Bab 8 Menikah Saja

Di saat ini, dokter yang bertanggung jawab berkata kepada Isabel sambil tersenyum: "nyonya tenang saja, anak di perut kamu sangat baik, sangat sehat!"

Muka Isabel langsung membiru, matanya membesar, dia memegang tangan dokter yang sedang memeriksa nadinya, suaranya juga sedikit gemetar: "kamu bilang apa? Anak? Kamu bilang aku hamil?"

Walaupun dia sangat suka anak kecil, dia juga sangat ingin memiliki anak, tapi dia hanya berharap memiliki anak dari Andika. Anak ini tidak seharusnya ada.

Dia mengira mimpi buruk sudah terlewati, tapi siapa yang tahu ternyata kejadian semakin buruk.

Tapi kenapa? Kenapa Tuhan sangat kejam seperti ini, masih menarik dia kembali ke kenyataan itu, membuat dia merasakan hukuman lagi?

Dan di saat ini, Ravindra di luar juga sudah mencapai puncak amarahnya.

"Tidak bisa! Nenek, aku tidak akan menikah dengan dia!" Ravindra sepertinya mau menggila: "aku tidak akan menikah dengan wanita yang sama sekali tidak aku cintai!"

Nenek Kitadara melihat Ravindra dengan sedikit dingin: "Ravindra, lebih baik kamu pikir dengan jelas! Sekarang perusahaan sedang bekerja sama dengan perusahaan Korea, tidak perlu berapa lama, direktur perusahaan itu dan istrinya akan datang ke sini. Dan yang paling mereka utamakan adalah konsep keluarga! Kalau mereka tahu kamu membuat satu wanita hamil dan meninggalkan wanita itu, menurut kamu mereka akan melihat Kitadara Finance Group seperti apa?"

Saat mendengar ucapan neneknya, Ravindra sedikit menjadi tenang.

Dia menyalakan sebatang rokok, saat dia menghabiskan rokoknya, dia sudah menjadi tenang keseluruhan.

Nenek Kitadara melihat emosi cucunya sudah stabil, dia lanjut berkata: "pendirian aku sangat jelas, kamu harus menikah dengan dia, dan bukan membiarkan dia melahirkan anaknya diam-diam dan meninggalkan mereka berdua! Perusahaan Korea itu akan menandatangani perjanjian 10 tahun dengan Kitadara Finance Group, aku tidak akan membiarkan siapapun untuk merusak perjanjian kali ini!"

"Kitadara Finance Group tidak boleh tidak ada penerusnya! Ravindra, kamu seharusnya tahu ada berapa paman kamu yang sangat menginginkan posisi direktur kamu! Kalau kamu terus tidak memiliki penerus, kalau kamu melakukan kesalahan sedikit, posisi kamu akan tergoyahkan!" dengan datar Nenek Kitadara lanjut berkata: "kalau ada masalah di internet dan eksternal, Ravindra, kamu masih tidak tahu harus berbuat apa?"

Sudah diduga Ravindra tergoyang.

Yang dibilang nenek benar.

Dia bisa duduk di posisi direktur ini, karena nenek yang membuat dia naik ke posisi ini.

Paman-paman dia benar-benar sangat kesal dengan hal ini.

Tapi performa dia selama 2 tahun ini sangat baik, membuat nilai pasar Kitadara Finance Group naik 20%, ini baru membuat mereka semua tutup mulut.

Dia bukan anak yang tidak menurut, dia hanya tidak terima urusan pernikahannya dikontrol oleh orang lain.

1 bulan lalu, berita dia dan Isabel sudah muncul 1 kali, saat itu sudah ada orang yang mengkritik, kalau kali ini tidak bisa diurus dengan baik lagi, mungkin akan benar-benar menimbulkan pengaruh negatif. Dan juga mungkin perwakilan dari perusahaan Korea sudah berpikir kalau wanita di berita itu adalah istri dia.

Dia akhirnya mengangkat kepalanya melihat neneknya, dengan lelah dia berkata: "nenek, aku bisa setuju menikah dengan dia, dan membiarkan dia melahirkan anak ini."

Nenek Kitadara baru menganggukkan kepalanya dengan puas.

Cucunya ini selalu menjadi kebanggaan terbesar dia.

Tidak hanya pintar, dia juga penurut. Mengerti yang mana yang baik dan buruk, mengerti bagaimana cara melihat keadaan.

Sebagai penerus dari keluarga Kitadara, maka harus ada kerelaan!

"Tenangkan wanita itu dengan baik, Ravindra, nenek percaya kamu tahu harus berbuat apa." Nenek Kitadara menepuk bahu cucunya, lalu dia pergi dengan puas.

Setelah Ravindra melihat neneknya pergi, dia menundukkan kepalanya, matanya yang panjang itu terdapat pikiran yang tidak bisa dibaca oleh orang.

Dia akan menikah, tapi kalau hidup bersama dengan wanita ini, itu tidak mungkin.

Hanya satu lembar kontrak pernikahan saja, Ravindra juga tidak takut.

Isabel duduk di atas ranjang sambil memeluk lututnya dan menangis, dokter dan suster di sana tidak tahu kenapa, mereka saling melihat satu sama lain.

Bisa mengandung penerus keluarga Kitadara, ini adalah hal yang sangat membahagiakan! Kenapa dia terlihat seperti sangat sedih?

Jangan-jangan dia sama sekali tidak ingin mengandung anak ini?

Tidak seharusnya????

Ravindra pelan-pelan masuk ke dalam, kakinya yang panjang dan lurus sangat cocok dengan mukanya yang tampan.

"Pak direktur???? nyonya????" dokter tidak bisa menahan diri untuk bicara.

"Aku paham. Kalian keluar saja." Ravindra mengeluarkan auranya dan menjadikan dia seperti raja, mereka semua pun menundukkan kepalanya, tidak berani membantah perintah dan keluar.

Isabel mendengar suara, dia langsung mengangkat kepalanya, dia langsung melihat Ravindra.

Saat melihat pria ini, air mata Isabel sepeti mutiara yang talinya terputus, semuanya jatuh tanpa bisa dikontrol.

Di saat ini, dia sudah tahu, pria yang berdiri di depannya ini siapa.