Bab 9 Kita Menikah Saja

Isabel juga menjadi sedikit tenang, dia sangat mengerti apa maksud dari keluarga Kitadara.

Tapi anak ini sudah bersatu dengan tubuhnya, bagaimana mungkin dia bisa menerima saat anaknya lahir dan langsung dibawa pergi?

Saat memikirkan kejadian seperti itu, Isabel tidak bisa tenang lagi.

Walaupun Ravindra hanya melirik Isabel, tapi dia sudah memastikan wanita ini sudah masuk ke perangkapnya, sudah tidak ada kemampuan untuk melawan lagi.

"Jadi, kamu mau bagaimana?" Ravindra tidak memberikan waktu Isabel untuk berpikir lebih lama: "aku sangat sibuk."

Isabel menundukkan kepalanya dan berpikir, lagipula dirinya dengan Andika juga sudah tidak bisa kembali lagi.

Dia sudah tidak punya jalan keluar lagi.

Hanya karena tinggal semalaman di hotel bersama Ravindra, dia hampir saja diusir dari rumah neneknya.

Kalau kehamilan ini terdengar oleh keluarganya, maka dirinya dan mamanya benar-benar akan habis.

Di saat itu, dirinya sudah tidak bisa pulang ke rumah, perusahaan juga akan memecat dirinya.

Itu benar-benar akan sangat menyulitkan, tidak tahu harus jalan kemana.

Isabel berkata: "baiklah, aku memilih untuk menikah! Aku tahu keluarga Kitadara juga butuh anak ini, asalkan menikah, aku akan melahirkan anak ini."

"Karena kamu sudah setuju, maka siap-siap untuk menikah saja." Ravindra tidak menunggu Isabel menyelesaikan pembicaraannya, dia sudah pergi meninggalkan ruang pasien: "kamu boleh izin panjang untuk istirahat dengan baik."

Atasan Isabel menerima pengumuman: Isabel mendapat perawatan khusus oleh pak direktur, dia diizinkan untuk mengambil izin panjang, selama periode izinnya, gaji dan bonusnya tetap diberikan seperti biasa.

Saat orang seluruh kantor mendengar berita ini, semuanya langsung gempar.

Satu karyawan wanita yang sering buli Isabel dan sering memberikan tugas miliknya kepada Isabel langsung sedikit panik, pak direktur kenapa tiba-tiba memberikan hak istimewa sebesar ini kepada karyawan paling bawah?

Jangan-jangan di antara mereka ada rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang lain?

Jangan-jangan, karena Isabel berinisiatif untuk memeluknya, membuat pak direktur menyukainya?

Para karyawan wanita di dalam kantor sedikit menyesal!

Kalau dari awal tahu hasilnya seperti ini, mereka juga pasti tidak akan melewatkan kesempatan ini!

Tapi, saat mereka belum sempat beraksi, sudah ada orang yang mencobanya.

Satu karyawan wanita dari divisi lain juga sudah mendengar kejadian ini, dia berpenampilan sangat menarik dan menunggu di jalan yang pasti dilewati Ravindra saat mau ke kantor, dia pura-pura tidak hati-hati dan menabrak pak direktur, lalu dia langsung dipecat.

Mendengar hasil ini, para karyawan wanita yang sudah mau beraksi itu juga langsung seperti disiram air dingin, siapapun tidak ada yang berani bertindak macam-macam.

Tapi semua orang semakin merasa aneh, kenapa pak direktur bisa sangat peduli dengan Isabel?

Isabel di rumah sakit menerima perawatan yang paling sempurna.

Grup dokter yang paling kelas atas memberikan layanan hanya untuk dia seorang.

Isabel jalan-jalan di taman di bawah, setiap hari hanya melamun di dalam ruang pasien, dia merasa dia akan menjadi bodoh.

Tapi saat dia baru jalan tidak lama, dia langsung dikepung oleh beberapa suster.

"Nyonya, hari ini angin besar hati-hati flu, kamu sekarang sedang hamil muda lebih baik jangan kena angin sebesar ini." kepala suster juga ikut bicara: "ibu chairman sudah memberi perintah, tidak boleh membuat nyonya mengalami kejadian apapun."

Isabel melihat sekumpulan orang mengikuti dirinya, dia juga merasa sudah tidak bisa jalan lagi, dia menghentikan langkah kakinya dan berkata: "baiklah aku paham."

Isabel tidak bisa jalan di luar ruangan, jadi dia hanya bisa jalan-jalan di dalam ruangan.

Saat dia kembali ke lantai ruang pasiennya, Isabel melihat sekumpulan koki mendorong troli makanan masuk ke ruang pasiennya.

Isabel terkejut, ini mau apa?

Isabel kembali ke ruang pasiennya dengan cepat, saat dia membuka pintunya dia melihat beberapa koki sedang meletakkan belasan lauk ke atas meja makan.

Beberapa koki itu juga melihat Isabel, mereka langsung berdiri dan hormat: "nyonya, ini adalah makan siang yang diperintahkan oleh ibu chairman. Kalau nyonya tidak suka, bisa diganti dengan rasa lainnya."

Isabel melamun, hanya makan siang seorang, kenapa dipersiapkan makanan sebanyak ini?

"Tidak perlu, aku sendirian tidak bisa makan sangat banyak." Isabel langsung menjawab.

Dirinya adalah wanita yang berasal dari desa yang biasa, seketika diperhatikan oleh orang sebanyak ini, benar-benar sedikit tidak terbiasa.

"Pak direktur akan kesini menemani nyonya makan siang, ini semua adalah makan siang pak direktur biasanya." salah satu koki menjawab.

Isabel langsung merasa malu, dirinya sepertinya sedikit salah tangkap!

Tunggu, dia bilang apa? Ravindra akan ke sini makan siang?

Isabel belum sempat lanjut bertanya, dia mendengar suarapintu terbuka: "selamat siang pak direktur!"

Isabel menegakkan badannya, tidak berani menolehkan kepalanya.

Walaupun dia setuju untuk menikah dengan Ravindra, tapi di alam bawah sadarnya, dia tetap satu orang asing.

Saat masuk Ravindra melihat Isabel berdiri membelakangi dirinya, dia langsung berkata: "masih melamun apa? Makan."

Ravindra baru duduk, langsung ada orang yang mengantarkan lap tangan.

Setelah Ravindra menggunakan 3 lap, dia baru mengambil pisau dan garpunya, lalu makan dengan elegan.