Bab 1 Salah Meniduri Orang

Isabel merasakan kehangatan di pelukan dia dan tidak bisa menahan dirinya untuk masuk ke pelukannya yang lebih dalam. Walaupun kemarin malam tidak istirahat semalaman dan membuat seluruh badannya lelah, tapi Isabel sama sekali tidak menyesal.

Sudah bersiap-siap sekian lama, dia mau menyerahkan dirinya sebagai hadiah yang paling berharga!

Sudah berpacaran selama 2 tahun bersama Andika, setiap kali Andika mau beradegan panas dengannya pasti dia tolak dengan halus, dia tidak mau menyerahkan dirinya semudah itu.

Tapi kali ini tidak sama, Andika besok mau ke luar negeri, dan juga Isabel berulang tahun yang ke 23!

Di hari yang sepenting ini, di bawah saran teman baiknya dia memesan kamar suite di hotel Hilton, lalu menyerahkan dirinya untuk pertama kalinya kepada pacarnya.

Isabel merangkul pinggangnya dengan senang, wah, tidak menyangka badan Andika sebagus ini.

Tidak gemuk, tidak kurus.

Benar-benar sangat pas!

"Wah???? Dina, kamu sudah bangun?" pria di atas kepalanya: "kemarin malam benar-benar merepotkan kamu."

"Jangan bicara seperti itu Andika, aku ini juga bersedia." Isabel memeluk pinggang dia dengan erat, dan menjawabnya dengan manis.

Dina?????

Andika?????

Isabel dan pria yang dipeluknya terkejut bersamaan, mereka melamun selama 3 detik, lalu langsung dilepaskan, di tengah kepanikan Isabel menyalakan lampu disebelah ranjang.

Setelah lampu menyala, Isabel melihat muka yang sangat asing, dia pun langsung berteriak: "kamu siapa!"

Dia mengangkat selimut dan menutupi seluruh badannya, "kamu kenapa ada di sini?"

"Ini kamar aku! Kamu siapa? Kenapa ada di sini?" muka pria itu penuh dengan kekejutan.

Kepanikan langsung mengalir ke hati Isabel, "ini kamar 1216, teman baik aku yang kasih kartu kamarnya sendiri ke aku, pria di kamar ini seharusnya adalah pacar aku????"

"Hmm!" Ravindra merasa ini adalah alasan yang paling rendah yang pernah didengarnya, dengan kekayaan dia, sangat banyak wanita yang mau naik ke ranjangnya, hari ini bisa-bisanya dia bertemu dengan orang yang mengaku tidak bersalah! "kamu bahkan sudah investigasi nomor kamar aku dengan jelas, memangnya bukan demi naik ke ranjang aku? Masih cari alasan, bilang saja kamu berapa uang berapa!"

Sindiran pria itu sangat menusuk hati Isabel, tetap juga membuat dia menjadi tenang sedikit, kemarin malam sebenarnya terjadi apa?

Dia ingat dia minum-minum bersama teman baiknya Jennifer, karena malam Jennifer mau terbang ke Milan untuk ikut acara fashion show, untuk merayakan dia lagi-lagi naik ke panggung internasional, dan juga untuk merayakan ulang tahun dirinya yang akan tiba.

Dia minum lumayan banyak, Jennifer terus-terusan menghasut dirinya untuk cepat-cepat bertemu Andika, karena Andika mau ke luar negeri 2 tahun, lalu dia menyetujuinya, lalu dia mengambil kartu kamar yang diberi langsung oleh Jennifer dan langsung masuk ke kamar.

Tapi kenapa pria di dalam kamar bukan Andika!

"Apanya berapa uang? Aku tidak mau uang, Andika dimana!"

Ravindra mengerutkan alisnya, wanita di depannya ini benar-benar sedikit aneh, tadi dia juga sepertinya menyebut "Andika"? jangan-jangan mereka dijebak!

Kemarin malam jelas-jelas dia sudah janji dengan Dina, ada orang yang masuk ke kamar, saat itu lampu tidak nyala, dan parfum di badannya adalah parfum yang selalu digunakan oleh Dina, maka dia mengira Dina yang datang, tapi ternyata yang datang adalah wanita di depannya ini.

Dia baru mau bertanya, tiba-tiba HPnya berbunyi, dia melihatnya dan ternyata Dina yang telepon.

"Dina, kenapa?"

Di telepon itu terdengar suara Dina yang penuh dengan maaf: "Ravindra maaf ya, kemarin malam aku mendapat undangan dari Milan, mereka mengundang aku untuk jadi model. Kemarin malam jam 8 aku terbang ke Milan, kamu tahu jadi model adalah mimpi dan target aku, aku tidak mau melewatkan kesempatan ini, kamu maafkan aku ya? Oh ya, kemarin malam aku kasih kamu hadiah, anggap saja kompensasi, kamu puas tidak?"

"Hadiah?" Ravindra melihat wanita yang mengenakan mantel mandi dan mencari Andika di seluruh kamar, matanya sedikit tidak mengerti.

"Iya, hadiah ini aku pilih dengan hati-hati, dia juga masih perawan, pengalaman kemarin malam bagaimana?" Dina bertanya dengan hati-hati.

"Tentu saja bagus, ada pacar yang sangat perhatian seperti ini bagaimana tidak bagus? Karena kamu sangat suka menjadi model, jadi tunjukan performa yang baik di Milan ya." setelah bicara Ravindra langsung mematikan teleponnya.

Di saat ini, Isabel sudah mencari di seluruh kamar dan tidak menemukan Andika, dia sudah tidak bisa tenang!

Dia bisa-bisanya tidur bersama pria asing semalaman, dia nanti ketemu Andika mau taruh muka dimana.

Air matanya pun terjatuh, dia jongkok di ujung tembok, dan sama sekali tidak peduli dengan pria yang matanya rumit dan sedang menatapnya.

Ravindra menyimpan HPnya, tidak peduli wanita ini sebenarnya kenapa, tapi dia jelas bukan datang untuk menemaninya, hadiah yang dikasih Dina mungkin bukan dia. Tapi, tidak peduli dia siapa, kejadian yang terjadi hari ini tidak boleh disebarkan keluar.

Dia mencari jaketnya dan mengeluarkan buku cek, lalu dia menulis angka dan dirobeknya, uang sebanyak ini, seharusnya cukup untuk uang tutup mulut kan?