Bab 4 Keluarga Ini Sudah Cukup

Tapi setelah papa melihat mereka, dia mengulurkan tangannya dan dikembalikan lagi.

Hati Isabel perlahan-lahan menjadi murung, kalau papa juga tidak bisa melindungi mereka, rumah ini masih bisa ditinggali berapa lama?

Sudah bertahun-tahun, papa selalu lemah seperti ini, setiap kali mama dipukul dan dimaki oleh nenek, papa selalu berdiri di samping dan tidak punya cara, atau setelah masalah selesai dia berlutut dan minta maaf, tapi semuanya tidak bisa diubah.

Cukup! Benar-benar cukup!

Keluarga seperti ini benar-benar membuat orang putus asa.

Papa Isabel tidak berani berbicara untuk istri dan anaknya, dia hanya bisa memohon kepada nenek: "ma, kamu pukul mereka, malam ini siapa yang masak?"

Nenek Fitri langsung berteriak: "aku masih belum mati, aku masih bisa masak! Suruh mereka pergi jauh-jauh! Setelah bicara, dia langsung masuk ke dapur dan benar-benar mulai masak.

Sejak saat ini, Isabel memutuskan dia akan membawa mamanya pergi dan selamanya tidak akan kembali!

Saat Isabel mau menarik mamanya pergi dari keluarga ini, dia melihat mamanya berdiri dengan sulit, lalu langsung masuk ke dapur dan merebut pisau dari tangan neneknya: "ma, bertahun-tahun ini selalu aku yang masak, selama ada aku di sini, bagaimana bisa kamu yang masak?"

Nenek Fitri melihat mama mau merebut pisau dapur, dia mengangkat kakinya dan menendangnya, tapi kakinya langsung dipeluk oleh mama, mamanya memohon: "ma, lihat aku sudah bertahun-tahun tidak ada kontribusi di keluarga Khosasie, kamu maafkan kita kali ini ya! Isabel sudah tahu dia salah, kita tidak akan melakukan hal seperti ini lagi!"

"Umur kamu sudah tua, bagaimana mungkin kamu melakukan hal yang merepotkan seperti ini?" mama Isabel memohon tiada henti: "pekerjaan rumah di desa sangat berat, badan kamu juga tidak sanggup!"

Nenek Fitri memotong kol sekian lama, sama sekali tidak terpotong! Saat ini dia baru melirik mama Isabel, "baiklah, kamu cepat masak, nanti kamu pergi ke batu nisan nenek moyang berlutut 2 hari 2 malam!"

Isabel melihat mereka berdua di dalam dapur dan juga ayahnya yang diam-diam merokok di kursi, dia hanya merasa dirinya tidak bisa lanjut berada di sini.

Dia bangun dan membawa koper yang dibawanya tadi dan belum dibuka, lalu dia berjalan pulang lagi.

Dia harus perlu lanjut bekerja dan menghasilkan uang, sampai uangnya sudah cukup, dia akan menjemput mamanya pergi.

Di dalam mobil kembali ke kota, air matanya lagi-lagi mengalir.

Tiba-tiba HPnya muncul satu pesan: "Isabel, 2 hari ini kamu kenapa? Kenapa tidak angkat telepon aku? Aku di luar negeri lumayan baik, setelah lihat pesan ini ingat telepon aku. Dari Andika yang mencintaimu."

Isabel langsung memegang HP dengan keras, hatinya terasa sangat sakit.

Tapi, kata putus itu sangat sulit keluar dari mulutnya.

Sudah 2 tahun, perasaan selama 2 tahun, bagaimana bisa semudah itu dilepaskan? Perasaan bukan balon, ditusuk satu kali akan dianggap tidak pernah ada.

Isabel hanya bisa seperti burung unta mengurung dirinya di pojokan dan menolak telepon dari Andika berkali-kali.

Untuk mengurangi dipotongnya uang bonus dia, Isabel istirahat 1 hari, sampai luka di badannya sedikit membaik dia masuk kerja, dan lanjut melakukan pekerjannya yang tidak penting.

Setiap pagi dia bertanggung jawab untuk memesan susu, kopi dan jus buah untuk semua rekan kerjanya, dan juga dia bertugas untuk mengantar koran ke meja setiap orang.

Dan juga ada orang memberikan pekerjaannya kepada Isabel walaupun pekerjaan itu bukan milik Isabel, Isabel juga pasti akan menerimanya dan diselesaikannya dengan lembur.

Dia adalah wanita yang sangat biasa sampai sedikit rendah diri.

Tidak ada latar belakang dari sekolah ternama, tidak ada pengalaman belajar di luar negeri, bisa bekerja di perusahaan multinasional seperti ini dia sudah sangat puas.

Waktu lewat sangat cepat.

Di hari yang sibuk, membuat dia tiba-tiba merasa satu bulan lalu malam itu, pria itu, dan juga kejadian yang membuat sakit hati itu, semuanya adalah mimpi buruk.

Isabel seperti biasa mengirim kopi dan jus ke meja setiap orang, lalu dia meletakkan dokumen yang dibuatnya kemarin saat lembur di atas meja mereka.

Di saat ini, para rekan kerja masuk ke ruang kerja.

"Pagi!" Isabel menyapa mereka dengan hormat, tapi tidak ada orang yang peduli dengannya.

Isabel menarik kembali tangannya dan siap-siap kembali ke tempatnya lanjut bekerja.

Di saat ini, kepala departemen logistik tiba-tiba datang dan menyapanya: "pak direktur tiba-tiba mau rapat, semua harus kesana bantu, dan juga kamu Isabel kamu juga ikut!"

Isabel terkejut, lalu dia dengan cepat mengikutinya.

Para rekan kerja di sekelilingnya sudah terbiasa memberikan dokumen miliknya masing-masing ke tangan Isabel, lalu mereka pergi dengan tertawa-tawa.

Mereka dari awal sudah terbiasa, selama ada Isabel, mereka tiba-tiba seperti tidak punya tangan, tidak peduli urusan apapun pasti akan dikasih ke Isabel untuk dikerjakan, lalu mereka hanya perlu memeriksa hasilnya.

Untung saja Isabel juga tidak peduli, dia memegang setumpuk dokumen itu dan mengikutinya dari belakang.

Dia memegang setumpuk dokumen yang tingginya hampir melebihi kepalanya dan masuk ke dalam lift bersama orang lain, lalu dia minta maaf dengan orang di sebelahnya tanpa henti.

Saat pintu lift terbuka, Isabel mengikuti di belakang orang lain dan masuk ke ruang rapat yang sangat besar.

Di saat ini, tidak tahu siapa yang berteriak: "pak direktur datang!"