Bab 12 Pulang

"Setelah penjagaan kesehatan nyonya selama 1 minggu, badannya sudah tidak ada masalah sama sekali, hanya saja dia masih harus melanjutkan menjaga nutrisinya lalu sudah bisa keluar dari rumah sakit." dokter penanggung jawab itu berkata kepada Ravindra dengan tersenyum: "ini adalah data keseluruhannya, nyonya bisa keluar dari rumah sakit kapanpun."

Ravindra hanya melihat sekilas laporan itu dan menganggukkan kepalanya: "letakkan di sana saja."

Setelah orang lain pergi, Ravindra memberikan laporan itu kepada neneknya, Nenek Kitadara melihat laporan itu dengan serius dan berkata: "karena badan kamu sudah tidak ada masalah, jadi besok kita pergi ke rumah kamu untuk bertemu orang tua kamu saja. Anak di perut kamu sudah makin membesar, lebih baik cepat-cepat menikah."

Ravindra mengerutkan alisnya: "nenek, urusan pernikahan tidak seburu-buru itu kan?"

Isabel juga tidak mau secepat itu menikah, dia merasa kalau sudah menikah, dia sudah tidak ada jalan keluar lagi!

Nenek Kitadara melihat cucunya dengan tenang, dia mana mungkin tidak tahu hati Ravindra sedang memikirkan apa? Dia hanya berkata: "masih ada belasan hari, direktur dari perusahaan Korea dan istrinya akan datang, pihak Korea sudah menunjuk kamu dan istri kamu datang menemuinya. Kalau kamu tidak menikah, kamu mau Isabel ke sana dengan status apa?"

Ucapan Nenek Kitadara seketika langsung mengingatkan Ravindra.

Walaupun Ravindra sekarang tidak mau menikah secepat itu, tapi hal-hal kecil pribadinya ini, di depan hal besar perusahaan sudah menjadi sangat tidak penting.

"Aku paham nenek." Ravindra langsung memilih untuk mengikuti keputusan neneknya.

Mendengar Ravindra juga setuju menikah, hati Isabel langsung berat.

Mau langsung menikah?

Datangnya sangat tiba-tiba, sejak memutuskan sampai dilaksanakan, waktu ini terlalu cepat kan?

Pandangan menolak dari Isabel yang melihat ke arah Ravindra, Ravindra melihat pandangan dari Isabel, hatinya langsung sedikit tidak senang.

Dia tidak mau menikah adalah satu hal, tapi kalau Isabel tidak mau menikah adalah hal lain lagi.

Ravindra yang awalnya sedikit menolak tidak tahu berpikir seperti apa, tiba-tiba dia merasa ucapan neneknya sangat masuk akal, pernikahan ini harus segera dilaksanakan.

Melihat ibu chairman dan Ravindra sangat bersikeras, Isabel juga tahu dirinya sudah tidak ada pilihan lain.

Benar juga, sudah sampai ke titik ini, masih ada apa yang tidak bisa diterima? Menikah itu adalah urusan cepat atau lambat, cepat atau lambat 1 hari, sudah tidak ada perbedaan sama sekali.

Dia hanya tidak mau dirinya pulang dengan situasi sebesar ini, ini akan sangat mengejutkan mama.

Paling bagus kalau dirinya bisa ada waktu untuk tenang sedikit, dia bisa menyapa mamanya di awal, dan tidak akan membuat mama terluka karena menghadapi hal yang tiba-tiba ini.

Setelah berpikir dengan jelas, Isabel berkata: "ibu chairman, aku???? Bisakah aku tidak pulang dengan keluarga Kitadara, aku ingin pulang menyapa keluarga aku dulu?"

"Tidak bisa! Kamu sekarang bukan seorang, anak di perut kamu tidak boleh terjadi apa-apa." Nenek Kitadara langsung menolak dengan tegas: "kamu sekarang hanya perlu melahirkan anak ini dengan aman."

Isabel langsung menjamin ke Nenek Kitadara: "ibu chairman, aku tahu kedudukan dan kekuatan finansial dari keluarga Kitadara tidak akan membuat aku sulit, aku sama sekali tidak curiga dengan ini. Aku hanya tidak mau mengejutkan mama aku, aku mau pulang menyapa keluarga dulu. Aku jamin, aku tidak akan mengalami apa-apa."

Melihat sikap Nenek Kitadara yang bersikeras, tanpa sadar Isabel mengangkat kepalanya melihat Ravindra dengan pandangan memohon.

Dia sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba dia meminta bantuan dari Ravindra, mungkin di dalam ruangan ini hanya ada 3 orang, mungkin alasan lain, pokoknya dia berbuat seperti ini.

Ravindra melihat Isabel pertama kali melihat dirinya seperti ini, tidak tahu kenapa tiba-tiba dia mengingat senyuman Isabel saat sedang memotong bunga kemarin sore, dia berkata: "nenek, dia juga bukan anak kecil, dia mengerti."

Mendengar cucunya bicara seperti ini, Nenek Kitadara juga tersenyum, dia seperti puas dengan kekompakan mereka: "baiklah, kamu pulang dulu juga boleh, tapi, karena kamu bagian dari keluarga Kitadara, maka tidak boleh kamu pulang sendiri. Ravindra, asisten yang antar Isabel ke rumah sakit itu lumayan, minta dia antar Isabel pulang."

"Semuanya dengar apa kata nenek." mata Ravindra naik, dia melihat Isabel dengan ekspresi yang seperti melepas beban berat.

Akhirnya berhasil membujuk Nenek Kitadara, Isabel beres-beres sedikit lalu siap berangkat.

Nando mengendarai mobil VW kelas bawah, dia mengendarai mobil membawa beberapa kantong besar dan kecil mengantar Isabel pulang.

Walaupun Isabel sudah bilang tidak perlu, Nando tetap dengan perhatiannya membawakan hadiah untuk setiap orang di keluarganya.

Nando sangat mengerti apa yang boleh dikatakan apa yang tidak boleh dikatakan, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Setelah dia memberikan hadiah kepada keluarga Isabel, dia langsung keluar.

"Nenek Fitri, semua barang ini buat keluarga, kamu bagikan seperti apa bebas." Isabel meletakkan barang di tangannya di atas lantai, lalu dia langsung berdiri dengan tegak.