Bab 3 Dipaksa Putus

Dia sudah hancur, dia sudah tidak ada masa depan, dia dan Andika cepat atau lambat akan putus, telepon sekarang ini hanya mempercepat hari itu tiba kan?

Isabel menahan tangisannya, dia berkata di telepon: "aku mengerti, aku akan melakukan sesuatu dengan perintah kamu."

Setelah orang itu mendapatkan jawaban dari Isabel, dia baru mematikan teleponnya dengan puas.

Setelah telepon mati, Isabel berdiri di bawah teriknya matahari, dia mengangkat kepalanya dan tidak berharap air matanya keluar lagi dari matanya.

Dia merasa seluruh badannya sangat dingin, dingin yang tidak pernah ada.

Kepala seperti matahari, hati seperti rumah es.

Kejadian seperti ini yang terus-terusan terjadi, Isabel benar-benar tidak bisa memaksakan hidupnya yang seperti ini.

Dia izin dari kantornya, dan naik bus ke kampung halamannya membawa badannya yang lelah dan hatinya yang hancur.

Dia awalnya mengira dirinya pulang ke rumah setidaknya bisa menemukan ketenangan.

Tapi saat dia membuka pintu kamarnya, dia tahu, ini hanyalah harapan yang terlalu tinggi.

"Orang murahan memang hanya bisa membawa anak murahan! Lihat anak kamu itu, umur masih muda, bisa-bisanya buka kamar dengan seorang pria!"

Mama berlutut di lantai, neneknya melempar setumpuk foto ke mukanya.

Mama sudah mau terjatuh, terlihat jelas dia sudah berlutut sangat lama, mukanya juga ada luka.

Nenek lagi-lagi buli mama, hanya saja kali ini tidak tahu kenapa.

"Nek---" Isabel langsung melempar tas di tangannya ke lantai dan menghampirinya, lalu dia berlutut di depan neneknya: "nenek, mama aku salah apa lagi, sampai kamu pukul dia?"

Nenek Fitri melihat dia dengan tatapan merendahkan, tiba-tiba dia mengambil satu lembar foto di atas meja dan dilempar ke mukanya.

"Kamu masih punya muka tanya salah apa? Mama kamu tidak bisa melahirkan anak, itu adalah kesalahan terbesarnya! Anak yang diadopsinya di luar juga bukan orang yang baik-baik!" Nenek Fitri melihat dia dan mamanya dengan kesal: "hari ini ada orang langsung mengirim foto-foto ini ke rumah! Katanya kamu buka kamar dengan pria liar di hotel? Benar-benar memalukan keluarga Khosasie!"

Mendengar perkataan neneknya, dia langsung mengambil foto di lantai, foto itu ternyata adalah foto dia dan pria itu di atas ranjang!

Dia langsung melempar jauh-jauh foto itu! Ini apa! Kenapa bisa ada foto-foto ini?!

Dan juga???? foto-foto ini kenapa bisa ada di tangan nenek!

"Nenek????" dia membuka mulutnya mau menjelaskan, tapi dia tidak tahu harus berkata apa, karena semua yang ada di foto itu adalah benar!

Mamanya mencoba menjelaskan: "ma, Isabel????"

Belum juga mamanya selesai bicara, Nenek Fitri langsung memukul meja dan berteriak: "siapa yang kasih kamu keberanian untuk membantah! Orang itu sudah mengirim fotonya ke sini, jangan-jangan dia itu memfitnah anak kamu? Kamu itu seperti ayam yang tidak bisa bertelur, anak kamu itu tidak beres! keluarga Khosasie ini dosa apa bisa-bisanya mengundang kalian yang merusak moral ini ke dalam keluarga!"

Nenek Fitri mengambil gelas teh dan dilempar ke arah dahi mamanya.

Melihat Nenek Fitri mau melempar barang, Isabel langsung memutar badannya dan memeluk mamanya.

"Plak---" gelas teh langsung terlempar ke punggung Isabel, dan langsung pecah di lantai.

Isabel hanya merasakan punggungnya panas dan sakit, sakitnya seperti bukan badan dia.

"Isabel????" mama Isabel melihat Isabel menghalangi gelas teh dengan badannya, dia langsung panik dan matanya memerah: "sakit tidak?"

Isabel menggelengkan kepalanya, matanya juga memerah.

Sakit ini tidak seberapa.

Sudah bertahun-tahun ini, sakit yang mama rasakan jauh lebih berat dari ini.

Nenek Fitri mengerang, dia paling tidak bisa melihat akting ibu dan anak dari mereka berdua.

Di saat ini, TV akhirnya selesai menampilkan iklan yang panjang, dan langsung memasuki sesi berita, satu demi satu foto ditampilkan.

"Pagi ini, penerus dari Kitadara Finance Group, Ravindra diam-diam difoto membuka kamar dengan satu wanita, dari foto itu dapat terlihat kamarnya sangat berantakan dan baju memenuhi lantai????"

Nenek Fitri melihat foto Isabel di TV, dia langsung marah dan mengangkat tongkat di tangannya dan diarahkan ke mereka berdua.

"Benar-benar dosa! Buka kamar masih bisa masuk TV! Benar-benar memalukan, keluarga Khosasie kenapa bisa merawat orang murahan seperti ini! Kalian pergi! Pergi!"

Isabel juga tidak menyangka hal ini bisa masuk ke TV, tapi dia sekarang sama sekali tidak ada waktu untuk memikirkan berita ini, dia dan mamanya saling berpelukan erat, mereka menahan sambil menggigit giginya, tidak merani melawan, lebih tidak berani untuk keluar dari rumah ini.

Karena sekali keluar dari rumah ini, benar-benar sudah tidak bisa kembali lagi.

Di saat ini, ada orang dari luar masuk ke dalam, saat masuk dia langsung memanggil: "ma????"

Mendengar suara itu, mata Isabel langsung muncul secercah harapan: papa pulang!

Dia langsung melihat papanya dengan penuh penantian, dia berharap papanya bisa memohon untuk mamanya.