datang ke desa kan? Aku bawa kamu jalan-jalan?"

Ravindra langsung menegakkan badannya: "baik."

"Iya, Ravindra kamu temani Isabel jalan-jalan, hal lainnya kamu tidak perlu peduli." Nenek Kitadara juga berkata: "di sini ada kita sudah cukup."

"Baik." Isabel juga ikut berdiri dan pamit.

Mereka berdua pergi meninggalkan rumah ini bersama, satu di depan satu di belakang dan berjalan ke arah samping.

Tidak peduli jalan kemana, di belakangnya pasti ada sekumpulan orang yang mengikuti.

"Kamu mau bilang sesuatu ke aku?" Ravindra sedikit menaikkan matanya: "kamu bilang di sini saja."

Isabel melihat di belakang pantatnya ada rombongan orang, dia berkata: "kamu ikut aku ke kamar sebentar."

Isabel hanya merasa di halaman orang terlalu banyak, bicara tidak terlalu praktis.

Di ketika ucapan ini didengar di telinga Ravindra, seperti ada satu maksud lain.

Ravindra menaikkan bibirnya: "baik."

Isabel membawa Ravindra masuk ke kamarnya.

Saat masuk ke kamar, Ravindra langsung terkejut.

Walaupun kamarnya sangat tua dan sempit, tapi kamarnya sangat rapi dan bersih.

Satu meja berbentuk persegi yang tua menggunakan alas meja berwarna biru dan putih kotak-kotak, di atasnya ada kaca transparan yang menekan, di atas kaca itu ada satu bingkai foto, di dalam foto itu ada wanita muda yang senyumannya sangat manis sedang memeluk boneka yang terlihat murah, terlihat sangat bahagia.

Setelah pandangan Ravindra terkunci di foto itu sangat lama dia baru mengalihkan pandangannya.

Isabel menuangkan segelas air untuk Ravindra, melihat Ravindra sedang melihat foto dirinya, dia langsung membalikan foto itu di atas meja, dengan sedikit tidak tenang dan buru-buru dia berkata: "Keluarga kamu tidak perlu kasih aku uang sebanyak itu, walaupun kasih ke aku, aku juga tidak dapat sepersenpun."

Ravindra tersenyum: "uang dari keluarga Kitadara juga tidak semudah itu didapatnya. Asal kamu menikah dan melahirkan anak ini, uang ini semua akan masuk ke akun kamu. Tentu saja, setelah uang ini masuk ke akun kamu, kamu mau kasih ke siapa itu semua urusan kamu."

Mendengar Ravindra berkata seperti ini, Isabel merasa lega. Dia tidak mau menguntungkan neneknya, kalau uang ini masuk ke kantong nenek, jangan berharap dia mengeluarkannya lagi.

Ravindra memutar badannya melihat rak buku yang bersandar di tembok, di atas rak itu terdapat foto lulus kuliah Isabel dan ijazah kelulusannya.

Melihat wanita yang memakai toga di dalam foto, senyumannya sangat bahagia di bawah matahari, Ravindra tanpa sadar mengulurkan tangannya mau mengambil foto itu.

Isabel langsung merebutnya, seketika dia memeluk foto itu dan berkata dengan marah: "jangan sentuh foto ini!"

Ravindra menundukkan kepalanya melihat Isabel, ini adalah ekspresi keempat di muka Isabel yang dilihatnya selain tanpa ekspresi, menangis dan tersenyum.

Alisnya dikerutkan, hidung dan mulutnya juga mengerut menjadi satu.

Tidak disangka, tampang dia saat marah juga lumayan cantik.

Bukan, seharusnya lumayan menarik.

Dia pertama kali melihat satu wanita memiliki banyak ekspresi seperti ini, Dina selain bisa tersenyum formalitas, sangat jarang ada ekspresi emosi seperti ini.

Wanita ini sangat jelas membalikkan pengetahuan dia tentang wanita,

"Foto ini sangat penting buat kamu?" Ravindra bertanya: "sepertinya setiap orang lulus pasti akan foto seperti ini kan? Apa karena orang yang mengambil foto ini sangat spesial?"