Bab 10 Makan Bersama

Walaupun Isabel tidak suka dengan pria ini, tapi dia tetap harus mengakui, tidak peduli pria ini makan apa tetap terlihat sangat ganteng.

Orang di sebelah juga memberikan lap tangan untuk Isabel, Isabel mengulurkan tangannya dan mengambilnya, dia mengelap tangannya dan dikembalikan ke orang itu, orang itu juga mengikuti kebiasaan pak direktur, setelah dia mengelap dengan 3 lap baru dia membukakan kursi untuk Isabel.

Isabel hanya bisa duduk di seberang Ravindra, setelah ragu-ragu beberapa lama dia berkata: "sebenarnya kamu tidak perlu datang."

Ravindra mengelap mulutnya dan menjawab: "di saat aku memutuskan untuk menikah dengan kamu, ini sudah menjadi kewajiban aku, tentu saja, hanya satu kewajiban."

Isabel tentu saja mengerti maksud dari Ravindra, dia juga tidak berkata apa-apa lagi, dia makan makanan yang diberikan oleh koki dengan diam.

Ravindra meliriknya, dengan datar dia berkata: "kamu sudah makan 3 potong salmon."

Setelah mendengar itu, koki langsung mengambil piring salmon.

Isabel sedikit bingung: "aku makan apa kamu juga peduli?"

"Aku tentu saja tidak peduli kamu makan apa, tapi anak di perut kamu aku tidak bisa tidak peduli." Ravindra langsung mengangkat kepalanya dan berkata kepada koki: "kasih dia sup ginseng yang sudah dibuat."

Isabel baru mau bilang tidak perlu, HP dia tiba-tiba berbunyi, Isabel melihat nomornya,matanya langsung terlihat sangat sedih.

Dia meletakkan HPnya di atas meja dengan terbalik, bunyi HPnya langsung hilang.

"Kenapa tidak angkat teleponnya?" mata Ravindra sedikit naik.

Isabel menundukkan kepalanya dan lanjut makan: "hanya telepon yang tidak penting."

Tidak penting? Kalau tidak penting kenapa terlihat sedih?

Ravindra hanya mengangkat matanya melihat Isabel tapi tidak berkata apa-apa.

Mereka berdua hanya makan dengan diam.

Setelah Ravindra selesai makan dia langsung pergi, setelah para koki membawa semua piring makanan pergi, Isabel baru mengambil HPnya, sudah ada beberapa panggilan yang tidak terjawab.

Melihat nomor yang tidak asing itu, Isabel merasa hatinya benar-benar sangat campur aduk.

Sejak hari itu salah meniduri orang, dirinya sudah tidak pernah mengangkat satu telepon dari Andika, juga tidak membalas pesan darinya.

Sikap dirinya sudah sangat jelas, kenapa dia masih tidak menyerah? Kenapa terus menelepon dirinya seperti tidak terjadi apa-apa, dan membahas hal yang menarik di luar negeri sana?

Jangan-jangan dia tidak curiga kalau dirinya sudah berubah?

Kenapa?

Kalau dia juga ikut menghilang, itu akan sangat baik kan? Seperti itu, dirinya mungkin juga akan jauh lebih membaik.

Tapi sudah 2 bulan, dia setiap hari tetap telepon dan mengirim pesan, lalu dirinya hanya melihat dia seperti bicara sendiri, hatinya sangat sedih.

Saat malam hari, Ravindra datang lagi. Seperti biasa, para koki juga datang mengantar makanan.

Sepertinya karena mood di sore hari tidak bagus, Isabel juga tidak ada nafsu makan.

Ravindra melihat Isabel: "kamu tidak suka rasa makanannya?"

Isabel menggelengkan kepalanya: "bukan, aku tidak begitu lapar."

Ravindra mengerutkan alisnya, dia mengulurkan tangan kanannya, dan langsung ada orang yang memberikan mangkok keramik biru kepada Ravindra.

Ravindra mengambil satu sendok sarang burung, dan diberikan ke mulut Isabel.

Isabel terkejut, dia sama sekali tidak menyangka Ravindra bisa inisiatif menyuapinya makanan!

"Tidak boleh terjadi apapun pada anak ini, makan!" satu perintah yang tidak perlu dipertanyakan, langsung menghancurkan semua halusinasinya.

Isabel mau menolak, tapi dia sekarang tidak punya hak untuk menolak, dia hanya bisa membuka mulutnya dan memakannya.

Para koki yang berdiri di sebelah langsung membuka matanya lebar-lebar!

Pak direktur tidak pernah dekat dengan wanita! Dia inisiatif menyuapi seorang wanita makan, ini benar-benar pertama kalinya!

Nyonya ini memang benar-benar tidak sama, pak direktur juga sangat peduli dengan nyonya ini.

Setelah makan 2 suap, muka Isabel langsung berubah, dia menutup mulutnya dan lari ke toilet.

Setelah beberapa saat, suara siraman air toilet terdengar.

Ravindra mengerutkan alisnya, setelah Isabel keluar dari toilet dia berkata: "walaupun kamu tidak mau makan tetap harus makan, kamu tidak takut perut kamu lapar, tapi aku masih khawatir generasi keempat keluarga Kitadara kelaparan!"

Isabel mengangkat kepala melihat Ravindra, dia tahu Ravindra tidak bercanda, dia hanya mengambil mangkok itu dan menahan rasa jijik memakan makanan di dalam mangkok itu.

Ini apa, sangat tidak enak!

Benar-benar tidak tahu para orang kaya itu kenapa, makanan tidak enak ini bisa dimakan dengan lahap!

Melihat Isabel memakan sarang burung, Ravindra baru tersenyum dengan puas.

Para koki di belakang saling melihat satu sama lain.

Astaga, pak direktur benar-benar tersenyum! Dia bisa-bisa benar-benar tersenyum!

Dua hari beruntun, Ravindra datang menemani Isabel makan.

Di saat ini Isabel baru tahu Ravindra bisa datang ke rumah sakit menemaninya makan, semuanya karena perintah dari ibu chairman.

Isabel menertawakan dirinya, iya juga, dirinya juga kebetulan bisa bersama dengan Ravindra, sama sekali tidak ada perasaan, bagaimana mungkin dia bisa datang ke sini menemaninya makan karena kemauan dirinya?

Dan juga, saat dirinya mencium beberapa makanan itu dia mau muntah, mendengar suara dirinya yang mau muntah, dia tidak jijik?