Bab 13 Keluarga Terhebat

Nenek Fitri melihat barang-barang bagus di lantai, dia berkata: "jangan kira kamu beli barang-barang ini bisa membuat aku melupakan hal-hal buruk yang kamu lakukan! Kamu tidak tahu malu tapi aku tahu malu! Keluarga suami Tiffany besok akan datang ke sini, kalau ada apa-apa, kalian keluar dari rumah ini!"

Isabel tidak ingin mendengar makian dari neneknya, tapi tujuan dia hari ini masih belum selesai.

Isabel menarik nafas dalam-dalam: "nenek, kali ini aku pulang untuk membahas urusan pernikahan aku. Barang-barang ini semuanya dibeli oleh calon suami aku untuk menghormati kamu, orang yang tadi adalah supirnya."

Satu kalimat Isabel menaikkan emosi neneknya, dan satu kalimatnya juga memadamkan api amarah neneknya.

Bisa membeli barang mahal sebanyak ini, dan juga punya supir, pasti dia lebih kaya dari Andika itu.

Mata Nenek Fitri bersinar, hatinya mulai perhitungan.

"Anak ini benar-benar ada hati, tapi membahas urusan pernikahan harus ada orang tua dua pihak ada di sini kan? Apa mereka tidak mengerti tentang ini?" pandangan Nenek Fitri tidak pernah dialihkan dari hadiah-hadiah di lantai.

"Ya, aku hanya pulang untuk bahas dengan keluarga aku, aku percaya tidak dalam waktu lama mereka akan mengunjungi rumah ini." Isabel menjawab sambil menudukkan kepalanya.

Sepupunya Tiffany yang daritadi berdiri di sebelah menimbrung: "pria ini benar-benar murah hati ya! Isabel benar-benar hebat, dalam waktu yang singkat ini bisa bertemu dengan orang kaya, tidak tahu kakak ipar masa depan aku ini adalah paman botak atau pria jelek berhidung rata?"

"Saat dia datang bukannya kamu akan lihat?" ucap Isabel dengan dingin.

Semua kejadian di dalam rumah, walaupun Nando tidak ada di sana, tapi dia mendengarnya dengan jelas.

Nando melaporkan semua kejadian di sini kepada Ravindra.

Ravindra melihat pesan dari Nando, matanya berkedap-kedip dan tidak mengerti.

Ravindra langsung menelepon Nando, dan mendengar semua kejadian di dalam.

Di dalam sana, jawaban Isabel membuat Tiffany marah.

"Nenek, Isabel mau menikah, aku juga mau menikah! Dan juga, walaupun menikah juga harus ada urutannya kan? Besok tunangan aku akan datang ke sini! Nenek sudah setuju dengan aku agar aku bisa menikah duluan! Semua mahar di rumah ini disiapkan untuk aku, tidak boleh dikasih ke Isabel!" Tiffany memeluk neneknya dan berkata dengan manja, dia takut Isabel menikah akan mendapatkan maharnya.

Sudah diduga Nenek Fitri itu pilih kasih.

Mendengar Tiffany berkata seperti ini, nenek berkata ke Isabel: "Isabel, karena keluarga suami kamu sangat kaya, mahar sedikit ini juga tidak seberapa untuk kamu, kamu sebagai kakak jangan berebut dengan adik kamu, mahar ini paman dan bibi kamu dapatkan setelah menabung beberapa tahun, papa mama kamu tidak bisa apa-apa, kamu mau mahar kamu minta sama suami kamu saja."

Hati Isabel tertawa dingin, tapi mukanya tidak berubah: "aku dari awal juga tidak ada maksud untuk merebut mahar dari Tiffany."

Barang dari keluarga Khosasie, dia sama sekali tidak mau!

"Bagus kalau begitu. Besok keluarga suami Tiffany akan datang, lagipula tidak ada hubungannya dengan kamu, kamu kerja yang banyak dengan mama kamu saja, kalau keluarga Khosasie sopan, Tiffany baru bisa menikah dengan lancar." Nenek Fitri langsung berkata dengan puas: "Tiffany dari kecil tidak pernah kerja, hal-hal ini dia tidak bisa! Kamu sebagai kakak, juga harus bantu adik kamu."

Mahar yang dikasih ke Tiffany, tentu saja tidak boleh dibagi ke Isabel. Dia hanya seorang anak pungut, sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan mahar sedikitpun.

Dia juga tidak peduli pria yang mau dinikahi Isabel seperti apa, asal mau kasih hadiah tunangan saja sudah cukup.

Hati Isabel tertawa dingin, dirinya tidak mau kerja apakah bisa tidak kerja?

Dia bisa dibilang sudah mengerti semuanya, setiap orang di keluarga ini, semuanya adalah vampir! Kalau tidak memeras dia dan mamanya sampai habis, pasti tidak akan dilepaskan.

Nando melapor semua kejadian di dalam kepada Ravindra, tangan Ravindra sedang memegang gelas, dia menggoyangkan anggur merah di dalamnya dengan pelan dan berkata: "sebagai nyonya dari keluarga Kitadara, bagaimana boleh lebih menyedihkan dari orang lain? Perintah ke bawah, besok harus bawa yang banyak baru pergi lagi!"

Hari kedua, langit masih belum cerah, Isabel dan mamanya disuruh Nenek Fitri untuk menyapu halaman, dan siap-siap menyambut tamu.

Isabel tidak berkata apa-apa, dia bangun dan cuci muka, lalu menemani mamanya melakukan pekerjaan rumah.

Hal-hal ini kalau dia tidak membantu, semuanya akan menjadi tugas mama seorang.

Orang-orang di dalam rumah juga tidak ada yang membantu, walaupun hari ini keluarga suami dari Tiffany akan datang, paman dan bibi juga tidak ada maksud untuk bangun pagi dan bersiap-siap.

Kalau urusan ini berjalan baik, itu adalah kehormatan untuk orang lain.

Kalau tidak berjalan dengan baik, maka semua tanggung jawab ada di mama.

Isabel dari awal sudah tahu muka dan mulut orang di rumah ini, kalau bukan mama yang bersikeras tinggal di rumah ini, dia benar-benar ingin sekarang juga membawa mama pergi dari rumah ini!

Isabel baru meletakkan sapu dari tangannya, di luar terdengar suara kembang api.

Hanya acara lamaran saja sampai pasang kembang api, seperti mau mengumumkan ke seluruh dunia saja.

Nenek Fitri langsung keluar, dia menunjuk Isabel dan berkata: "kamu melamun apa? Tidak cepat-cepat menyambut tamu? Kalau kamu merusak acara lamaran Tiffany, kamu keluar dari rumah ini!"