Bab 2 Ini Bukan Transaksi

"Tok tok tok????" di saat ini, pintu kamar diketuk, "Selamat pagi pak Ravindra, saya datang antar sarapan."

Ravindra mengerutkan alisnya, lalu dia meletakkan ceknya di atas ranjang dan buka pintu.

Sarapan sangat banyak, Ravindra melihat wanita yang ada di ujung dan berkata: "makan dulu."

Hasilnya, wanita itu masih menangis. Ravindra juga tidak berbicara banyak, dia makan sendiri dan berkata: "kejadian kemarin malam, aku kasih kamu 10 miliar, kamu tidak boleh kasih tahu orang lain."

Di saat ini, Isabel langsung mengangkat kepalanya! Dia terkejut melihat pria asing ini, apanya 10 miliar? Dia anggap dia ini menjual dirinya?

Pria ini tidak tahu bagaimana cara dia mengusir Andika dan datang ke kamar ini untuk???? sekarang bisa-bisanya kasih dia uang untuk menghina dia????

Isabel semakin memikirkannya semakin sedih, walaupun dia benar-benar ditiduri, dia bersikeras tidak mau menerima uang ini.

"Kamu tenang saja, masalah ini aku tidak akan sebarkan."

Dia bagaimana mungkin sebarkan!

Dia diam-diam mengambil baju di lantai dan pergi ke toilet.

Melihat dirinya di cermin yang rambutnya berantakan dan matanya memerah. Dia sangat terlihat menyedihkan, benar-benar tidak menyangka kejadian akan berubah jadi seperti ini.

Saat Isabel pergi, Ravindra masih memakan rotinya dengan santai, seperti tidak peduli dengan kepergian dirinya, hanya saja cek itu masih sendirian terbaring di atas ranjang.

Saat baru keluar dari hotel Hilton, HP Isabel berbunyi, ada pesan dari Andika.

"Isabel, kemarin malam aku tunggu kamu di kamar semalaman, kamu tidak datang. Kamu ada urusan jadi tidak bisa datang ya? Tidak apa, aku akan lanjut menunggu. Aku sudah mau terbang, nanti saat aku pulang aku akan bawakan kamu hadiah. Dari Andika yang mencintaimu."

Isabel terkejut, dia sama sekali tidak ada di kamar, kenapa dia bilang dia di kamar tunggu semalaman? Sebenarnya ada salah dimana?

Jangan-jangan Jennifer salah kasih kartu kamar? Atau??.. tidak, tidak mungkin, bagaimana mungkin Jennifer bisa melakukan hal seperti ini.

Isabel menyimpan HPnya, dia melihat kendaraan yang macet di luar, tiba-tiba merasa sedikit sedih, mungkin saat Andika pulang, mereka juga sudah tidak bisa kembali bersama lagi?

Mungkin, berakhir seperti ini juga baik.

Saat Isabel memikirkan akan berpisah dengan Andika, hatinya sangat sakit, dan membuat badan dia sedikit gemetar.

Semuanya ini, terjadi di kemarin malam.

Jennifer, apakah benar kamu?

Di telepon terdengar suara "nomor yang anda tuju sedang tidak aktif", saat ini, Isabel baru sadar dirinya sudah menelepon nomor Jennifer.

Sayang tidak ada yang mengangkatnya.

Dia berjalan sambil mengingat semua tentang dirinya dan Andika.

Dimulai dari pertama pacaran, sampai kemarin senang dengan gugup, semua ingatan yang indah seperti di dalam film, semua hal terasa sangat baru, tapi sekarang berubah menjadi sangat jauh.

Kemarin malam mereka masih bercanda membahas pernikahannya di masa depan, dia juga menjamin di dalam 2 tahun ini setiap hari akan menelepon dan mengirim pesan, membuat Isabel bisa mendengar suaranya dan melihatnya seperti apa.

Tapi semuanya ini sudah berubah menjadi harapan yang tidak bisa terwujud.

Apakah dia benar-benar masih bisa menelepon dan mengirim pesan dengan dia seperti tidak terjadi apa-apa?

Sudah tidak bisa????

Mereka juga tidak bisa ada acara penikahan, tidak bisa punya anak????

Sudah tidak ada, semuanya sudah tidak ada????

Sebuah suara rem mobil yang nyaring dan suara HP yang berbunyi memotong lamunannya, dia langsung tersadar, dia melihat dirinya sudah berada di tengah-tengah jalan, ada sebuah mobil yang berjarak sangat dekat dan hampir menabrak dirinya.

Isabel langsung tersandar dan mundur ke pinggir jalan, dan melihat mobil itu pergi lagi.

Suara HP masih terus terdengar, dia melihatnya, ternyata adalah mama Andika yang telepon.

Dia langsung menghapus air mata di mukanya dan mengangkat teleponnya: "tante????"

Tanpa menunggu Isabel selesai menyapa, telepon itu langsung memotong perkataan Isabel dengan dingin.

"Nona Isabel kamu juga sudah lihat, Andika sekarang dikirim ke luar negeri untuk belajar lebih lanjut oleh perusahaannya, saat nanti dia pulang, harga diri dia tentu saja sudah tidak sama. Dulu saat kalian bersama, dari awal aku sudah tidak setuju, hanya saja karena Andika suka kamu, jadi aku juga tidak berkata apa-apa. Karena sekarang kalian sudah tidak berada di satu kota yang sama, aku berharap nona Isabel bisa berinisiatif untuk meninggalkan Andika, dan jangan mengganggu Andika lagi."

Jari Isabel yang memegang HP sedikit gemetar.

"Aku juga tidak sembunyikan dari kamu, kali ini Andika ke luar negeri bersama satu wanita. Latar belakang keluarga wanita itu sangat bagus, ke depannya akan sangat bisa membantu Andika. Dan juga dia sangat suka dengan Andika, kesempatan ke luar negeri kali ini juga dia yang rekomendasikan, jadi kita semua sangat suka dia menjadi menantu di keluarga Susanto. Nona Isabel dari desa kan? Identitas seperti ini bagaimana cocok dengan Andika? Kalau kita yang halangi, mungkin Andika tidak akan setuju putus, tapi kalau nona Isabel yang inisiatif mau putus????"

Mama Andika hanya berbicara sampai situ. Mereka semua orang pintar, walaupun tidak dibilang, dia juga tahu maksud dari perkataan itu apa.

Dia dan Andika jelas-jelas benar-benar saling cinta, kenapa semua orang di dunia mau memisahkan mereka?